Toleransi, Bab yang Tak Pernah Khatam



Sebenarnya begini deh, selain mahasiswa teologi, untuk menunjukkan rasa toleransi pun rasanya kita  belum perlu untuk hadir ke rumah ibadah kerabat kita. Respon yang kurang baik  terhadap film itu sangat  wajar, sebab trailer yang ditampilkan tidak sesuai dengan pendapat umum.

Bagaimanan orang awam bisa memaklumi pemberian tumpeng oleh santri kepada seorang pastur? Sementara di saat yang sama, narasi tentang haramnya memberikan ucapan natal masih berseliweran tiap tanggal 25 Desember.

Saya lahir dan besar di sebuah kampung yang di dalamnya ada Sekolah Tinggi Ilmu Teologi. Jenjang sekolah dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi ada di kampung saya. Lalu, apakah nenek-datuk saya mengajarkan toleransi dengan cara demikian yang saya singgung di atas? Tidak.

Tentu, saya pun menyambut tindakan kerabat sarjana teologi yang kerap berkunjung ke rumah ibadah lain, sebagai hal yang BIASA SAJA. Bukan hal yang buruk, pun bukan hal yang baik. Biasa saja dalam arti bahwa hal itu wajar dan tidak perlu dipermasalahkan, serta dalam kadar tertentu, memang tidak perlu diapresiasi. 

Satu-satunya ajaran allahyarham kakek saya agar sentiasa bisa toleran dan memaklumi orang/penganut agama lain adalah dengan terus membaca, terus belajar. Itu saja. Saya mengatakan hal ini, bukan berarti karena saya diuntungkan karena memiliki dua identitas mayor, sebagai Islam dan Melayu-Jawa sebagai kelompok besar di negara ini. Bukan. 

Saya cuma sebal saja, ketika hampir semua semesta pembicaraan dipenuhi oleh ungkapan-gagasan receh yang harusnya sudah khatam ditelaah oleh nenek moyang kita dahulu!

Susah memang ya. Pun jika saya kerap bertemu dengan yang berseberang paham, sekarang saya berdiam diri. Mencoba memaklumni mereka. Tabe! 🌹



*suatu ketika dulu, allahyarham kakek dan Mgr. Gabriel Willem Sillekens, Uskup Ketapang, dalam sebuah acara di Sekolah Katolik Yayasan Usaba.

Comments