Puisi Ibu Indonesia: Sebuah Sudut Pandang





Sukmawati Soekarnoputri, mau tidak mau, adalah seorang pembaca puisi yang cukup berhasil. Bukan berhasil dalam arti beliau sebagai seorang penyair, namun reaksi atas puisi yang dibacanya cukup menarik perhatian banyak orang.


Beberapa hari setelah beliau membaca puisi dalam peringatan hari lahir Anne Avantie, muncul reaksi yang tidak diduga. Betul-betul tidak diduga. Banyak protes ditujukan pada puisi yang dibacanya. Ada banyak yang kontra pada konten puisi tersebut, namun tak sedikit yang membeli atas dalih lisensia poetika.


Sebagai alumni jurusan humaniora, penulis melihat  pembacaan puisi di masa kini, terutama di ruang publik adalah hal yang jarang. Begitu pun penikmat atau penulisnya, semacam sebuah barang langka. Namun dengan kemunculan puisi Ibu Indonesia yang dibaca oleh Sukmawati, tiba-tiba linimasa penulis di Facebook dan Instagram banjir oleh penyair dan pendeklamasi.


Menanggapi puisi Ibu Indonesia yang dibacakan oleh Sukmawati, dengan mencoba seobjektif mungkin, ada beberapa pandangan yang mesti penulis sampaikan.


Pertama, sebagai sebuah karya sastra, puisi adalah puisi.  Adalah hal yang jamak diketahui, puisi adalah karya sastra imajinatif. Sebagian isinya menggunakan penarasian konotatif dengan melakukan imitasi pada realitas. Selain itu, puisi juga mengedepankan nilai-nilai estetika. Bahkan, kaidah kebahasaan pun diperbolehkan untuk dilanggar demi mewujudkan atau terpenuhinya kaidah lisensia poetika itu. Bagi masyarakat awam, puisi paling tidak dipahami dan diapresiasi karena keindahan rima dan irama atau dalam istilah lain persajakannnya.  Namun bagi kalangan masyarakat, pemerhati, dan sarjana humaniora, puisi tidak dipahami sampai di tahap itu saja. Bahkan menurut Ingarden, sebuah puisi bahkan memiliki lima lapis pemaknaan.


Adalah sebuah kekeliruan jika puisi yang dalam beberapa kasus ditujukan untuk kalangan melek literasi dipahami dan disalahtafsirkan oleh masyarakat awam. Bukan berarti hendak mendikotomikan pembaca, namun demikianlah keadaannya. Awam dan sarjanawan tentu akan melihat itu dalam sebuah kacamata yang berbeda.


Hal itu lah yang menyebabkan puisi Ibu Indonesia mendapat respon yang beragam. Adapun bagi penulis sendiri, isi puisi Ibu Indonesia adalah simbol-simbol semata dan simbol-simbol itu muncul atas kepiawaian penyair dalam mengimitasi realitas.  Jika respon muncul atas dorongan sikap religius, barangkali kita boleh bertanya, apakah kehidupan religius kita pada saat ini tengah baik-baik saja? Penulis pun pada dasarnya menyangsikan hal demikian.


Kedua, dalam kondisi rendahnya minat baca, ternyata puisi masih punya peran besar di masyarakat. Munculnya ribuan pembaca puisi, yang mungkin semuanya kontra/meng-counter isi puisi Ibu Indonesia adalah sebuah bukti bahwa bersyair, berdeklamasi, dan membaca puisi adalah suatu hal yang "masih" digemari. Bagaimana tidak, hanya karena puisi Ibu Indonesia lah, warganet tiba-tiba menulis lalu membacakan puisi gubahannya. Walaupun puisi Aku karya Chairil Anwar dibacakan setiap tahun dan di tiap peringatan lahirnya, tapi mana ada puisi yang begitu massif dibahas dan kemudian muncul puisi-puisi tandingan selain gara-gara puisi Ibu Indonesia?


Ketika banyak muncul keresahan tentang hilangnya minat terhadap kesusastraan, kehadiran puisi Ibu Indonesia adalah cambukan dan pecutan bagi kita. Tentu saja, puisi mau tidak mau akan mewakili pandangan personal penulisnya. Jika perbedaan pandangan disampaikan lewat syair-syair puisi, tentu ujaran kebencian dan sebaran hoax di media massa bisa diminimalkan.  Bukan kah bertarung pendapat dan argumentasi lewat karya sastra adalah sesuatu yang lebih beradab dibandingkan menyebar provokasi dan hasutan?


Ketiga, membawa kasus pembacaan puisi ke ranah pidana adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Adalah benar Indonesia merupakan negara hukum. Dengan hukum tersebut maka ada hak-hak dan kewajiban yang tunduk pada peraturan perundangan. Ketika puisi Ibu Indonesia dibacakan oleh Sukmawati, beberapa hari kemudian ada pihak yang membawanya ke ranah hukum formal-material atas tuduhan penistaan simbol-simbol agama.  Barulah setelah itu, atas inisiatifnya Sukmawati menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan hal-ihwal makna puisi yang dibacanya.


Tapi tunggu sebentar, yang ingin penulis soroti adalah pihak yang melaporkan Sukmawati.  Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan, namun hal-hal yang dibacakan oleh Sukmawati adalah hal yang sangat biasa bagi kalangan sarjana humaniora. Di dalam karya sastra, baik itu puisi, drama, dan prosa, banyak sekali narasi-narasi serupa, bahkan lebih parah dan jumlahnya pun tidak sedikit.  Penulis menduga ada keadaan nirliterasi dalam tindakan pelaporan ini.


Keempat, jika benar puisi adalah karya yang bersifat representatif, Indonesia pada saat ini sedang sakit. Seperti yang penulis paparkan di awal, puisi diciptakan dengan mengimitasi realitas. Dengan demikian, sifat representatifnya akan semakin sempurna jika imitasi dilakukan dengan benar oleh pengarang puisi. Puisi Ibu Indonesia membicarakan sebuah kondisi kebangsaan yang kalut karena dominasi suatu identitas.


Dominasi itu barangkali bukan titik masalahnya, namun yang ditekankan adalah ketika dominasi itu melakukan sesuatu yang dianggap pengarang telah melewati batasan. Bukan saja bicara kondisi sehari dua hari, Ibu Indonesia adalah akumulasi perasaan dan penginderaan pengarangnya dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, bentuk-bentuk kritik disampaikan kepada "sesuatu" dengan simbol-simbol yang melekat pada identitas yang dimaksud.


Puisi adalah sebuah karya yang di dalamnya ada pesan atau amanat. Diciptakan di dalam panci leleh masyarakat, disebarkan lalu dibaca oleh orang dengan beragam latar belakang. Adapun sikap kita, baik awam maupun sarjana humaniora dalam menanggapinya adalah dengan pikiran terbuka.


Di akhir esai singkat ini, penulis hendak menyampaikan sikap bahwa tidak ada satu orangpun yang mau negeri ini dalam keadaan kacau dan tidak seorangpun yang mau negeri ini selalu dalam keadaan terbelakang. Jika tidak banyak yang bisa kita lakukan, minimal kita masih menaruh hormat pada buku-buku bacaan.

*Beberapa bulan lalu saya bertemu Okky Madasari di Pontianak, beliau adalah esais sekaligus penulis novel Entrok (Kutang). Dalam satu sesi diskusi saya menanyakan perihal ini ke beliau.

Tanggapan beliau sederhana, puisi yang dibawakan Sukmawati tidak cukup estetis dan betul-betul denotatif dalam penggunaan diksinya. Seolah persis sama antara bahasa dalam puisi yang interpretatif dan prosa yang deskriptif.

Esai ini saya tulis jauh sebelum bertemu Okky.

Comments