Singkawang Masih Harmoni





Saya menjejakkan kaki pertama kali untuk menetap di kota ini empat tahun lalu. 
Ada perubahan di beberapa tempat, namun ada satu hal yang selalu sama: harmoninya.

Oleh Setara Institute, Singkawang didaulat sebagai kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia. Bagaimana sebenarnya kehidupan di Singkawang? Bagaimana karakter dan polah masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari? Tentu sangat menarik untuk diceritakan dan menjadi isu yang sangat tepat untuk ditelaah oleh para antropolog. Baik oleh antropolog betulan di mimbar-mimbar akademik dan jurnal ilmiah mereka atau antropolog warung kopi: yang kadang dengam santainya membincangkan segala jenis hal tanpa was-was dipersekusi. 

Singkawang punya sejarah yang cukup panjang. Kisahnya berkelindan di antara ruang-ruang ingatan masyarakat Kalimantan Barat. Jika dibandingkan dengan kota lain yang heterogen, Singkawang memiliki ciri yang sama.

Di sini, di kota ini, keragaman dan kejamakan  dihormati dan ditempatkan sedemikian rupa. Semua entitas muncul ke permukaan tanpa sekat, tanpa tendensi primordial berlebihan. Bahkan, istilah kelompok mayoritas-minoritas pun rasa-rasanya tidak bisa untuk menggambarkan harmoni itu, sebab semuanya berdiri pada kadar dan porsinya.

Saya tidak mengglorifikasi Singkawang, sebab Sambas tanah kelahiran saya pun serupa. Tetapi ada sebuah pelajaran yang bisa kita terapkan untuk kota mana pun di pelosok nusantara: bahwa keindahan dan rasa nyaman adalah hasil kerja sama semua orang.

*saya merasa terpanggil untuk mengkhatamankan Koentjaraningrat agar bisa bercerita lebih detail tentang kota kecil ini. 😂

Comments