Transformasi Karya Sastra Para Raja





Tahun 2012, waktu itu baru masuk semester lima, saya datang ke Yogyakarta untuk ke sekian kalinya. Kedatangan kali itu bukan hendak berpakansi sebagaimana kebiasaan awam, melainkan hendak menghadiri sebuah majelis yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).  Majelis yang bernama Simposium Pernaskahan Nusantara itu dilaksanakan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PPKH) Universitas Gadjah Mada.

Simposium dilaksanakan selama beberapa hari dengan beberapa pemateri dari luar negeri. Sebagian di antaranya adalah peneliti, sebagian lagi adalah pakar konservasi naskah kuno. Pada sebuah sesi panel, seorang profesor perempuan dari ISI Yogyakarta mengemukakan sebuah makalah perihal transformasi naskah.  Dari semua sesi panel, materi ini adalah salah satu yang terbaik, selain materi yang disampaikan oleh Prof. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia. Pada kesempatan itu, profesor dari ISI menyampaikan hasil kajiannya terhadap naskah-naskah yang ada di Pura Paku Alaman Yogyakarta. Naskah yang berupa narasi diubah sedemikian rupa hingga menjadi gerak tari yang harmonis. Waktu itu saya terkejut, ternyata naskah kuno yang hanya dipahami segelintir pakar bisa diubah ke dalam bentuk yang aktual: yang bisa dipahami oleh kaum muda di segala tingkat usia.

Transformasi tari yang diangkat dari naskah kemudian digelar pada saat penutupan. Turut hadir serta Paku Alam dan salah seorang dosen saya, Prof. Dr. Chairil Effendy, di acara penutupan yang dilaksanakan di Bangsal Sewatama Pura Paku Alaman. Gerakan tari begitu gemulai, diiringi gamelan yang ritmis di malam yang mulai gelap. Tidak seperti tari-tari Beksan Wanara khas Keraton Yogyakarta yang begitu maskulin, tari hasil transformasi ini sangat lembut dan feminin.

Berkaca telaah yang dilakukan terhadap naskah di Pura Paku Alaman, masih begitu banyak kegiatan serupa yang bisa digarap pada naskah-naskah kuno yang tersimpan di kerajaan/kesultanan lain. Sebagai sebuah contoh, di Kesultanan Sambas.

Ada dua naskah di Kesultanan Sambas yang cukup masyhur, yakni Silsilah Radja Sambas dan Asal Radja Sambas. Keduanya memiliki kisah yang serupa. Silsilah Radja Sambas ditulis oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II di awal abad 20. Naskah ini mengisahkan asal mula Kesultanan Sambas hingga pergantian tampuk kepemimpinan ke beberapa generasi selanjutnya.

Tidak seperti yang dilakukan oleh dosen ISI Yogyakarta, aku yang kebetulan pada saat ini bekerja sebagai dosen di Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas bersama para mahasiswa mentransformasi naskah menjadi bentuk visual berupa komik. Selain itu, naskah juga digubah ke dalam bentuk naskah drama. Sebagai proyek terakhir, naskah diubah ke dalam bentuk film.

Upaya mentransformasi karya sastra, khususnya naskah kuno, ke dalam bentuk yang modern menjadikan sebuah naskah tetap lestari sepanjang masa. Terlepas dari sekadar perubahan bentuk, transformasi karya ke dalam bentuk-bentuk data digital membuat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya lebih mudah ditransfer ke orang banyak dan ke generasi yang akan datang. 

*atas kebaikan hati seorang bangsawan tinggi jualah, aku bisa mendapatkan naskah yang dimaksud.


Kampong Tuan Tuan, enam hari bulan Jumaidil Akhir 1441 H
Bagus H.M. 

Comments