Orang Kalimantan Turun dari Surga?






Nak Dare Sambas Jadi Burung Ruai

Salah satu suku adat dan beradat yang tinggal di tepi laut Kalimantan bagian barat, orang Sambas sebagai salah satu kelompok Melayu Tinggi nan Tua punya cukup banyak cerita perihal asal mula manusia. Cerita ini barangkali bisa sama dengan cerita di tempat-tempat lain: menunjukkan bahwa orang Sambas telah memiliki kontak dgn suku bangsa atau memiliki asal yang sama dengan suku bangsa yang lain.

Dalam sebuah cerita yang paling masyhur, Tan Nunggal, dikisahkan bahwa salah satu bentuk asal mula orang Sambas adalah bambu/ buluh hutan. Asal mula manusia yang berasal dari alam banyak ditemukan di dalam cerita-cerita orang Timur. 

Ada yang bermula dari tumbuhan, ada pula yang bermula dari hewan. Tetapi, ada hal yang menarik. Di dalam cerita, selain menjelaskan asal-usul manusia, juga terdapat kisah yang menjelaskan asal usul hewan maupun tumbuhan yang justru berasal dari manusia. 

Salah satu cerita yang masyhur adalah asal mulai burung Ruai. Dalam cerita burung Ruai yang kerap dikisahkan bonda waktu saya kecil, ada seorang anak bongsu yang diperdaya oleh kakak-kakaknya karena mereka iri sebab ayahanda lebih menyayangi si bongsu daripada yang lain. 

Kakak-kakaknya mengajak si bongsu pergi ke hutan, namun mereka meninggalkan si bongsu. Si bongsu tidak dapat pulang ke rumah, sebab tidak tahu jalan pulang. Saban hari tinggal di hutan, bulu-bulu pun tumbuh di seluruh tubuhnya dan akhirnya berubah menjadi seekor burung Ruai.

Dari pemaparan singkat yang saya kemukakan di atas, tampak bahwa alam pemikiran filsafat manusia timur bergantung pada alam tempat tinggal mereka dan alam pemikiran yang bersumber dari alam ini pun juga digunakan oleh manusia dari belahan bumi yang lain.

Kemudian, timbul sebuah pertanyaan, mengapa orang-orang Sambas memilih alam semesta  ketimbang menggunakan akal imajinya sebagai penjelasan asal mula manusia? 

Perlu diterangkan bahwa kemampuan berpikir manusia berubah dari waktu ke waktu. Perkembangan itu pun dipengaruhi oleh pelbagai faktor, tapi yang pling primer di antaranya adalah perubahan pola konsumsi: bagaimana manusia memeroleh makanannya. 

Orang-orang Sambas, suku orang Laut yang mayoritas tinggal di dekat aliran sungai Sambas, menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di sungai maupun laut. Pada mulanya mereka tidak mengenal padi sebagai bahan makanan pokok. 

Tinggal dan berkomunal di dekat sungai/ laut, maka satu-satunya sumber karbohidrat mereka adalah tanaman sagu. Tapi sayangnya, makanan dari sagu mulai hilang dari ingatan kolektif orang Sambas sebagai makanan pokok di masa lalu. Malah, yang menjadi trade mark atau kekhususan orang Sambas adalah bubor paddas, makanan yang semua sumber bahannya diambil dari ladang/ bekas ladang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di tempat basah. 

Selama hidup di sungai dan laut, tampaknya orang Sambas belum memikirkan konsep asal mula manusia. Namun, di fase ini, orang Sambas mulai memercayai adanya mahkluk-mahkluk gaib yang hidup bersisian dengannya. Hal ini tampak melalui gubahan lirik lagu Alon-alon, sebuah lagu lulabi untuk meninabobokan bayi ( Allahyarhamah nenenda kerap menyanyikan ini semasa hidupnya). 

Menurut penuturan bonda, orang-orang laut ini kemudian berpindah ke darat. Pada mulanya mereka hanya datang ke darat untuk mengerjakan umme selama beberapa bulan. Setelah panen, mereka kembali lagi ke kampungnya yang berada di pinggir sungai. 

Tapi, lama kelamaan orang-orang laut ini pun pindah menetap ke darat. Persis yang leluhur saya lakukan ratusan tahun lalu. Nah, ketika intensitas tinggal di darat lebih banyak dibandingkan di laut, maka muncullah cerita-cerita yang berkaitan dgn asal mula manusia Sambas. Berasal dari buluh di hutan, ataupun cerita asal mula burung Ruai yang berasal dari manusia.

Sambas, 18 hari bulan  Syawal 1441 H
Bagus HM

Comments

  1. Cerita rakyatnya hampir mirip dg kisah Nabi Yusuf yg dicelakai oleh saudaranya lantaran sang ayah lebih menyayangi Nabi Yusuf

    ReplyDelete

Post a comment