Merangsang Pemikiran Saintifik dengan Dongeng






Ada yang masih suka mendengarkan dongeng? Ada yang ketika kecil dulu sering diceritakan kisah ajaib dan menakjubkan negeri dongeng? Jika jawabannya iya, maka beruntunglah orang yang masih melestarikan tradisi itu. Ada beberapa hal yang membuat dongeng sangat penting bagi perkembangan berpikir manusia secara saintifik. Selain itu, ada beberapa bukti bahwa dongeng masih sangat relevan dengan dunia modern. Dua perkara itulah yang akan penulis ulas di dalam esai ringkas ini.

Dongeng atau cerita rakyat adalah salah satu jenis sastra lama yang pada saat ini mulai mendapat perhatian. Khususnya oleh masyarakat urban yang sadar tentang pentingnya aktivitas mendongeng dengan anak.

Berbeda dengan sastra modern yang ditulis dan dibukukan, sebagian besar dongeng yang ada di masyarakat berkembang dan didistribusikan antargenerasi secara lisan. Pola itu memberi karakteristik  anonim  pada dongeng dan dikenal secara umum pada sekelompok masyarakat di satu wilayah.

Pendistribusian secara lisan disadari memiliki banyak kelemahan, yakni sedikitnya kalangan tua yang mampu dan fasih bercerita. Atas sebab itu, para pegiat sastra dan budaya mulai mendokumentasikan dongeng-dongeng nusantara. Ada yang dikaji dalam jurnal-jurnal ilmiah. Sebagian lagi diterbitkan di majalah dan buku. Saking progresifnya upaya penyelamatan warisan tak benda ini, dongeng ditransformasi ke dalam bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan perubahan zaman.

Untuk mengakomodasi perubahan itu, dongeng diangkat menjadi film, serial sinetron, kartun, bahkan ada yang mengabadikannya sebagai tokoh aplikasi permainan untuk telepon pintar dan komputer. Dalam bentuknya yang asli pun, mulai tumbuh beberapa komunitas dongeng di kota-kota besar. Pendongeng beranjangsana ke taman kanak-kanak dan sekolah untuk kembali mengakrabkan dongeng ke masyarakat.

Salah satu karakteristik yang menyebabkan dongeng dikategorikan sebagai karya sastra adalah sifatnya yang imajinatif. Dari hal itu, muncul sebuah pertanyaan, apakah sifat imajinatif bisa berkaitan dengan hal lain seperti tajuk yang penulis pilih. Untuk menjawab hal itu perlu kiranya penulis mengulas konsep pemikiran saintifik: isu yang sangat dibutuhkan namun alpa didiskusikan.

Cara berpikir saintifik atau yang jamak disebut scientific approach adalah seperangkat cara berpikir dalam menelaah suatu permasalahan. Webster mendefinisikannya sebagai konsep yang sesuai dengan metode dan prinsip-prinsip sains. Cara berpikir saintifik adalah modal dasar bagi para ilmuwan dalam menganalisis fenomena alam dan sosial. Dengan standar-standar yang dimilikinya, hasil kerja saintifik bisa diuji dan dipertanggungjawabkan.

Berkaitan dengan tajuk yang diambil, perlu penulis sampaikan bahwa dongeng memang bersifat imajinatif pada zat dan penciptaannya. Tetapi jika sudah masuk ke dalam bingkai analisis, dongeng berubah menjadi samudera luas yang perlu diterokai. Ada beberapa hal yang membuat penulis menyampaikan hal demikian.

Pertama, tanpa diduga dongeng mengajarkan satu konsep yang menjadi dasar berpikir saintifik, yakni konsep kausalitas. Kausalitas atau sebab-akibat adalah hal pertama yang harus dikuasai dalam pemikiran saintifik.

Barangkali orang mengira dongeng bersifat imajinatif dan untuk fungsi rekreasi semata, padahal tidak demikian. Begitu banyak dongeng yang mengandung paradigma berpikir ilmiah. Cerita asal mula padi, kisah terjadinya pelangi, asal mula Tangkuban Perahu, legenda Danau Sebedang, dll. adalah sebagian dongeng nusantara yang begitu kental dengan nuansa kausalitas: perihal apa yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu.

Melalui dongeng anak-anak dikenalkan pada sebuah cara berpikir paling vital. Kausalitas memberikan pelajaran betapa pentingnya melewati proses, sebuah sikap yang mulai tergerus di masa kini.

Kedua, tidak sekadar bersifat estetis dan imajinatif, dongeng juga sarat dengan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk hidup bermasyarakat. Beberapa dekade lalu para pakar sepakat mendikotomi kemampuan manusia menjadi dua, hardskill yang berorientasi pada intelejensi dan keahlian, serta softskill yang berorientasi pada sikap.

Seiring perkembangan dunia pendidikan dan psikologi, kini softskill mendapatkan perhatian lebih. Di dalam softskill terdapat integritas, kerja keras, ketahanan mental, dll. yang justru nilai-nilai itu banyak terdapat di dalam dongeng. Mengakrabkan dongeng kepada anak-anak tidak sekadar mempererat hubungan afeksi di dalam keluarga, melainkan juga proses transfer nilai-nilai yang akan sangat berguna saat mereka tumbuh dewasa.

Berdasarkan beberapa hal yang penulis kemukakan, telah jelas bahwa warisan nenek moyang memiliki sesuatu yang perlu ditelaah lebih dalam. Dongeng sebagai sastra lisan yang diwariskan  turun-temurun bukan sekadar cerita pengantar tidur. Jika tidak dikatakan berlebihan, barangkali adalah benar bahwa Indonesia pun lahir dari dongeng yang didengar pendirinya.



gambar: fotocommunitydotcom

Comments