Dupa Terakhir





Saya lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Melayu, yang sedikit banyak masih menyandarkan pola hidup sebagaimana Melayu pada umumnya: hidup beradat.

Ketika kecil, kerap kali saya diselamati, dipappas, dengan daun, air tepung beras,  dan taburan beras kuning. Bepappas, kami lakukan lepas sembuh dari sakit atau pun ketika ada hajat dan niat yang terkabul. Tapi kali ini, saya tidak akan bahas itu.

Saya cuma teringat dengan dupa. Wewangian alam yang di kampung saya hanya dipasang di Tek Pekong dan tempat persembahyangan di depan rumah orang Cina.

Di rumah, satu-satunya dupa menyala beberapa tahun lalu. Ketika kakek saya, Abdul Rasyid Shah Irani wafat.  Dupa dipasang di dalam kamar, dekat ujung kaki jenazah.

Bagi saya, itu adalah dupa pertama, barangkali yang terakhir yang dipasang di rumah. Bukan untuk memujia dan puji Dia, melainkan untuk mengharumkan kamar tempat jenazah semata.

Sekarang, dupa sudah mulai kami tinggalkan. Adapun wewangian yang kami bawa ketika ziarah adalah pelbagai bunga dan irisan daun pandan. Semoga harum dan tenteram jiwa kita sentiasa. 🙏

Comments