Ningrat Terakhir di Republik




Oleh Bagus HM

Bulan puasa sudah berjalan selama 22 hari. Tidak banyak yang berubah, selain kurva 
positif Covid yang makin meningkat, dunia pasar modal yang pancaroba, dan narasi keluhan yang mencuat dari semua sisi: 
tinggal memilih untuk kontemplasi berdiam diri sejenak atau makin tambah
gelisah sebab terlarut dalam kekhawatiran massal. 

Mei tahun ini betul-betul kejutan. Menurut penuturan bunda, baru kali ini umat manusia
dilarang dan menahan diri bergerak justru di tengah-tengah oase kerinduan spiritual yang memuncak
di bulan Ramadhan. Walaupun sebenarnya kejutan di Mei tahun ini mencontek
semua beban penderitaan yang terjadi dua puluh tahun lalu ketika republik melahirkan reformasi.

Masih di bulan Mei, dua puluh tahun lalu, tahun 1998. Kala itu saya baru masuk kelas 1 SD. Tidak banyak
yang saya pahami mengenai gejolak batin orang-orang tua, termasuk almarhum kakek yang merupakan loyalis Golkar sejati. 
Dalam ingatan cuma ada satu fragmen, di subuh hari, saya dituntun bunda pergi menginap ke rumah warga di ujung gang.
Sambil wanti-wanti dan penuh cemas: di luar sana ayah dan orang-orang kampung melakukan tindak kejahatan genosida
yang tampaknya terampuni oleh hukum dengan maklum.

Akibat Mei 1998 dan tahun-tahun setelahnya, saya kadang kelu sendiri saat bertemu dengan penyintas yang tiba-tiba nyeletuk:
"Waktu itu saya udah pasrah," atau saya yang tiba-tiba sadar kalau yang bersangkutan masih trauma dengan masa lalu. Kisah 
yang barangkali tidak akan diusut tuntas, namun menjadi catatan sejarah bangsa yang tidak mungkin bisa dihapus dan dilupakan. 
Kala bernostalgia dengan perubahan dua dekade dengan kejutan yang sama-sama bangsatnya, seorang kerabat tiba-tiba berkirim pesan Whatsapp.
"Bang, makna ningrat sesungguhnya seperti apa sih?"

Saya tarik napas perlahan. Di tengah kekacauan pandemi, masih ada seseorang yang sempat-sempatnya berpikir perihal definisi ningrat.
Barangkali itu terlalu mengganggu pikiran, maka itu langsung dikemukakannya kepada saya. Maka saya pun menjelaskan dengan sederhana. Tapi
celakanya hal itu juga yang menggiring saya untuk menulis esai ini, menjelaskan fenomena privilese kaum ningrat di negara republik yang baru saja
melahirkan anak pertamanya yang bernama reformasi. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rujukan standar bagu saya dalam menyintesis definisi, ningrat diterjemahkan sebagai golongan orang-orang
yang mulia, bangsawan, dan borjuis. Secara teknis, ningrat adalah kelompok yang mendapat keuntungan (secara langsung maupun tidak) dalam sebuah pemerintahan.
Disebut kelompok karena memang sifatnya yang komunal, diwariskan lewat keturunan sehingga jumlahnya makin banyak dari generasi ke generasi. 
Jika merujuk pada salah satu  karya agung masyarakat Jawa, Serat Sestrojendro Hayuningrat Pangruwating Diyu, ningrat bermakna kedamaian atau keselematan. 
Tetapi, bagaimana ceritanya  ningrat yang "seharusnya" memiliki citra baik sesuai maknanya, dijungkirbalikkan sedemikian rupa oleh alam manusia modern? 
 
Salah seorang novelis India, Amish, mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Syiwa bahwa pada mulanya pengultusan terhadap seseorang betul-betul dilihat dari
kemampuannya dalam memecahkan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Kemampuan ini, dalam bentuk apapun, membuatnya jadi terpandang
dan memiliki tempat di mata masyarakat. Orang-orang yang memiliki kemampuan sebagai problem solving inilah yang dinamakan ningrat yang seutuhnya. 
Lalu kemudian, bagaimana ceritanya anak dan keturunan si ningrat generasi ningrat yang pertama ini "ikut" menjadi ningrat? 

Nah, di fase inilah sistem privilese bekerja. Privilese adalah hak istimewa yang dimiliki oleh seseorang tanpa harus berusah-payah mengupayakannya.
Seekor anak elang yang sehat pasti memilki orang tua yang kuat dan trengginas. Seekor anak kera yang tumbuh sehat pasti memiliki orang tua yang selalu
bermain dan menjaga anak-anaknya. begitu juga dengan ningrat, seorang anak yang lahir dan besar dari orang tua yang memiliki banyak akses terhadap penguasaan
ilmu pengetahuan dan sumber daya alam, akan tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa. 

Ningrat dalam catatan sejarah lahir dan muncul selalu dalam pertumpahan darah dan tebasan pedang. Pergantian kekuasaan tidak pernah berjalan dengan
damai. Sebab tentu saja, hanya ada satu klan dari semua klan keturunan ningrat yang hanya bisa memegang kendali terhadap hak istimewa pemerintahan. 
Lalu bagaimana dengan ningrat-ningrat lain yang tidak lagi menicicpi kue-kue kekuasaan di pusat istana? Maka yang terjadi adalah 
mereka melepaskan embel-embel nama dan segala bentuk gelar yang dulu pernah nenek moyang mereka miliki: kemudian berbaur di masyarakat menjadi orang-orang biasa
yang kehilangan privilese dan kembali bersusah payah menghadapi sengkarutnya kehidupan. Walaupun nanti mereka bisa kembali menjadi ningrat. 
Tentu tanpa tebasan pedang dan tumbuh besar di alam republik. 

Indonesia adalah sebuah republik yang lahir dari rahim kaum ningrat. Di akhir abad 19, jumlah kalangan ningrat yang memiliki akses terhadap pendidikan Belanda
bertambah banyak. Barangkali sebab terpengaruh dengan pandangan barat yang egaliter dan liberal, kalangan ningrat menggugat dirinya sendiri. Mereka menggugat kemapanan 
yang sudah mereka miliki  karena merasa tengah berada di bawah  kuasa yang lebih tinggi. Lalu apa yang terjadi? Walaupun tidak sesederhana yang diceritakan dalam esai
ringkas ini: republik lahir. 

Jika diukur dari kerajaan Kutai di abad 4, maka kaum ningrat sudah menjadi penguasa di nusantara selama 15 abad dan hanya butuh waktu kurang dari seratus tahun,
Hindia Belanda yang di dalamnya terdiri atas ratusan ningrat-ningrat lokal terjungkir balik dan berubah menjadi sebuah bentuk negara baru yang
digemari kaum modern. 

Walaupun tidak terbabat habis, ningrat dan kuasanya hanya menyisakan sebuah daerah istimewa yang pada saat ini masih dikendalikan oleh keturunan Sultan Agung dari abad 18.
Di Yogyakarta, kaum ningrat itu mengelola pemerintahan secara legal dalam payung hukum dan legalitas yang diberikan (lebih tepatnya
dikompromikan) dengan republik. 

Lalu, bagaimana dengan ningrat yang lain? Seperti sudah saya kemukakan di atas perihal kemunculan kaum ningrat. Pada hakikatnya republik adalah
wadah yang melahirkan ningrat generasi baru. Mereka tidak lagi muncul sebagai kelompok orang yang cuma mendapatkan hak istimewa dari garis keturunan,
melainkan juga bisa memeroleh privilese itu dari kesamaan pandangan dan ideologi.

Comments