Lupa Cara Menghormati Agama Lain





Beberapa waktu lalu publik dibuat heboh perihal hasil Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama yang  salah satu rekomendasinya adalah untuk menghentikan penggunaan terminologi kafir untuk Warga Negara Indonesia (WNI) yang tidak memeluk agama Islam. Rekomendasi ini muncul akibat rentannya perselisihan antarkelompok yang berbeda keyakinan, terutama dalam menghadapi pesta politik akbar pada bulan April.

Berdasarkan penuturan pimpinan sidang munas itu, Abdul Moqsith Ghazali, kata kafir mengandung kekerasan ideologis. Beberapa kalangan menyambut baik rekomendasi itu, walaupun tidak sedikit yang menolak dengan dalih bahwa terminologi itu telah pun digunakan di dalam kitab suci.

Terlampau banyak politisi yang angkat bicara mengenai rekomendasi ini. Tentu, sebagai salah satu ormas besar di Indonesia, NU telah berupaya meredam gejolak itu.  Tetapi masyarakat tidak akan memeroleh ulasan yang memadai jika pernyataan-pernyataan yang ada selalu diikuti oleh kepentingan tertentu. Maka itu, penulis merasa perlu untuk mengulas kembali perihal terminologi kafir, termasuk penggunaan dan peruntukannya di ruang publik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terminologi adalah telaah tentang peristilahan, batasan, dan definisinya. Adapun Webster mendefinisikan terminologi sebagai kata atau frasa khusus yang digunakan dalam bidang tertentu.

Sebuah terminologi muncul karena meningkatnya kompleksitas kehidupan manusia. Semakin rumit dan canggih cara berpikirnya, maka semakin banyak pula kosakata yang dibutuhkan untuk mewakili konsep pemikiran itu di dunia nyata: yang dalam bahasa awam disebut dengan bahasa.

Atas dasar perilaku dan keperluan terhadap kata yang tepat, di situlah terminologi mengambil peran. Terminologi akan menjadi batasan penggunaan kata-kata sesuai dengan peruntukannya. Sebagai sebuah contoh penulis mengambil kata morfologi. Di dalam linguistik, morfologi merupakan telaah tentang seluk-beluk bentuk unit bahasa. Tapi berbeda defenisinya jika dalam konteks ilmu biologi, yakni sebagai kajian tentang bentuk fisik mahkluk hidup. Dengan contoh itu, satu kata yang sama akan memiliki makna berbeda sesuai dengan bidangnya.

Selain karena peruntukannya, terminologi yang merupakan telaah tentang definisi ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteksnya. Sebagai sebuah contoh, kata mangkat hanya tepat apabila dipadankan dengan manusia, bukan untuk hewan atau tumbuhan, apalagi untuk sebuah mesin. Hal ini diakibatkan melekatnya kata pada sebuah konteks. Pun begitu, kata saya dianggap lebih sopan daripada aku, semata-mata karena nilai rasa yang dibawanya.

Menggunakan sebuah terminologi tidak hanya menuntut kita untuk memahami makna sebuah kata, melainkan juga mesti mengetahui seluk-beluk konteks dan nilai rasa yang dibawanya. Berkaitan dengan terminologi kafir, penulis akan mengemukakan beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, penulis menyambut baik rekomendasi NU tersebut. Kata kafir memang berasal dari bahasa Arab, akan tetapi dalam hal ini penulis membedahnya dengan pendekatan linguistik secara umum.

Ada beberapa subdisiplin linguistik yang dibutuhkan untuk menjelaskan duduk perkara masalah ini, di antaranya adalah psikolinguistik, sosiolinguistik, dan pragmatik. Berdasarkan KBBI kata kafir didefinisikan sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Secara sederhana kafir semua orang yang bukan Islam masuk ke dalam kategori ini. Memang betul, secara definisi menyebut warga negara Indonesia yang bukan Islam dengan kata kafir tidak menyalahi aturan berbahasa. Tetapi, dalam situasi yang cukup gaduh seperti ini apakah hal itu cukup bijaksana?

Perlu sama-sama dipahami bahwa bahasa tidak sekadar bicara tentang benar-salah, tidak hanya membahas tentang kaidah-aturan. Hal yang kerap dilupakan, terutama di era digital seperti sekarang, bahasa juga mencakup prinsip kepatutan dan kepantasan.

Bagi kalangan strukturalis-tradisionalis, pada mulanya bahasa dianggap sebagai komponen lingual semata. Pada kenyataannya ternyata tidak demikian. Semakin lama bahasa semakin berkembang untuk mengakomofasi kebutuhan manusia. Bahasa tidak dibahas secara tunggal, melainkan terikat dengan kajian-kajian lain yang lebih kompleks.

Pada perkara ini, penulis memandang bahwa kata kafir selalu memikul nilai rasa negatif. Pun di dalam penggunaannya di masyarakat kerap diasosiasikan dengan hal yang buruk. Dengan demikian, penulis teguh berpendapat bahwa penyebutan kafir untuk kalangan nonmuslim adalah sesuatu yang kurang patut untuk dilakukan.

Kedua, mempelajari bahasa adalah perkara mustahak yang perlu dilakukan oleh semua orang. Secara teoretis bahasa memang hanya dipelajari oleh pelajar sosial-humaniora, tetapi itu tidak lantas menggugurkan kewajiban kita untuk mengkajinya.

Bahasa adalah alat komunikasi manusia yang paling vital  Dengan bahasa manusia berpikir dan melakukan interaksi sesamanya. Adalah sebuah hal yang wajar jika kita sama-sama menghindaei penggunaan kata yang sentiasai membawa nilai rasa negatif.

Jika kebiasaan buruk itu tetap diteruskan, bagaimana kita hendak mewujudkan negeri yang aman, tenteram, dan damai: yang ketiga kata itu justru bernilai rasa yang berseberangan dengan kata kafir.

foto: islamidotco


Comments