Sepak Terjang Pendatang Arab di Hindia Belanda







Kontak antara masyarakat lokal dengan penduduk luar telah berlangsung dalam waktu yang cukup panjang. Dalam beberapa rujukan disebutkan bahwa raja Sambas sebelum masa kesultanan yang bernama Ratu Anom Kesuma Yuda telah memeluk agama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam telah masuk wilayah kekuasaan Sambas pada abad 14-15. Bahkan bisa lebih tua daripada itu, mengingat Sambas merupakan kerajaan yang berdaulat di sebagian wilayah Laut Cina Selatan. Masuknya Islam sebagai agama beberapa anggota kerajaan menunjukkan bahwa kontak antara Sambas dengan orang-orang Arab terjadi secara kontinu.

Kedatangan orang-orang Arab ke wilayah Sambas, ditengarai sebab motif ekonomi. Pada masa itu, di era prakesultanan dan kesultanan, Sambas menghasilkan pelbagai hasil hutan, rempah, serta barang-barang tambang yang bernilai tinggi. Bahkan, di dalam jurnal yang ditulis pada awal abad 19, disebutkan bahwa Sambas merupakan kerajaan yang menghasilkan berlian dengan kualitas terbaik di wilayah Hindia Belanda.

Selain sebab motif ekonomi, masifnya kedatangan orang-orang Arab ke wilayah nusantara juga diakibatkan oleh tekanan politik yang ditujukan kepada kelompok ahlulbait di Hadramaut. Sejak abad 15 awal, kerajaan dengan corak Islam (dikenal dengan nama kesultanan) tumbuh pesat. Kedatangan orang-orang Hadramaut ini justru menjadi hal yang bagus, mengingat kerajaan-kerajaan yang baru berkembang itu membutuhkan ahli agama. Untuk menjadi penasihat, maupun pemberi legitimasi atas kekuasaan yang raja miliki.


Di dalam catatan sejarah, belum ditemukan peran khusus orang Hadramaut dalam pentas kekuasaan raja-raja Sambas. Beberapa nama terkenal, seperti Syaikh Abdul Jalil al Fatani berasal dari Pattani, Thailand. Kemudian Syaikh Ahmad Khatib Sambas, pendiri Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang juga dikenal sebagai guru sufi ulama nusantara justru berasal dari Sambas. Tidak seperti di kerajaan lain, yang menjadikan orang-orang Hadrami punya posisi tinggi, di Sambas mereka menjadi pedagang biasa. Menetap dan berbaur dengan masyarakat lokal. Sebagian besar mereka menetap di dekat sungai yang pada saat ini dinamai Kampong Dagang. Berdasarkan beberapa sumber, Kampong Dagang pun tidak didiami oleh kelompok Hadrami saja. Ada juga keturunan India, Pakistan, dan lain-lain yang menetap di situ hingga kini.

Walaupun tidak tercatat sebagai kelompok yang punya pengaruh secara politik, ternyata kedatangan kelompok Hadrami mewarnai corak busana masyarakat tempatan. Oleh orang-orang Sambas, pakaian pedagang-pedagang Hadramaut yang khas dengan peci bersorban, jubah putih, jas, dan sepatu, diimitasi sebagai pakaian untuk datang ke majelis adat yang agung dan mulia, Majelis Besapprah di Tarub. Tampak pada foto pertama, sampul buku De Jongh yang mengisahkan orang-orang Hadramaut yang hijrah ke Hindia Belanda. Adapun di foto kedua adalah orang Sambas yang lahir dan besar di kampung Sempalai, Datok H.M. Siradj Kitang namanya.

Bagi orang Sambas, pakaian setelan ini pada umumnya digunakan setelah mereka kembali berhaji di Makkah. Setelah berhaji, dalam keseharian mereka mulai rajin mengenakan kopiah putih yang tipis.  Dalam agenda besar, maka ini lah contoh setelannya. Selain untuk datang ke majelis Tarub (Majelis Besapprah) pakaian jenis ini juga digunakan oleh Lebai, Imam, atau Katteb pada saat salat Idul Fitri maupun Idul Adha. Kadang juga, dalam setelan kurang lengkap, digunakan saat hadir/bertugas pada ibadah salat Jumat.

Sebenarnya cukup banyak orang-orang Hadramaut (Hadrami) yang masih tinggal di Sambas. Mereka beranak-pinak, menikah dengan masyarakat lokal. Masihkah mereka diidentifikasi sebagai orang Hadramaut sebagaimana asal mereka? Tentu tidak. Mereka, Hadrami itu, berbaur dan bahkan tidak membentuk suatu komunitas eksklusif Hadrami: sebagaimana yang dapat ditemui di daerah lain.


Kampong Tuan-Tuan,  satu hari bulan Jumadil Akhir 1441 H
Bagus H.M.
    

Comments