Mempermak Wajah Sambas






Begitu berkelindan dalam pikiran saya perihal sulitnya menemukan sebuah identitas di Sambas. Identitas yang merepresentasikan banyak hal, baik dari segi historis maupun estetika, seolah alpa dari tiap sudut jalan. Tidak ada yang peduli, barangkali pemangku kebijakan telah abai pada hal yang mahamustahak ini.
Begitu lekat dalam batin saya ketika mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Gambar, interior, dan desain bangunan yang langsung memberikan gambaran: ini Bali! Belum lagi ketika masuk melewati jalan-jalan yang papan namanya menggunakan aksara Bali. Tidak hanya itu, gedung-gedung milik sekolah dan pemerintah pun didesain sedemikian rupa hingga mirip pura: rumah ibadah yang menjadi ujung pangkal kehidupan masyarakat Bali.
Tidak hanya itu, ketika suatu waktu dulu saya safar ke Yogyakarta, Jawa dan sebala bentuk tradisi dan budayanya merangsek ke segala lini. Tidak hanya lewat papan nama jalan, papan nama gedung, desain interior dan eksterior, kebudayaan Jawa mewujud kuat dalam kurikulum di sekolah. Bahasa Jawa termasuk tata cara penulisan Hanacaraka menjadi suatu hal yang wajib dipelajari.
Kemudian, bagaimana di Kesultanan Sambas? Dengan tidak menafikan, memang ada sebagian nama jalan yang menggunakan huruf Jawi, misalnya di Dalam Kaum, Pendawan, dan Rambi. Untuk desain, motif pucuk rebung bisa ditemukan di SMPN  2 Sambas dan tiang utama Masjid Babul Jannah. Sedangkan motif burung elang bisa ditemukan di gedung DPRD Sambas. Hal itu sudah cukup baik, namun sama sekali belum sesuai harapan.
Sebagai wilayah eks-Kesultanan Sambas yang merupakan kesultanan termasyhur di wilayah barat Kalimantan, segala identitas itu mesti mengejawantah ke dalam setiap lini.
Papan nama jalan, papan nama kantor dan gedung khususnya untuk sekolah dan milik pemerintah hendaknya wajib ditulis dalam huruf Jawi. Kemudian, pembangunan gedung, khususnya untuk desain interior dan eksterior mestinya menjadikan motif khas Sambas sebagai bagian yang dominan. Motif ini bisa diadaptasi dari motif lambang kesultanan, motif tenun, dan bangunan yang ada di Istana Alwhazikubillah dan Masjid Jami. Tentu, itu adalah yang perlu dilakukan oleh pemerintah dengan melahirkan sebuah peraturan daerah.
Tentu tidak hanya itu, sejarah dan kebudayaan Sambas pun semestinya mendapat porsi yang cukup di dalam pelajaran IPS/ Sejarah di bangku sekolah.
Upaya-upaya di atas, jika tidak dilakukan selekas mungkin, akan menjadi petaka besar. Apa yang paling berbahaya di masa modern ini, selain dari kehilangan sebuah kebanggaan terhadap identitas.
Desa Bekut (Rd. Bekut Anom Kesuma Yuda)
25 Juli 2019
ditulis oleh Bagus Mantre

Comments