Hadiah di Malam Tahun Baru



Gegap gempita perayaan Natal dan tahun baru  hanya berselang beberapa hari setelah tsunami di Banten dan Lampung. Banyak korban berjatuhan, sebagian masih belum ditemukan,  bangunan-bangunan rusak parah. Ditambah lagi status Gunung Anak Krakatau yang makin aktif, liburan akhir tahun tampaknya  dijalani dengan hati-hati dan waspada.

Tapi untunglah, perayaan Natal dan tahun baru kali  ini berjalan dengan damai dan tenteram tanpa suatu kendala yang berarti. Sebagai perayaan yang  berada di penghujung tahun, sukacitanya dirasakan oleh banyak orang. Masa cuti bertambah, harga barang di supermarket makin  murah, walaupun tetap ada yang makin bertambah kesibukannya karena mesti berkhidmat untuk melayani umat.

Beberapa tahun belakangan mencuat narasi fikih tentang hukum mengucapkan selamat Natal. Narasi ini tidak hanya dimuat di media mainstream, melainkan menjadi topik perbincangan yang sangat menarik terutama di media sosial. Beberapa muballig memberikan larangan, tetapi tidak sedikit yang mempersilakan.

Penulis melihat perbedaan narasi itu semata-mata dikarenakan minimnya literasi ataupun pemahaman terhadap sejarah serta paradigma yang digunakan dalam  mengkajinya. Ada dua titik tekan perihal Natal, yang pertama adalah pemilihan tanggal 25 Desember, kemudian yang kedua adalah konsep Trinitas Yesus.

Pertama, perayaan Natal yang selalu dilaksanakan pada 25 Desember dianggap tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah, yang kerap kali diungkapkan oleh muballig. Penulis memahami hal ini. Tapi yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai  kelompok terpelajar bahwa fakta sejarah dan sinkretisme ajaran agama adalah hal yang diselaraskan dan mendapat pemakluman.  Bukan semata-mata karena prinsip syariah, melainkan karena agama  merupakan sistem sosial yang mengadopsi nilai-nilai yang lebih dulu ada.

Hal kedua adalah berkaitan dengan konsep Trinitas. Prof. Komaruddin Hidayat pernah menulis bahwa secara esensial, agama-agama di dunia memiliki banyak kesamaan. Kecuali pada tiga hal ini, konsep ketuhanan, ritus peribadatan, dan konsep juru selamat.  Tiga hal itu memang berbeda secara signifikan, lalu apakah bisa diukur dengan fakta-fakta sejarah? Penulis dengan tegas menjawab tidak. Karena pada tataran itu lah, iman berperan untuk menjelaskan dan menjadi paradigma berpikir sekelompok umat.

Momentum Natal setidaknya mengingatkan penulis pada kisah nabi Muhammad. Berdasarkan kisah yang ada di dalam sirah nabawiyah, kenabian Muhammad dinubuatkan oleh seorang Nasrani yang bernama Buhaira. Penubuatan itu disampaikan oleh Buhaira kepada Abu Thalib, paman Muhammad, setelah beliau melihat adanya tanda-tanda kenabian di dalam diri Muhammad muda. Salah satu tandanya adalah adanya awan yang bergerak mengikuti kemana Muhammad berjalan. Setelah melihat tanda-tanda itu, Buhaira pun berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga Muhammad dengan sebaik-baiknya.

Berdasarkan kisah singkat tersebut, jelas bahwa perbedaan keyakinan antara Buhaira dengan Abu Thalib tidak membuat Abu Thalib resisten dengan nubuat terhadap Muhammad. Bahkan, di dalam sejarah Islam nama Buhaira adalah yang paling kerap disebut jika membahas perkara penubuatan itu.


Hubungan yang didasari hormat antara Buhaira sebagai seorang pendeta dengan Abu Thalib  merupakan sebuah contoh yang sangat baik. Khususnya antara penubuatan Buhaira  dengan Muhammad, yang notabene akan membawa sebuah ajaran baru. Namun sayang,  pada saat ini tidak jarang ditemukan narasi sentimen negatif terhadap umat Nasrani. Terutama perihal tanggal kelahiran Yesus dan Trinitasnya.

Pentingnya Lingkungan Multikultural
Memang mesti diakui bahwa sampai pada usia tertentu, anak-anak muslim tidak akan kenal dengan yang namanya Kristen, Katolik, Tionghoa, Buddha, dan Hindu. Terkecuali mereka tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang jamak atau pun memiliki akses literasi yang baik.

Pada mulanya kita melihat orang lain dengan keyakinan agama berbeda sebatas identitas semata,  tidak akan ada konflik, tidak ada kontroversi, intrik, maupun friksi di antara identitas itu. Semuanya terjadi seperti biasa. Secara natural. Seperti halnya penulis mengenal ayah sebagai orang Jawa dan ibu sebagai orang Melayu.

Mengenal orang dengan identitas yang berbeda salah satu caranya adalah dengan memberikan sumber literasi yang cukup. Tetapi sayang, tidak semua orang bisa demikian. Jika pun tersedia bahan bacaan, belum tentu disertai dengan budaya literasi yang memadai.  Nah, buruknya tingkat literasi itu lah  merupakan akar perkaranya.

Belajar Toleransi dengan Bahan Bacaan
Buku, kehadirannya tidak semata hadir untuk bahan bacaan atau rekreasi pikiran semata. Ada banyak proses berpikir yang terjadi ketika seseorang membaca buku. Misalnya proses mengidentifikasi, proses mengklasifikasi, proses menyintesis, proses analisis, bahkan proses evaluasi semuanya terjadi ketika seorang membaca.

Pengenalan terhadap manusia-manusia dari identitas berbeda, secara utuh dan lengkap hanya bisa didapatkan lewat buku. Pemahaman terhadap perbedaan tentu tidak cuma lewat buku.  Seperti yang penulis singgung sebelumnya, bisa juga lewat lingkungan yang plural. Tapi bukankah kita lebih suka tinggal berdampingan dengan orang yang sesuku dan seagama ? Nah, jika demikian kasusnya, maka buku atau sumber  literasi adalah jawabannya.

Tersedianya bahan bacaan dan tingginya minat terhadap aktivitas literasi akan berdampak di dalam perkara ini. Semakin banyak bacaan, semakin seorang manusia tahu dan memahami siapa saja orang yang ada di lingkungannya. Ini bukan berarti untuk mensimplifikasi pergaulan sosial.

Bahan bacaan akan mengantarkan kita pada sebuah tahap pemikiran yang dinamakan pemakluman. Maklum bahwa sebuah kejamakan dan pluralitas adalah sebuah sunnatullah, sesuatu yang alamiah. Tapi celakanya, akhir-akhir ini banyak sekali oknum  tidak bertanggungjawab  yang menyebarkan sikap sentimen negatif terhadap agama dan kepercayaan lain.

Hal yang lebih menyedihkan, artikel tersebut terus menerus diproduksi, disebarkan, dan dibagikan secara membabi buta tanpa melihat dampak yang akan ditimbulkannya. Penulis melihat banyak sekali konten di internet yang berpotensi membenturkan Islam dengan Katolik atau Kristen. Bahkan tak jarang, membenturkan Islam dengan Yahudi yang bahkan ada sebagian umat Islam sendiri belum pernah kenal apa itu Yahudi yang sebenarnya.

Narasi kebencian, persaingan, dan fitnah tak bisa dihapuskan dari jagat maya. Tapi produksi dan distribusinya bisa kita redam. Jika kita sadar. Sebenarnya satu hal yang mengantarkan penulis hingga ke kalimat ini adalah betapa besarnya rasa prasangka buruk kita kepada umat lain, sehingga mendorong kita untuk memperbesar friksi yang ada.

Membaca adalah mengenal alam semesta. Membaca adalah ta'aruf. Selagi masih sempat, selagi negeri kita yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur masih berdiri, segala simpul dan jalinan yang ada, marilah kita jaga bersama. Tak lupa, selamat merayakan Tahun Baru 2019, kiranya berkat Tuhan sentiasa untuk kita semua.


Haries Pribady
Dosen, peminat Critical Discourse Analysis

Comments