Agama dalam Konteks Linguistik




Teks dan wacana kian erat dan tidak terpisahkan.  Teks dan wacana bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi dan transfer pengetahuan, melainkan juga menjadi alat untuk menginternalisasi nilai-nilai ke sekelompok orang dan di saat yang sama bisa juga digunakan untuk menggugat pandangan umum tentang suatu hal.

Semula penulis berdiri pada asumsi bahwa kajian terhadap teks dan wacana sekadar menjadi kepentingan sarjana humaniora, namun asumsi ini patah ketika melihat perubahan yang cukup signifikan pada masyarakat sejak masifnya penggunaan pelbagai platform microblogging dan media sosial. Teks dan wacana mengejawantah ke dalam tiap aktivitas manusia.

Jika menengok pada fungsinya semula yaitu untuk mempermudah percakapan, sekarang media-media itu berevolusi menjadi penentu arah percakapan.  Hal ini penulis kemukakan dengan melihat isu yang diangkat di dalam teks dan wacana yang beredar di hampir tiap platform.

Hubungan antara teks dengan wacana  secara signifikan muncul dalam dua kasus yang akan penulis kemukakan berikut. Pertama kasus penistaan agama yang menimpa Ahok pada tahun 2017 dan kasus yang sama menimpa Abdul Somad pada tahun 2019. Kedua kasus itu, walau dalam tensi politik yang berbeda, mendapat sorotan luar biasa.  Dengan demikian begitu banyak teks dan wacana yang terus-menerus membahas kasus itu. Hal yang pelik adalah kedua orang itu malah dibawa ke pengadilan: menegaskan bahwa belum ada batas yang jelas bagi penegak hukum kita dalam memahami teks dan wacana dari aspek teologi maupun dari aspek legal formal yang mendasarinya.

Kerancuan berpikir atau kekeliruan penafsiran teks dan wacana bukan hal yang boleh diabaikan pada saat ini.  Identitas agama masih menjadi sebuah kebanggaan dan dalam kadar tertentu sering ditampakkan ke muka umum.  Ini bukan hal yang baik, bukan juga hal yang sepenuhnya buruk.  Masalahnya adalah tindakan itu dilakukan secara tendensius dan celakanya ditanggapi secara tendensius pula.

Interaksi antar umat beragama yang seperti itu adalah hal yang sangat buruk. Agama tidak lagi menjadi rule of life tetapi bergeser menjadi alat justifikasi kelompok dan di saat yang bersamaan menjadi alat untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok yang lain.

Menjadi alat justifikasi kebenaran absolut memang sudah menjadi salah satu fungsi teks dan wacana namun hal ini bukan berarti boleh dikemukakan dan sekaligus dipahami dengan cara yang salah.  Jika dibiarkan maka semesta pembicaraan yang mengemuka di ruang publik adalah dialektika teologi semu: dengan kondisi prematur membincangkan ilmu paling dasar sebuah kepercayaan, memindahkannya dari mimbar akademik ke diskusi warung kopi.

Berdasarkan pemaparan yang telah penulis kemukakan ada satu hal yang menyebabkan terjadinya kesimpangsiuran dalam kaitan teks dan wacana,  yakni kesenjangan pengetahuan.

Media sosial jika dilihat sekilas telah meruntuhkan batas-batas eksklusivitas pengetahuan.  Setiap orang bisa belajar apapun dengan siapapun bahkan materi ajar yang ada di tingkat SD hingga doktor bisa diperoleh dengan mudah akibat teknologi yang canggih.  Hal ini memang bagus, menjadikan pengetahuan bisa dijangkau oleh siapa saja yang mencarinya.

Namun masalahnya muncul justru pada titik ini.  Mayoritas mengabaikan kalau pengetahuan harus bersenyawa  metodologi. Dalam hal ini penulis menguraikannya dalam perspektif linguistik.
Seorang calon sarjana di tingkat satu  diperbolehkan untuk membaca kajian tentang wacana atau metodologi riset.  Tetapi mereka tidak boleh mengikuti kelas itu sebelum lulus dalam mata kuliah Linguistik Umum, Fonologi, Morfologi, Semantik, dan Sintaksis. Hal ini dilakukan agar calon sarjana memiliki pengetahuan yang holistik dan komprehensif sebelum mereka mengkaji sebuah subjek yang rumit  dan membutuhkan daya nalar tinggi.

Kesenjangan pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan agama, bukan berarti bahwa materi pelajaran agama tidak mudah diperoleh tetapi yang jelas adalah konsep-konsep beragama diajarkan kepada umat bahkan tanpa konsep sama sekali. Ilmu agama tidak disampaikan secara terarah dan celakanya adalah demi memenuhi kebutuhan terhadap rasa bangga, kajian teologi bahkan diajarkan kepada orang yang belum tentu khatam membaca kitab suci.

Selanjutnya, kesenjangan pengetahuan ini berimplikasi pada buruknya pemahaman terhadap teologi agama-agama yang lain. Konsep Trinitas dan ketuhanan Yesus adalah hal yang paling kerap diperdebatkan padahal konsep yang sebenarnya tidak sesederhana itu. Anggaplah jika itu bertentangan dengan aqidah umat Islam, lalu apakah memang perlu diperkarakan? Orang-orang yang memperkarakan itu menunjukkan betapa rendahnya pengetahuan mereka terhadap sejarah.

Kerasulan Muhammad tidak lepas dari dua hal, pertama penubuatan kerasulan Muhammad oleh seorang pendeta Kristen yang bernama Buhaira dan sambutan luar biasa oleh masyarakat Kristen dan Yahudi di Madinah ketika Muhammad memutuskan untuk hijrah.

Atas permasalahan itu, penulis mengemukakan sebuah konsep yang dinamakan Teotics.  Berasal dari kata teo yang berarti Tuhan dan semiotics yang berarti tanda-tanda. Penulis mendefinisikan Teotics sebagai konsep untuk memahami kitab suci dan ideologi yang ada di dalamnya dengan perspektif linguistik.

Ketika mengemukakan konsep ini penulis menyadari bahwa bahasa Indonesia bukan menjadi bahasa awal kitab suci tetapi karena masalah yang muncul adalah akibat kekeliruan pemahaman terhadap itu dan wacananya mengemuka dan berpengaruh besar maka linguistik bahasa Indonesia, dalam kasus ini, harus bertanggung jawab dan mengambil peran.

Ada dua hal yang menjadi landasan berpikir konsep Teotics. Pertama, bahasa mesti menjadi alat yang bisa menjadi identitas kolektif walaupun penggunanya memiliki latar belakang teologi yang berbeda.

Kedua, karena sifatnya yang bukan sebagai bahasa kitab suci penafsiran dan terjemahan atas kitab-kitab itu mesti mengutamakan prinsip-prinsip kepatutan dan kepantasan.  Penulis bukan bermaksud untuk mendelegitimasi konsep teologi yang sudah mapan, namun ketika isi kitab suci sudah menjadi bagian dari semesta pembicaraan,  konsep yang terkandung di dalamnya mesti sesuai dengan pendapat umum.

Dua hal yang menjadi dasar konsep Teotics adalah gagasan yang penulis tawarkan untuk memperbaiki iklim interaksi umat beragama di Indonesia yang salah satu puncanya adalah teks dan wacana.
Teotics, dalam pandangan penulis, adalah alat untuk memanajemen perbedaan teologis.

Sebagai penutup perlu penulis kemukakan bahwa banyak sekali konsep teologi dalam agama-agama yang bermanfaat bagi kepentingan umum. Bukankah lebih baik kita mengarah kepada kepentingan umum itu dibandingkan mencari perbedaan yang justru akan membawa kita pada perpecahan.



   

*foto: jewishlearningdotcom

Comments