SITI: Belajar Menyapa Orang Sambas (II)



Masih adakah kolega yang menggunakan nama siti? Barangkali sudah makin jarang. Nama siti akrab sekali bagi telinga orang Melayu. Salah seorang penyanyi masyhur dari Pahang pun bernama Siti, Siti Nurhaliza lengkapnya. Bagi sebagian kelompok, Siti dilekatkan kepada tokoh-tokoh perempuan yang diceritakan dalam Quran dan sejarah Islam. Misalnya Siti Hawa, Siti Mariam, Siti Khadijah, Siti Aisah, dan Siti Fatimah. Dalam konteks ini, Siti melekat pada jenis kelamin perempuan. Kecuali untuk kasus penamaan Syaikh Siti Djenar, itu mungkin hal yang berbeda.

Nama dan penamaan orang-orang Sambas selalu berubah dari masa ke masa. Ia betul-betul melepaskan polanya, yakni nama-nama Muannas yang mudah dilafalkan serta sederhana maknanya. Jika sebagian nama pada tahun 1960-an dibuat dengan mengambil kaitan/referennya dengan sebuah objek lain yang jamak diketahui, berbeda pula kasusnya dengan saat ini: ketika nama orang-orang Sambas begitu mirip dan familiar sekali dengan nama-nama tokoh di dalam sinema elektronik.

Saya kerap kali menyoroti perihal ini. Tentu, perkara penamaan anak adalah hak prerogatif setiap orang tua. Namun ada kalanya saya mesti mengabarkan dua pedoman yang sangat penting untuk diikuti. Pertama, nama mesti bisa dilafalkan dengan mudah oleh penutur bahasa Sambas. Hal ini tampaknya mudah, namun berimplikasi pada tertolaknya huruf-huruf yang tidak lazim dipakai. Misalnya X, F, V,dsb.

Kedua, nama yang dipilih hendaknya memiliki makna yang baik. Untuk alasan kedua, sangat lazim bagi orang Sambas berkonsultasi kepada sesepuh perihal nama anak mereka. Bahkan di dalam famili saya, sebagian nama cucu sudah disiapkan oleh allahyarham kakek bahkan sebelum sang cucu lahir.

Kembali ke pokok perkara, tentang Siti. Saya belum memiliki sebuah konsep makna Siti di dalam bahasa Sambas, maka itu saya merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di KBBI, Siti diterjemahkan sebagai  sebutan bagi wanita yang mulia, terpandang, serta tinggi kedudukanya. Siti dikaitkan dengan Sayyid/Sayyidah yang merujuk pada hubungan darah seseorang dengan Nabi Muhammad Saw.

Bagi orang Sambas penggunaan nama Siti memang menarik perhatian. Sebagai suku yang egaliter dan demokratis, orang Sambas cukup abai dengan nama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Barangkali hanya kalangan kerabat Istana Alwazhikubillah, orang Sambas betul-betul melepaskan label yang menunjukkan kedudukan dan status sosialnya di masyarakat. Terlebih lagi jika itu bukan hasil dari yang diupayakannya.

Jika saya tengok, penggunaan nama Siti, khususnya di Bekut, bukan dalam upaya mengglorifikasi latar belakang maupun status di dalam masyarakat. Hal ini saya ungkapkan karena kehidupan di perkampungan begitu setara, barangkali akibat pola hidup bertani yang tidak mengenal konsep tuan tanah.

Penggunaan nama Siti, dalam perspektif pribadi, merujuk pada dua hal saja. Sebagai upaya untuk meneruskan warisan patrilineal dan yang kedua adalah sebagai pemberi identitas "khusus" pada sang anak.

Adapun di Bekut (sebuah kampung yang namanya dinisbatkan kepada Raden Bekut bin Ratu Anom Kesuma Yuda) pada saat ini hanya ada tiga famili yang masih mengekalkan penggunaan nama Siti dan itu pun ketiganya masih merupakan keturunan Datok Muhamamd Saad bin Haji Abdullah.

Sebagai orang Sambas, akankah kita menggunakan nama Siti kembali? Jika masih ada sedikit niat untuk memperteguh identitas sebagai orang Sambas, semoga tulisan ringkas ini bisa menjadi bahan pertimbangan.

oleh abang yang punya adik bernama Siti. 

Comments