Muhammad Syahran: Orang Sambas yang Gemar Menulis Jawi





oleh Haries Pribady
8 Juni 2019

Perlu upaya serius untuk menggali khazanah perkembangan Islam di Borneo.  Upaya ini tidak sekadar untuk melihat perkembangan Islam sebagai sebuah agama, melainkan lebih kepada upaya untuk melihat dampak positif yang dibawanya. Terutama dalam hal mentransformasi masyarakat menuju bentuk tamadunnya yang lebih paripurna.
Berdasarkan hasil penelitian, perkembangan Islam di Borneo, khususnya di Borneo Barat  telah terjadi sejak  ratusan tahun yang lampau. Puncanya adalah ketika Raden Sulaiman dinobatkan sebagai sultan Sambas pada tahun 1630. Pada masa itu lah kemudian Islam menjadi agama resmi perlembagaan kesultanan.
Pada beberapa dekade kemudian, kesultanan Sambas meneguhkan sebuah lembaga yang bertugas mengurus perihal keagamaan dengan konsep yang lebih matang. Maka itu, dibentuklah sebuah sistem yang dikenal dengan konsep Maharaja Imam, sebuah jabatan paling prestisius dan penting untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di seluruh wilayah kedualatan Kesultanan Sambas. Seorang Maharaja Imam dibantu oleh para imam, sedangkan para imam dalam menyelenggarakan tugas dan fungsinya disertai oleh lebai yang ada di tiap-tiap kampung.
Otoritas yang dimiliki oleh setiap tingkatan pemuka agama tentu berbeda. Namun dalam kesempatan ini, penulis mencoba menyoroti fungsi dan peran lebai sebagai tokoh agama pada struktur sosial masyarakat yang paling dasar. Salah seorang lebai yang cukup menarik perhatian penulis adalah Muhammad Syahran. Seorang laki-laki yang berasal dari Desa Bekut, Kecamatan Tebas, Sambas.
Syahran memiliki nama lengkap Muhammad Syahran Saad Amilin. Beliau diperkirakan lahir pada tahun 1910-an  dan merupakan anak pertama dari Muhammad Saad. Ada pun Muhammad Saad adalah menantu Datok Haji Harun, salah seorang mursyid tarekat  Qadiriah wa Naqsabandiyyah yang dibawa oleh Syaikh Akhmad Khatib Asy Syambassi. Syahran lahir dan besar di Desa Bekut. Beliau memiliki dua orang isteri. Isteri pertama bernama Hadrah binti H. Abdul Ganie, adapun isteri kedua bernama  Wan Minna. Isteri kedua dinikahi saat  Syahran berusia 53 tahun.
Semasa hidupnya, Syahran adalah seorang imam masjid  dan bertugas sebagai khatib pada saat shalat Jumat maupun shalat Id. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Syahran bertani dan kadang mencari ikan di Sungai Sambas. Secara sekilas, kehidupan Syahran tampak seperti lebai pada umumnya, yakni banyak menghabiskan waktu untuk mengurus masyarakat. Namun ada suatu kebiasaannya yang dalam pandangan penulis sangat menarik dan penting untuk diulas kembali.
Ada kebiasaan Syahran yang pada kali ini mulai ditinggalkan oleh banyak orang, yakni tradisi menulis Jawi (Arab Melayu). Semasa hidupnya Syahran gemar menulis salinan-salinan doa, dari doa lepas shalat hingga doa saat berkhatam Quran. Tak hanya itu, ada juga buku-buku yang ditulisnya merupakan amaliah-amaliah tarekat, Sebuah warisan ilmu yang diperoleh dari kakeknya terkasih, Datuk Haji Harun.
Kebiasaan menulis Jawi penulis anggap unik. Hal ini dikarenakan pada masa beliau hidup, huruf latin sudah jamak digunakan. Jika untuk menulis doa-doa yang berbahasa Arab, barangkali menulis dalam aksara Arab tentu sangat  dibutuhkan. Hal ini mengingat agar doa yang ada  bisa dilafalkan dengan benar. Tetapi  tulisan yang ada bukan  perihal doa semata.
Beberapa tulisan beliau yang masih tersimpan hingga sekarang adalah sebuah buku yang berisi 99 Asmaul Husna beserta artinya yang ditulis dengan huruf Jawi (selesai ditulis pada hari Jumat 22 Agustus 1975, bertepatan dengan 14 Syaban 1395 H pukul 8.30), kumpulan doa berkhatam Quran I (selesai ditulis pukul 3.25,  tanggal 14 Agustus 1965 bertepatan dengan 16 Rabiul Akhir 1385 H),  kumpulan doa berkhatam Quran II (selesai ditulis pada pukul tiga sore, 18 Januari 1969 bertepatan dengan 29 Syawal 1388 H, kemudian salinan kitab Tuhfatul (selesai pada pukul 08.00, hari Senin 31 Januari 1938 bertepatan dengan 29 Zulqaedah 1358). Tidak hanya itu, masih ada beberapa buku-buku kecil yang belum bisa penulis identifikasi judul atau pun tajuk tulisannya.
Kebiasaan atau pun tradisi menulis, khususnya dalam huruf Jawi  adalah suatu hal yang unik. Jangankan menulis dengan Jawi, menulis dalam Latin pun masih bisa dikatakan tergolong cukup langka: mengingat masih rendahnya tingkat literasi masyarakat Melayu di kala itu. Apalagi selama hidupnya Syahran hanya berada di dalam tataran masyarakat perkampungan, tentu ada suatu hal yang membuat Syahran tetap bersikukuh untuk melakukannya.
Berdasarkan pemaparan yang telah penulis kemukakan, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari. Pertama, hidup bermasyarakat tidak bermakna tinggal menetap. Hidup bermasyarakat berimplikasi pada kewajiban-kewajiban sosial yang mesti dilakukan. Setiap individu memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Ada pun selama hidupnya, penulis menganggap bahwa Syahran telah melakukan kewajiban dan tugasnya dengan sangat baik. Baik sebagai anggota masyarakat sekaligus baik sebagai seorang muslim yang taat. Kedua, tradisi keilmuan hendaknya dijaga dengan serius. Ketelatenan Syahran dalam menulis maupun menyalin doa-doa atau pun kitab menunjukkan bahwa seorang tokoh agama (walaupun di level paling bawah) mesti menjaga tradisi keilmuan itu. Ketiga, adalah hal yang sangat penting bagi seorang tokoh untuk memahami kondisi suatu masyarakat sebelum berdiri tegak, baik sebagai imam maupun khatib. Tidak ada upaya purifikasi spiritual yang berlebihan. Konsep akidah yang terkesan begitu ketat, akhirnya bisa sejalan dengan adat-tradisi yang sudah mengakar di masyarakat selama berabad-abad.
Syahran wafat di Desa Bekut pada pukul 5.40 WIB, hari Sabtu tanggal 9 April tahun 1977 bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1397 H, sedangkan istrinya Hadrah binti H. Abdul Ganie wafat lebih dulu pada pukul 12.25 WIB hari Sabtu, 11 September 1971 bertepatan dengan 20 Rajab 1391 H.   Semoga beliau diberikan rahmat oleh Allah Swt. Ila hadroti nabiyyil mustofa rasulullah muhammad salallahu alaihi wa sallam, lahul fatehah.



Comments