Sastra Lisan Telah Mati



Sastra lahir dan berkembang sesuai dengan zamannya. Pola hidup masyarakat, kebudayaan, adat istiadat, keadaan geografis dan demografis menjadi faktor penentu kelahiran karya sastra. Satu di antara pelbagai bentuk karya sastra adalah sastra lisan. Sesuai dengan namanya, sastra lisan lahir dan berkembang, serta ditransmisikan melalui lisan. Sastra jenis ini mampu bertahan sangat lama, melewati generasi ke generasi dengan tetap mempertahankan bentuknya semula.

Jika membincangkan manfaat sastra lisan, ianya hanya dapat dipandang dalam kaca mata kekinian. Walau sebagian besar sastra lisan berkembang pada zaman lampau, fungsi yang dimilikinya harus berkaitan dengan masa sekarang: waktu ketika sastra tersebut dikaji dan dipelajari secara intensif.

Komposisi dan transmisi secara lisan adalah ciri utama karya sastra ini. Komposisi memiliki maksud bahwa ide, gagasan, dan ‘tipografi’ disusun dalam bentuk lisan. Namun definisi tersebut tidak akan mengubah status kisah Sangkuriang, Datok Kullup, Bujang Nadi Dare Nandong, dll., menjadi sastra modern akibat telah ditransformasi. Cerita yang telah berubah bentuk tetaplah berstatus sebagai sastra lisan, hal ini disebabkan komposisi dan perkembangannya di masa lampau dilakukan secara lisan.

Media penyebaran dan kapan (serta dengan apa) sastra ditampilkan juga memengaruhi penamaan sastra lisan. Ianya disebarkan secara lisan dalam waktu yang panjang, mampu melewati dan bertahan dari generasi-ke generasi dengan struktur dan pola yang sama.

Sastra lisan merupakan alat refleksi masa lalu yang sungguh akurat. Tidak seperti sejarah yang sekadar mengisahkan masa lalu secara kronologis berdasar waktu, sastra lisan mampu melakukan lebih daripada itu. Subjektivitas pengarang adalah ruh yang dimiliki sastra lisan. Dengan sebjektivitas itu akan tampak sisi-sisi kemanusiaan, yang pada hakikatnya merupakan hal pokok dalam tema yang kerap kali diangkat. Pengarang adalah sosok yang berada di dalam cerita, dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya yang dihasilkannya merupakan cerminan keadaan lingkungan ataupun reaksi dirinya terhadap fenomena yang terjadi.

Sastra lisan mampu menggambarkan kehidupan masa lampau dengan detail, dilengkapi pelbagai masalah yang muncul di dalam masyarakat dan solusi yang dilakukan untuk menyelesaikannya. Perlu dipahami bahwa sastra adalah karya yang bersifat dependen. Ianya bergantung dengan banyak hal termasuklah pada karya sastra yang ada pada periode sebelumnya. Sastra yang baru tidak bisa dilepaskan dari sastra yang lama. Walaupun sastra modern telah mampu membawa warna baru dengan gaya penceritaan yang baru pula, tentu saja ianya merupakan reaksi, antitesis, atas ketidakmampuan sastra lama mengungkapkan hal-hal aktual. Gayutan sastra lama, termasuk sastra lisan, dengan sastra modern adalah kemampuan keduanya mengungkapkan nilai-nilai luhur yang bersifat universal.

Secara eksplisit sastra lisan tampak jauh berbeda dengan sastra modern. Namun keduanya memiliki fungsi yang sama yakni menjadi alat refleksi, alat pembelajaran, dan alat untuk mengubah manusia menjadi insan yang adiluhung. Sastra lisan merupakan hasil kebudayaan manusia yang bersifat nonmaterial. Hasil kebudayaan manusia secara material dan nonmaterial memiliki periodenya masing-masing.

Kemampuan hasil kebudayaan untuk bertahan hingga masa ini dipengaruhi oleh pelbagai hal. Satu di antaranya adalah asas kebermanfaatan, apakah bentuk kebudayaan itu bisa digunakan atau tidak. Sastra lisan sebagai hasil kebudayaan masyarakat yang belum mengenal aksara tentu memiliki periode emas, masa ketika sastra lisan dianggap begitu penting dan mendapat posisi yang tinggi dalam masyarakat. Namun tampaknya periode tersebut akan segera usai.

Pada saat ini sastra lisan hanya didendangkan, dilagukan, dan diceritakan pada waktu tertentu saja. Hal ini disebabkan oleh, satu di antara faktornya, masifnya arus teknologi. Kalau pada awal abad 20 sastra lisan masih diceritakan sebagai pengantar tidur, tidak begitu halnya pada saat ini.

Eksistensi sastra lisan mulai terancam sebab sikap positif dalam mempertahankannya semakin berkurang. Beberapa hal yang dikemukakan di atas adalah ancaman sekaligus tantangan bagi pemerhati sastra lisan. Oleh sebab itu diperlukan suatu upaya untuk mengembalikan, minimum mempertahankan keberadaan, sastra lisan.

Cara paling ampuh adalah dengan melakukan transformasi karya sastra lisan ke dalam bentuk lainnya. Mengubah sastra lisan ke dalam bentuk komik, film pendek, dan lagu tentu akan mengubah bentuknya semula. Namun hal tersebut sama sekali tidak menghilangkan ruh dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

    foto: airikodotcom

Comments