Hikayat Hang Tuah: Suksesi dan Legitimasi Raja-raja Melaka










Ada cukup banyak sebab yang membuat saya menulis demikian. Ceritanya pun cukup panjang. Tapi eloklah akan saya uraikan satu persatu untuk menemani hari Senin yang agak mendung ini.

Hang Tuah sebagai sebuah nama dan sosok sejarah telah saya kenali sejak kecil. Bisa dikatakan perkenalan saya dengan Hang Tuah melalui film yang diperankan oleh Datuk Tan Sri P. Ramlee (aktor kenamaan Malaysia).

Kalimat-kalimat Hang Tuah pun kerap kali saya dengar. Salah satu yang tersohor adalah "Takkan hilang melayu di dunia, tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas." Dalam memandang sosok Hang Tuah, diperlukan beberapa perspektif. Hal ini bertujuan untuk membatasi asumsi liar yang berada di masyarakat.

Asumsi pertama  yang berkaitan dengan Hang Tuah adalah bahwa sosok  bersangkutan hanya tokoh fiktif semata. Hal ini disebabkan oleh lemahnya bukti-bukti sejarah yang mendukung keberadaan Hang Tuah di masa lampau. Asumsi kedua adalah bahwa sosok Hang Tuah beserta karibnya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu, adalah tokoh yang diadaptasi dari kisah Pandawa Lima: epos paling masyhur dari tanah India. Adapun asumsi yang ketiga adalah bahwa Hang Tuah adalah sosok yang nyata adanya.

Adapun bagi saya, asumsi yang terkuat adalah yang ketiga. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, keberadaan Hikayat Hang Tuah yang kemudian pada abad 19 dialih aksara ke dalam Latin adalah sebuah petunjuk bahwa Hang Tuah adalah sosok yang berpengaruh suatu zaman dulu. Jika pada mulanya kisah Hang Tuah dianggap sebagai bagian sastra lisan (folklore), maka itu tidak dengan serta-merta menafikan eksistensi Hang Tuah sebagai sosok sejarah. Kedua, jika kita mengamati Hikayat Hang Tuah, maka bisa kita tarik sebuah latar yang bersamaan dengan periode kepatihan Gadjah Mada di Majapahit.  Hubungan antara Hang Tuah dan Gadjah Mada menjadi salah satu konflik utama di dalam hikayat ini. Ada pun yang ketiga adalah ditemukannya artifak peninggalan Hang Tuah oleh peneliti-peneliti Malaysia. Walaupun masih diperlukan kajian dan verifikasi lebih lanjut, itu sudah menjadi titik terang untuk menelusuri jejak Hang Tuah.

Sebelum ditelaah lebih lanjut, saya perlu menerangkan bahwa kajian ini tidak akan menyeret saya dan pembaca sekalian ke dalam pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pakar sejarah maupun arkeologi. Telaah ini hanya akan berfokus pada naskah Hikayat Hang Tuah, yang sesuai dengan minat saya untuk membedahnya dalam kerangka berpikir bahwa hikayat adalah sebuah objek dalam kajian wacana kritis.

Secara spesifik, ada sebuah pertanyaan yang hendak dijawab dari telaah ini, yakni bagaimanakah proses dan bentuk legitimasi Raja-raja Melaka yang tergambar dalam Hikayat Hang Tuah? Serta pertanyaan yang kedua adalah bagaimanakah efek yang ditimbulkan oleh Hikayat Hang Tuah bagi proses legitimasi Raja-raja Melaka sejak masa berdirinya Kerajaan Melaka hingga masa kini yakni peraekutuan Raja-raja Melayu di Semenanjung Melaka?

Penelaahan terhadap dua pertanyaan yang saya ajukan di atas timbul akibat sebuah perjalanan yang cukup panjang. Sebagai sarjana humaniora yang berfokus pada riset bahasa Sambas, pada mulanya saya berasumsi bahwa tidak banyak hal menarik yang bisa ditelaah melalui disiplin ilmu ini. Hal tersebut semakin diperparah oleh gap yang terlalu jauh antara ilmu humaniora dengan sains dan teknologi, khususnya saat berhadapan dengan gaung Revolusi Industri 4.0.

Pandangan terhadap lemahnya disiplin ilmu humaniora sedikit mulai menemukan titik baliknya ketika saya bertemu dengan Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia. Dalam pertemuan yang diselenggarakan di PPKH UGM, beliau menerangkan sebuah konsep yang sejak seribuan tahun lampau telah digunakan oleh Raja-raja Jawa. Konsep yang beliau kenalkan adalah Dewaraja.

Dewaraja adalah legitimasi tambahan yang diberikan oleh para Brahmana kepada raja. Secara definitif, raja tentu memiliki otoritas terhadap rakyatnya. Namun, otoritas itu dialihkan ke dalam perspektif spiritual. Oleh para Brahmana, raja diceritakan sebagai keturunan dan titisan para dewa. Dengan narasi demikian, konsep Dewaraja tidak sekadar membangun legitimasi secara politik, namun juga secara spiritual. Salah satu implikasi dari konsep itu adalah dipahatnya arca para raja yang kemudian dinisbatkan kepada sosok salah seorang raja.

Konsep Dewaraja pun pada dasarnya tidak hanya berlaku di masa Hindu-Buddha. Di masa Mataram pun, konsep  ini masih melekat walaupun dengan beberapa perubahan. Salah satu bukti yang bisa dikemukakan adalah perihal nasab raja-raja Jawa yang ada di dalam Babad Tanah Jawi.

Ketertarikan saya terhadap kisah masa lalu, khususnya dalam aspek riset, menemukan jalan buntu ketika menyadari bahwa disiplin ilmu humaniora yang ada dan keahlian saya yang masih minim, tidak akan menghasilkan sebuah magnum opus. Tetapi untunglah, kisah pertemuan dengan Prof. Agus Aris Munandar membawa saya kepada sebuah pemikiran bahwa setiap cerita rakyat, folklore, hikayat, selalu berkaitan dengan suksesi, legitimasi, dan kekuasaan.

Dalam kalangan sarjana humaniora, kekuasaan dan teks atau cerita dibahas secara spesifik dalam kajian Wacana Kritis. Maka itu, untuk terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu humaniora yang mengarah pada perspektif multidisiplin, dengan sekaligus tanpa meninggalkan identitas sebagai orang Melayu, maka saya benar-benar tertarik untuk menelaah legitimasi dan suksesi Raja-raja Melaka di dalam Hikayat Hang Tuah.

Secara serius, penelaahan ini akan disempurnakan di siklus ketiga periode studi saya. Mengapa hal ini dimulai sejak sekarang, bahkan sebelum proses di siklus ketiga dimulai? Saya menyadari bahwa sebuah kerja ilmiah, apalagi yang mengambil rentang periode yang cukup panjang memerlukan upaya yang besar.

Pada tahap awal, saya akan melakukan kajian pustaka/ literature review terhadap riset-riset yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya terhadap sosok maupun Hikayat Hang Tuah. Selain itu, saya juga mencoba menyarikan konsp-konsep legitimasi, kekuasaan, hegemoni, bahkan politik serta kaitan disiplin-disiplin itu di dalam sebuah teks/ naskah. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa 100% telaaah hanya dilakukan terhadap satu objek, yakni Hikayat Hang Tuah.

(bersambung)


Kedatuan Bekut, 13 h.b  Syawal 1440
Haries Pribady

Comments