Sastra: Legitimasi dan Kekuasaan






Tadi sore saya mengemukakan sebuah tesis perihal asal-muasal sebuah kota yang ada di Kalimantan Barat. Selama ini diyakini bahwa asal mula nama dan pendudukan wilayah itu dimulai pada tahun 1700-an. Sejarah pendudukan itu ternyata tidak bisa dilepaskan sama sekali dari mitos yang entah celakanya hampir dipercaya oleh semua kalangan, bahkan dari akademisi pun belum ada upaya serius untuk menempatkan mitos itu dalam sebuah kerangka berpikir dan mencari sumber sejarah sebagai rujukan yang empiris.

Sastra, legitimasi, dan kekuasaan, ternyata berkaitan dengan sangat erat. Saya menyadari hal ini beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya menyimak salah seorang peneliti dari Universitas Indonesia yang tengah mengemukakan makalahnya di hadapan peserta Simposium Pernaskahan Internasional tahun 2012. Agenda tahunan Masyarakat Pernaskahan Nusantara itu digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Waktu itu saya baru semester lima, baru diangkat jadi Menteri Luar Negeri di BEM pula. Peneliti yang saya maksud adalah Prof. Agus Aris Munandar. Dalam kesempatan itu, beliau mengenalkan sebuah konsep yang dinamakan Dewaraja.

Konsep Dewaraja merupakan sistem legitimasi raja-raja Jawa di masa Hindu kuno. Pada masa itu raja-raja Jawa meneguhkan legitimasi kekuasaannya lewat karya sastra yang ditulis oleh para Brahma. Melalui Dewaraja, penguasa kala itu dikaitkan atau dituliskan sebagai titisan para dewa. Hal ini lah yang menyebabkan raja-raja Jawa di masa lalu kerap dibuatkan arca yang merujuk pada dewa tertentu.

Jamak diketahui bahwa pada masa itu aktivitas baca dan tulia hanya dikuasai oleh sekompok orang dan itu pun jumlahnya sangat terbatas. Sebut saja kelompok Brahma, hanya mereka yang "diperkenankan" membaca dan menulis, sekaligus sebagai satu-satunya kasta yang memiliki akses langsung kepada kitab suci.

Dalam beberapa riwayat, Brahma dan para raja memiliki hubungan yang sangat erat. Raja menghadiahkan begitu banyak barang berharga kepada Brahma, selain menyediakan asrama dan bahkan segala kebutuhan logistik Brahma menjadi tanggung jawab raja. Namun, ada timbal balik yang sepadan.

Dengan otoritasnya sebagai pemuka agama, maka para Brahma memberikan legitimasi spiritual kepada para raja melalui karya sastra. Oleh para Brahma itu, para raja dituliskan dalam narasi yang elok sedemikian rupa pada prasasti atau pun lontar. Hingga pada puncaknya, para raja malah diceritakan sebagai titisan atau jelmaan para dewa.

Kita pun maklum, salah satu karakteristik manusia nusantara adalah begitu kuat memegang ikatan spiritualnya dengan alam ghaib. Karakteristik ini mewujud lewat bangunan-bangunan yang bisa dilihat pada saat ini. Leluhur nusantara cenderung membuat bangunan yang bernuansa spiritual dengan bahan dan desain yang adikarya.

Ikatan spiritual pada alam ghaib yang dilegitimasi para Brahma lewat karya sastra  kemudian menyatu dengan pengaruh sang raja yang secata definitif memiliki wewenang pada abdinya, menciptakan legitimasi kekuasaan yang sepertinya tidak ada bandingan.

Bagaimana tidak, seorang raja yang secara sosial memiliki otoritas pada masyarakatnya memiliki otoritas tambahan lewat legitimasi spiritual yang di-blow up oleh para Brahma. Dengan kondisi bahwa masyarakat di kala itu  betul-betul berorientasi pada kehidupan setelah mati: maka terciptalah sebuah kelanggengan kekuasaan yang hampir tanpa batas. Suatu hal yang jika kita pandang secara sederhana hanya diakibatkan sebuah karya sastra.

Kemudian, apakah konsep Dewaraja masih relevan di abad modern ini? Penulis dengan yakin menjawab iya. Dipilihnya K.H. Maaruf Amin sebagai wakil Joko Widodo adalah manifestasi konsep ini. Walau tidak sebrutal masa lalu, pemilihan K.H. Maaruf Amin seakan menegaskan bahwa konsep Dewaraja masih kita pelihara. Dalam hal ini, sastra dalam konsep Dewaraja berubah menjadi narasi-narasi politik yang berkembang dan menyebar pada konstituen-konstituen.

Zaman bisa berkembang, namun karakteristik sebuah kebudayaan, khususnya Jawa masih bersumber pada kearifan-kearifan lokal.

8 Juni 2019

Comments