SALING SERANG ANIES VS PUSAT (STRATEGI ANIES JELANG PILPRES 2024?)








Selamat malam dan apa kabar tuanku sekalian? Kembali lagi ke channel Vox Indonesia
Your Truly Partner for Idea Reconstruction 

Anyway, bagaimana aktivitas ibadah puasa tuanku sekalian?
Semoga tetap lancar, yaa, walaupun sekarang jumlah penderita covid makin lama makin meningkat,
ditambah lagi dunia pasar modal yang sedang gonjang ganjing. 

Pada saat ini narasi keluhan  mencuat dari semua sisi: 
tinggal memilih untuk kontemplasi berdiam diri sejenak atau makin tambah
gelisah sebab terlarut dalam kekhawatiran massal. 

Mei tahun ini betul-betul kejutan. Menurut penuturan bunda, baru kali ini umat manusia
dilarang dan menahan diri bergerak justru di tengah-tengah oase kerinduan spiritual yang memuncak
di bulan Ramadhan. Walaupun sebenarnya kejutan di Mei tahun ini mencontek
semua beban penderitaan yang terjadi dua puluh dua tahun lalu ketika republik melahirkan reformasi.

Masih di bulan Mei, dua puluh dua tahun lalu, tahun 1998. Kala itu saya baru masuk kelas 1 SD. Tidak banyak
yang saya pahami mengenai gejolak batin orang-orang tua, termasuk almarhum kakek yang merupakan loyalis Golkar sejati. 
Dalam ingatan cuma ada satu fragmen, di subuh hari, saya dituntun bunda pergi menginap ke rumah warga di ujung gang.
Sambil wanti-wanti dan penuh cemas: di luar sana ayah dan orang-orang kampung melakukan tindak kejahatan genosida
yang tampaknya terampuni oleh hukum dengan maklum.

Anyway, dalam masa pandemi ini, di tengah hiruk pikuk penanganan dan pencegahan penyebaran Covid 19, 
dunia politik pun sebenarnya masih punya panggung sendiri. Apalagi di tahun ini akan dilaksanakan
pilkada serentak, otomatis para petahana punya kesempatan besar untuk tampil 
sebagai penyelamat. Namun tidak hanya itu, jika tuanku sadar,
pemegang kekuasaan definitif pun tampaknya melakukan tindakan yang serupa.

Bukan untuk menghadapi pilkada, barangkali untuk menuju kursi kekuasaan yang lebih besar.
Kursi RI 1 misalnya. 
Nah, salah satu pemegang kekuasaan definitif yang cukup menarik untuk dibahas 
dalam podcast kita kali ini adalah Gubernur DKI Jakarta
Anies Rasyid Baswedan. 

Sebelum kita menganalisis salah satu tokoh penting ini,,
kita lihat dulu kasus perkembangan Covid di Jakarta, ibu kota yang menjadi
episentrum penyebaran covid di Indonesia.

Kasus 01 positif covid ditemukan pada seorang warga yang melakukan kontak dengan warga negara Jepang
pada 14 Februari 2020. Pasien 01 kemudian menularkan kepada ibunya, sehingga
mereka dirawat di RS Sulianti Suroso, Jakarta.

Adapun pemerintah RI melalui Presiden Joko Widodo 
baru mengumumkan kasus pertama Covid 19 pada tanggal 2 Maret 2020. 
Hingga 15 Mei 2020, kasus corona di Jakarta mencapai 5679 kasus.
Jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. 
Anyway, sebenarnya siapa pun gubernurnya pasti memiliki kendala dalam menghadapi Covid 19.
Namun, bagaimana dengan Anies BAswedan?

Nah, di sini lah uniknya. 
dihimpun dari Detik News, saling serang Anies dgn pemerintah pusat berlatar belakang isu bantuan sosial, 
isu pembatasan sosial berskala besar, , hingga isu transparansi soal data Covid 19. Pihak-pihak
yang terlibat dalam aktivitas saling serang ini adalah Menteri Sosial Bapak Juliari Batubara, Menko Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendy, dan tentu saja Gubernur DKI, Anies Baswedan. 

Menteri Sosial, Bapak Juliari Batubara mengungkapkan bahwa penerima bansos di DKI menerima paket dobel.
"Banyak sekali bantuan sembako Kemensos ini ternyata sudah terima bantuan dari Pemprov DKI. Pada saat rapat, kesepakatan 
awalnya tidak demikian," Uangkap Juliari Batubara dalam rapat dengan Komisi VIII DPR RI.

Ternyata tidak hanya dengan Mensos, Anies juga berseteru dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. 
Masalah ini terkait anggaran bansos terhadap 3,7 juta warga DKI.
"Kami dapat laporan dari Menko PMK, DKI yang tadinya cover 1,1 juta, ternyata tidak punya anggaran
dan minta  pemerintah pusat yang cover" Uangkap Sri Mulyani dalam Raker bersama Komisi XI DPR.  


Nah, puncaknya waktu Anies mengungkapkan kekesalannya terhadap Menkes Terawan kepada media asing.
Media Sydney Morning Herald menulis bahwa Gubernur DKI ini sudah sadar dan mengendus keberadaan virus sejak Januari 2020. 
Dalam wawancara itu, Anies curhat bagaimana saat kasus mulai terbaca dan melonjak, namun pemda belum diizinkan melakukan 
tes kepada warganya. 

"Dari sisi kami, transparan dan mengatakan sebenarnya ke publik adalah bentuk memberikan rasa aman bagi warga.
Namun Menkes memandang berbeda," Ungkap Anies.

Well, well, well, hampir semua menteri di Kabinet Jokowi berselisih paham dengan Anies.
Apa ini tanda-tanda kemunculan rivalitas cebong dan kampret jilid 2?

Cuma netizen mahabenar yang tau.

Okay, demikianlah podcast kita kali ini. Semoga tuanku sehat selalu, tetap jaga kesehatan.
Sampai jumpa di episode Vox Indonesia selanjutnya!
Tabe!

Comments