Etika Berbahasa di Ruang Publik




Loncatan teknologi yang luar biasa menyebabkan perubahan signifikan bagi peradaban manusia. Gebrakan besar-besaran terjadi hampir di semua lini. Ditambah gaung Revolusi Industri 4.0, manusia dan kebudayaannya akan berubah menuju suatu bentuknya yang baru.

Dari sekian banyak fenomena yang terkait dengan perubahan itu, penulis tertarik untuk mengulas perihal perubahan konsep masyarakat awam saat berinteraksi di ruang publik: wahana yang pada beberapa dekade lampau hanya bisa dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki kesamaan preferensi politik.

Ruang publik adalah tempat terjadinya interaksi, baik secara horisontal antarsesama anggota masyarakat ataupun secara vertikal antara penguasa dengan konstituennya. Dalam ulasan ini penulis sengaja membatasi ruang publik sebagai tempat terjadinya komunikasi di dunia maya. Baik itu komunikasi lisan ataupun tulisan.

Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti saat ini, ruang publik bisa dikatakan sangat terbatas dan berada di dalam celah sempit aturan-aturan pemerintah.   Hanya ada beberapa televisi, majalah, dan koran, serta beberapa stasiun radio yang kesemuanya itu berada di dalam pengawasan lembaga penyiaran.

Ruang publik tidak terbuka lebar, hanya segelintir orang yang bisa bersuara dan situasi yang ada pun tidak memungkinkan terjadinya suatu proses dialektika yang komprehensif.

Sekarang hal itu sudah jauh berubah. Ruang publik yang dulu sempit dan elit, kini bisa dimasuki oleh siapapun. Tumbuh suburnya berbagai platform media sosial membuat setiap individu punya mimbarnya masing-masing. Tidak hanya itu, batas-batas kepakaran dan profesionalitas pun mulai luntur seiring mudahnya kita dalam mengakses dan mempelajari ilmu-ilmu baru. Bahkan, dengan tersedianya platform blogging dan microblogging membuat setiap orang bebas untuk menyampaikan isi pemikirannya. Selama tidak bertentangan dengan ideologi negara, hal itu tidak akan dipermasalahkan.

Berubahnya ruang publik menjadi dunia yang tanpa sekat tentu membawa dampak yang luar biasa. Informasi bisa sampai dalam sekian detik ke ratusan juta orang, kegiatan sosial mendapatkan lebih banyak dukungan, dan yang paling penting adalah ilmu pengetahuan bisa didistribusikan dengan bebas untuk bisa diakses oleh siapapun dan dalam bentuk apapun. Tentu dengan tidak mengenyampingkan bahwa kebebasan berpendapat yang merupakan ruh dari alam demokrasi bisa tumbuh subur di ruang publik yang baru.

Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari perubahan pola ruang publik. Tapi, keleluasaan bermain-main dan berinteraksi di dalam ruang yang penuh dengan teks dan konteks itu tidak selamanya memberikan kesan yang baik. Ada beberapa hal yang cukup menyita perhatian penulis.  Ruang publik yang sejatinya adalah wilayah tanpa kontrol mulai menunjukkan perilaku asli penggunanya. Pada saat ini di ruang publik yang ada, tak jarang ditemukan ungkapan-ungkapan bahasa yang menyalahi etika.

Secara sederhana, etika berbahasa di ruang publik adalah standar nilai tidak tertulis yang perlu dipatuhi oleh setiap orang ketika berinteraksi dengan orang lain. Tapi dengan adanya pergerakan yang cukup konstruktif dalam penegakan hukum formal, segala bentuk ungkapan bahasa kini sudah bisa diperkarakan di pengadilan. Etika pun kemudian berdiri di atas sebuah aturan perundangan yang baku dan formal.

Dalam bentuknya yang baru, mudah sekali kita temukan pelbagai umpatan, cacian, ancaman, serta berita bohong dan provokatif di ruang publik. Hal ini pada mulanya dimaklumi karena tidak semua orang yang menggunakan platform ruang publik online  merupakan kelompok terdidik. Tapi ada satu temuan yang cukup mengejutkan. Ternyata ada sebuah upaya tersistem sehingga narasi-narasi niretika tersebut terus-menerus diproduksi dan beredar di linimasa kita. Sudah sangat jelas, tindakan tersebut melanggar etika berbahasa di ruang publik. Maka itu, perlu sebuah upaya agar hal itu tidak terjadi lagi.

Berkaitan dengan permasalahan di ruang publik serta korelasinya terhadap pelanggaran etika berbahasa, ada beberapa hal yang akan penulis kemukakan. Pertama, ruang publik di masa kini tidak lagi memiliki batas-batas yang jelas. Hilangnya batas-batas itu menyebabkan narasi yang beredar diinterpretasi secara sembarangan. Oleh sebab itu, sebaiknya setiap orang yang berada di ruang publik mesti menghindari ungkapan yang tendensius dan overgeneralisasi dalam menanggapi suatu perkara. Kerumitan sebuah hal tidak hanya saat teks diproduksi, melainkan saat didistribusikan dan ditafsirkan  oleh orang yang tidak tepat.

Kedua, kita perlu memahami bahwa setiap kata yang digunakan untuk berinteraksi, selain mengandung makna juga mengandung rasa. Setiap orang kiranya hendak berhati-hati dalam mengungkapkan sebuah hal. Terutama jika hal itu menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak. Bukan hal yang aneh lagi saat kita menemukan seseorang dipidana karena sebuah status atau cuitannya di media sosial.

Ketiga, perlu ditekankan bahwa walaupun kemampuan kita dalam memverifikasi hoax sudah begitu canggih, jangan sampai ruang publik yang ada menjadi wahana penyebaran berita bohong dan provokatif. Perlu kejelian dalam memahami sebuah teks yang beredar. Akuntabilitas penulis dan lembaga yang merilisnya adalah hal yang perlu dicek pertama kali. Sekarang banyak sekali hoax yang beredar di ruang publik. Hal ini sangat disayangkan, sebab ruang publik tidak didesain demikian.

Keempat, ruang publik adalah alat untuk melatih kemampuan berpikir kritis, tapi bukan kritik dengan caci maki. Munculnya era reformasi mengubah pola komunikasi penguasa dengan masyarakat.

Ruang publik telah menjadi alat untuk menjaring aspirasi. Beberapa kepala daerah bahkan dengan santainya saling berbalas komentar dengan konstituen di akun media sosial pribadi miliknya.

Dengan pelbagai platform yang ada, seringkali kritik terhadap pemerintah disampaikan secara langsung. Respon mereka pun beragam, ada yang baik, ada pula yang tidak acuh.  Tapi akan sangat disayangkan jika ketidaksukaan terhadap sebuah kebijakan disampaikan dengan kata-kata yang kasar. Adalah betul jika hal itu bentuk kebebasan berpendapat, tetapi pendapat apa yang akan diakomodasi jika tidak disampaikan dengan ungkapan yang sepantasnya?

Empat hal yang penulis kemukakan adalah sangat penting untuk direnungkan. Memang betul, ruang publik adalah tempat untuk melakukan interaksi  Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya agar tetap kondusif dan nyaman: dengan sentiasa memerhatikan etika berbahasa di ruang publik.


Terbit di Suara Pemred Kalbar, 8 Maret 2019
foto: etihad.com

Comments