Linguistik dan Dinamika Komunikasi




Beberapa waktu lalu salah seorang teman mengirim tautan kepada penulis. Ketika dibuka muncullah kalimat seperti ini,  "Gawai lu kenapa sih? Chattingnya luring mulu. Ga sangkil banget tahu ngga. Ah, udahlah, mending swafoto aja." Terlihat aneh dan tidak biasa, bukan? Iya, itu lah keadaan bahasa Indonesia di masa kini. Dinamis dan terus berkembang.

Perlu dipahami bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dalam kegiatan menyampaikan ide maupun gagasan, bahasa menjadi media antara satu individu dengan individu lainnya. Bahasa memungkinkan terjadinya interaksi verbal.  Di saat ini, dengan tidak menyebutnya sebagai alat komunikasi yang utama, bahasa adalah alasan mengapa interaksi antarindividu bisa terjadi.

Interaksi antarindividu menyebabkan terjadinya persinggungan kode-kode bahasa. Dengan landasan berpikir bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan penguasaan kode (kosakata) yang beragam, dengan adanya interaksi maka akan terjadi pengenalan, pemilihan, dan penggunaan kode tersebut.

Interaksi antarindividu yang berada dalam satu kode tidak akan menyebabkan persinggungan yang signifikan. Persinggungan yang signifikan terjadi jika interaksi dilakukan oleh individu-individu yang berada dalam dua kelompok kode berbeda. Antara individu bersuku Jawa dengan individu bersuku Batak misalnya. Masyarakat Batak yang semula tidak mengenal kode 'jenang' sebagai sebuah makanan, akan mengenal kode itu setelah terjadi interaksi dengan masyarakat Jawa. Itu adalah sebuah contohnya.

Persinggungan kode itu tidak hanya terjadi pada bahasa daerah. Bahasa Indonesia yang dikodifikasi selama puluhan tahun sejak 1928 pun mengalami hal serupa. Bermula dari bahasa Melayu yang merupakan bahasa pergaulan di nusantara selama berabad-abad, bahasa Indonesia pun terus mengalami perubahan dan perkembangan. Hal itu bukanlah hal yang baru, sebab bahasa awalnya pun demikian. Bukan hal yang susah untuk menemukan serapan dari bahasa Arab, Cina, India, dan Eropa di dalam bahasa Melayu. Hal itu terjadi karena terjadinya persinggungan antara penutur bahasa Melayu dengan bahasa asing tersebut.

Pascakemerdekaan, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional. Ini merupakan bentuk legal formal dari bahasa Melayu yang telah digunakan sebagai bahasa pergaulan sebelum masa pergerakan nasional. Penamaan bahasa Indonesia pun barangkali atas asas nasionalisme itu. Selama berpuluh tahun, bahasa Indonesia dikodifikasi sehingga mencapai puncaknya yang tertuang di dalam Ejaan Bahasa Indonesia (penyempurnaan dari Ejaan yang Disempurnakan).

Proses kodifikasi bahasa Indonesia dalam bentuk ejaan dan penyempurnaan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dilakukan secara kontinu.  Nah, ada beberapa hal yang menarik di dalam proses kodifikasi ini. Merujuk pada paragraf pertama, ada beberapa kode yang asing bagi sebagian orang.  Kode yang tidak lazim, namun muncul di dalam KBBI edisi terbaru.


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kok kode atau lema bahasa di dalam KBBI bisa bertambah ya? Siapa yang melakukan hal itu? Nah, perlu diketahui bahwa Indonesia memiliki sebuah lembaga yang bertugas untuk memelihara, membina, mengembangkan, dan memublikasikan proporsi, konsumsi, dan hasil riset kebahasaan. Lembaga itu bernama Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebuah badan yang berada di bawah naungan Kemenangan Pendukung dan Kebudayaan. Di dalamnya ada peneliti bahasa, nah tugas mereka lah yang melakukan kodifikasi dan penyempurnaan ejaan dan KBBI itu.

Ejaan sebuah bahasa dikodifikasi agar memiliki sistem yang jelas dan baku. Kodifikasi tidak sepenuhnya diperlukan oleh tiap bahasa, namun bagi bahasa nasional itu adalah sebuah keharusan. Hal ini disebabkan bahasa Indonesia adalah bahasa resmi kenegaraan dan bahasa yang digunakan sebagai pengantar dalam kegiatan intelektual.  Adapun penyempurnaan KBBI dipandang perlu dilihat dari beberapa aspek.

Pertama, untuk memudahkan pengenalan terhadap sebuah konsep, diperlukan kode yang tepat. Dalam perkembangan pengetahuan, ternyata ada beberapa kode yang pada mulanya tidak ditemukan di dalam bahasa Indonesia. Misalnya kode 'televisi', 'telepon', 'internet' dan sebagainya yang sebagian besar merupakan istilah sains dan humaniora yang perkembangannya sangat pesat di negara luar. Atas sebab itu, kode tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan beberapa penyesuaian, terutama dalam tataran fonologi dan morfologi. Dengan demikian, penutur bahasa Indonesia bisa memahami konsep sebuah alat yang. Isa menampilkan gambar bergerak dan suara dengan kode 'tekevisi', bukan lagi dengan kode 'television' seperti di bahasa aslinya.

Kedua, penyerapan bahasa asing dilakukan beriringan dengan mencari padanan katanya yang tepat di dalam bahasa daerah. Penulis meyakini bahwa pelajar dan mahasiswa lebih dulu mengenali kode 'downdload' dan 'upload' dibandingkan kode  'unduh' dan 'unggah'. Mengapa demikian? Hal ini dinilai wajar karena konsep mengambil sebuah data melalui internet lebih dulu muncul dalam konsep 'downdload'.  Sebuah kata yang lazim ditemukan ketika menggunakan internet.  Kode-kode tersebut secara fonologi dan morfologi tidak berterima dengan ejaan bahasa Indonesia. Atas sebab itu lah, peneliti berusaha mencari padanan katanya dari bahasa daerah sehingga muncul kode 'unduh' dan 'unggah' yang berasal dari bahasa Sunda untuk menggantikan kode asing tersebut.

Ketiga, tidak hanya melalui penyerapan dari bahasa asing atau pun bahasa Indonesia, sebuah kode bisa disintesis atau diciptakan oleh seorang linguis (ahli bahasa).  Dalam kalimat yang dikirim oleh teman penulis di atas ada kode luring. Apa sih luring itu? Luring adalah akronim dari dua kata luar jaringan. Kode luring disintesis oleh linguis sebagai padanan kode 'offline' sebuah konsep yang menyatakan keadaan sebuah benda tidak tersambung ke jaringan internet.

Beberapa hal yang penulis kemukakan di atas adalah analisis untuk menjawab kebingungan seorang teman tentang munculnya kosakata-kosakata baru. Apakah munculnya kosakata-kosakata (kode) akan memengaruhi kegiatan penerjemahan dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, ke bahasa Indonesia? Hal ini tentu saja berpengaruh. Oleh sebab itu diperlukan kehati-hatian dan pemahaman yang baik terhadap kosakata dan konteks kalimag di dalam aktivitas penerjemahan.

Dinamika komunikasi, terutama pada penggunaan kata, adalah sebuah tanda bahwa bahasa terus-menerus berkembang. Masyarakat akan membentuk bahasa yang mampu mengakomodasi kebutuhan mereka. Jika ada beberapa kosakata lawas yang mulai jarang digunakan, maka munculnya kosakata baru adalah hal yang wajar dan bisa diterima.




Haries Pribady
Peminat Critical Discourse Analysis


*terbit di Koran Suara Pemred Kalbar, 25 Januari 2019
*foto Bala Pendidikan

Comments