Kaum Migran di Era Kesultanan Melayu (sebuah esai pengantar)




Ada sebuah kondisi buruk yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Di Jakarta, yang kemudian diikuti di kota-kota lainnya muncul sentimen negatif pada warga negara Indonesia keturunan Tiongkok. Narasi ini muncul begitu masif. Tersebar di pelbagai platform media sosial, ditelaah di media massa  cetak dan elektronik.

Sebabnya cuma satu. Gubernur petahana Jakarta, Ahok, kembali mencalonkan diri dalam Pilgub DKI. Semua orang tahu bahwa Ahok adalah seorang Tionghua yang berasal dari Belitong. Ada pun lawannya adalah Anies Baswedan, seorang laki-laki keturunan Arab yang sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Jokowi.

Entah mengapa, keetnisan Ahok begitu dipermasalahkan kala itu. Ditambah mesranya hungan Jokowi dengan Tiongkok plus hoax-hoax yang disebarkan oleh orang yang bermazhab dua digit: jadilah narasi yang berisi sentimen negatif bagi orang-orang peranakan Tiongkok.

Sebuah kondisi yang cukup memprihatinkan. Rendahnya minat baca kelompok akar rumput dimanfaatkan dengan biadap oleh elit politik. Primordialisme digunakan sebagai propaganda dan tentu saja tidak ada pembelajaran yang bisa diambil dari rentetan peristiwa itu.

Secara konsensus, bapak bangsa telah memilih sistem pemerintahan dengan bentuk republik dan menjadikan hukum positif sebagai panglimanya. Maka itu, konsep pribumi maupun pendatang sudah tidak lagi relevan di abad modern ini.

Penulis dalam kesempatan ini hendak mengajak pembaca sekalian, melihat kepada perlembagaan-perlembagaan yang ada sebelum masuk berpindah ke sistem republik. Salah satunya yang menarik perhatian penulis adalah kisah kaum migran yang mendiami wilayah Kesultanan Sambas sejak ratusan tahun lampau hingga masa kini.

Tahun kemarin penulis baru menyadari ada beberapa orang-orang Hadramaut yang berpindah ke Sambas sejak ratusan tahun silam. Kemudian, tadi malam saya berkunjung ke rumah seorang kerabat yang ternyata kakek buyutnya berasal dari Pakistan.

Perantau/ migran dari wilayah yang cukup jauh, pada umumnya bermukim di wilayah sekitar Istana. Kuat dugaan mereka dulunya adalah para pedagang yang melihat prospek cukup cerah untuk memulai penghidupan di Kesultanan Sambas.

Betul, mereka migran. Tetapi saya tidak menemukan adanya glorifikasi nasab maupun asal yang terlalu berlebihan pada orang-orang migran yang ada di Sambas. Mereka menikah dengan orang setempat. Menamai anak-anak mereka seperti nama anak-anak pada umumnya.

Kalau boleh jujur, migran adalah sebuah hal yang wajar. Pun sama seperti saya, tidak selalu menetap di kampung, masih selalu hendak berpindah ke tempat yang baru untuk belajar. Jika bicara migran, sultan Sambas yang pertama yakni Syarif Muhammad Syafiuddin al Barkat al Hasani pun seorang migran.

Allahyarham baginda lahir di Sukadana dari seorang bapak yang berasal dari Brunei. Maka itu, sungguh sangat menyedihkan dan melanggar adat jika ada orang Sambas yang membenci imigran secara membabi-buta.

Orang Sambas punya sejarah yang cukup panjang dalam hal interaksi dengan para migran. Tidak ada gesekan, yang ada hanya melebur dan menyatu menjadi orang Sambas yang seutuhnya.

Pun dengan satu catatan penting yang perlu dipahami dan dimengerti oleh siapapun yang berpindah ke Sambas. Pertama, meleburlah ke dalam masyarakat Sambas setempat. Haram hukumnya bagi para pendatang untuk mengglorifikasi nasab maupun keturunan di tempat asalnya. Nikahkanlah putera-puteri perantau dengan masyarakat sekitar. Kedua, jadikan budaya Sambas sebagai budaya yang pertama dan terutama, atas sebab hutang budi dan rasa terima kasih atas berpenghidupan di tanah Sambas. Kesampingkan budaya asal. Jangan sesekali hendak menubuhkan suatu model kebudayaan baru yang berbeda secara signifikan dan berniat untuk menghilangkan budaya Sambas di wilayah yang ditempati.  Ketiga, tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih kepada keraton Alwazhikubillah dan kepada marhum-marhum Sultan, sebab itu lah syarat menjadi orang Sambas yang sejati.

Tentu hal ini harus kita jaga dan pelihara bersama-sama.

Kesultanan Sambas, 8 h.b. Syawal 1440 H
Haries Harun al Barkat


🙏

Comments