Belajar Menyapa Orang Sambas (III)





Kemarin malam saya menulis sedikit perihal penggunaan Wak sebagai panggilan di kalangan masyarakat Sambas. Tentu saja, panggilan itu hanya sebagian kecil saja dari hampir seratus (?) panggilan kekerabatan yang orang Sambas gunakan.

Di dalam famili saya saja, panggilan kekerabatan karena hubungan darah ada lebih dari dua puluh empat. Itu baru panggilan saya kepada Pak Tuak dan Mak Tuak (om/tante) yang jumlahnya ada dua belas termasuk ibu saya.

Panggilan dari seorang keponakan (orang Sambas lebih akrab dengan sebutan Anak Buah) kepada  Pak Tuak dan Mak Tuak yang secara vertikal cuma selisih satu garis keturunan saja sudah sedemikian banyaknya. Belum lagi panggilan kepada orang sehubungan darah yang selisih dua hingga tiga keturunan. Pun ini masih harus dilengkapi dengan panggilan kepada yang seumur-sepantaran, seumur-beda "pangkat", dan panggilan lainnya.

Kajian atau telaah tentang cara menyapa orang Sambas atau lebih spesifik tentang panggilan kekerabatan telah dilakukan oleh beberapa sarjana, magister, bahkan oleh beberapa doktor. Sebagai orang Sambas, saya pun cukup heran atas betapa tingginya atensi para sarjana humaniora mengamati perilaku hidup orang Sambas. Barangkali, sebagai bagian dari alam bangsa Melayu, Sambas masih menyimpan sedikit, katakanlah indegenusitas, yang mulai diabaikan oleh sebagian besar kelompok-kelompok Melayu.

Di dalam tulisan ringkas ini, tentu saya tidak akan menelaah secara penuh perihal panggilan kekerabatan. Ini cuma pengantar atas sebuah diskusi yang saya lakukan bersama salafush shalih bebrrala bulan lampau. Pada diskusi itu ada sebuah soalan yang hingga kini belum terjawab dan tulisan ini diharapkan bisa menjawab serta menguraikannya.

Seorang karib salafush shalih mengajukan pertanyaan yang sangat sulit saya jawab, "Orang Sambas itu maksudnya apa?"

Tampak sederhana betul pertanyaannya, tetapi jujur, menjawabnya tidak mudah. Sebagai seorang sarjana bahasa yang kebetulan mengambil tema riset tentang Sambas untuk skripsi dan tesis, mulanya saya hendak mendefinisikan orang Sambas sebagai orang-orang yang menggunakan bahasa Sambas sebagai bahasa pengantar di kehidupan sehari-hari.

Sekilas, pendefinisian dari aspek ini tampak komprehensif. Kemudian muncul sebuah kondisi baru ketika orang-orang luar datang-menetap di Sambas untuk jangka waktu yang cukup lama, apakah dengan demikian secara otomatis orang luar bersangkutan menjadi orang Sambas? Dengan demikian, pendefinisian berdasarkan bahasa rasanya kurang lengkap sebab bahasa pun sifatnya sangat dinamis dan dalam kasus tertentu, didaktis.

Selanjutnya, orang Sambas didefinisikan sebagai penduduk Kabupaten Sambas. Defenisi ini malah membuka sebuah pengetahuan baru, bahwa Sambas yang kerap kali didaulaut sebagai bagian dari alam bangsa Melayu tidak terdiri atas kelompok Melayu saja. Jika menengok pada jurnal-jurnal yang ditulis oleh penjelajah Hindia Belanda di abad 17 hingga 19, Sambas ditinggali oleh dua kelompok masyarakat. Masyarakat hilir sungai, muara, dan sepanjang garis pantai yang disebut Melayu dan masyarakata dalam yang dksebut Dayak.

Sambas sebagai sebuah perlembagaan yang mapan mulai muncul di abad 16 di bawah kepemimpinan Pangeran Adipati Sebua Tangan. Perlembagaan ini seiring berjalannya waktu berubah dan memiliki batas-batas wilayah yang menandai persebaran orang Sambas. Jika mengacu pada hal ini, maka defenisi orang Sambas meluas menjadi orang-orang yang mendiami wilayah Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, dan Kabupaten Bengkayang. Tapi defenisi ini pun terkesan sangat bias, mengingat bahwa pembagian wilayah di masa kini terbatas pada urusan administrasi semata.

beraambung...

Comments