Harta Karun Gaib Sultan Sambas



Merancang sebuah peradaban bukan perkara yang mudah. Perlu upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukannya. Tidak sedikit tenaga, waktu, pikiran, bahkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah daerah yang berperadaban. Di masa sekarang, tentu saja peradaban yang diharapkan adalah tentang bagaimana setiap anggota masyarakat bisa hidup dengan tenang di dalam sebuah sistem yang menjalankan pemerintahan yang progresif dan berkelanjutan.

Peradaban yang diharapkan tidak semata-mata dari aspek jasmani saja. Seperti yang telah disebutkan, setiap bentuk kemudahan hidup adalah untuk memenuhi aspek jasmani. Tetapi juga dari aspek ruhani. Peradaban mestilah mampu menciptakan masyarakat yang cerdas dan bermartabat kemudian mengakomodasinya demi kemajuan. Jika peradaban diukur dengan seberapa canggih teknologi yang digunakan pada saat sekarang, maka yang menjadi tolok ukurnya adalah peradaban di masa depan yang semuanya serba bersifat digital. Tentu, semua bangsa, semua negara tengah menuju kesana. Tapi tidak ada salahnya, jika mengukur sebuah peradaban dengan membandingkannya dengan periode-periode lampau. Istilahnya adalah menggunakan pendekatan sejarah sebagai tolok ukur kemajuan peradaban. Hal itu lah yang akan dikupas dalam tulisan singkat ini.

Berdasarkan hasil penelitian sejarawan, ada beberapa hal yang mesti diungkapkan sebagai basis argumen dalam tulisan ini. Pertama, Sambas adalah daerah yang menerapkan pluralisme dan sangat terbuka menerima kebudayaan lain. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya komunitas muslim Hanafi yang merupakan kumpulan pedagang berkebangsaan Cina pada tahun 1407 Masehi. Kedua, untuk urusan hubungan eksternal, pada tahun 1609 Masehi telah diadakan sebuah perjanjian perdagangan emas antara Ratu Sepudak dengan serikat dagang Hindia Belanda (VOC). Ketiga, pada tahun 1868 dan tahun 1869 Sultan Muhammad Tsafiuddin II mendirikan Madrasah Sulthoniyah dan Lembaga Keulamaan Sambas dengan seorang pemimpin yang diberi gelar Maharaja Imam. Keempat, Muhammad Basuni Imran adalah penulis tafsir Qur'an pertama di Kalimantan yang berjudul Tafsir Surat Tujuh. Kelima, ulama kenamaan Syaikh Ahmad Khatib Sambas pendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah salah satu ulama yang berpengaruh di nusantara. Keenam, Kesultanan Sambas merupakan kesultanan terbesar di wilayah barat Kalimantan. Enam fakta sejarah ini setidaknya bisa membangunkan masyarakat Sambas dari tidur panjangnya yang sudah sangat melampaui batas.

Enam fakta sejarah tersebut hanya sedikit dari sekian banyak bukti kejayaan sultan dalam memimpin Sambas. Betul, keadaan zaman lampau tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan keadaan sekarang. Namun paling tidak, ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari sejarah kejayaan sultan demi mewujudkan Sambas yang berkemajuan. Adapun pelajaran yang bisa diambil dipaparkan sebagai berikut.

Pertama, untuk mewujudkan kemajuan Sambas, sifat keterbukaan dan pemahaman terhadap hakikat keberagaman adalah harga mati yang tidak bisa digoyangkan. Penerimaan masyarakat dan raja terhadap pedagang Cina, India dan Arab, selanjutnya penerimaan para ratu terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Raden Sulaiman merupakan bukti bahwa Sambas sama sekali tidak berada dalam kondisi yang jumud dan takut terhadap perubahan.

Kedua, hubungan kerja sama dengan pihak luar sangat dibutuhkan agar Sambas memiliki daya saing dan terus berkembang. Ada hal yang menarik, perjanjian dagang antara Sambas dengan VOC hanya berselisih tujuh tahun dari serikat dagang Hindia Belanda itu berdiri. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu hubungan eksternal kerajaan Sambas sudah terbina dengan sangat baik.

Ketiga, revitalisasi lembaga ilmu pengetahuan adalah kunci utama agar bisa mewujudkan peradaban yang maju. Pendirian Madrasah Sulthoniyah dan Lembaga Keulamaan merupakan dua contoh utama betapa para sultan begitu peduli pada perkembangan ilmu dan pengetahuan. Walaupun sistem pembelajaran masih diadopsi dari Mesir dan Saudi yang ditandai dengan dominasi ilmu agama, pendirian lembaga tersebut memberikan sinyal bahwa ilmu pengetahuan mesti diajarkan secara terarah dan teratur. Dengan memiliki ilmu pengetahuan, seorang manusia akan memiliki bekal hidup dan mampu bersaing. Hal itu lah yang diasumsikan sebagai landasan para sultan begitu konsen terhadap pengembangan pendidikan.

Keempat, menjaga nama baik dan terus menerus bekerja untuk kesejahteraan masyarakat adalah yang pertama dan terutama. Sebagai keturunan murni Sultan Brunei, para sultan Sambas berupaya keras untuk memakmurkan daerah kekuasaannya. Kekayaan alam dikelola dengan maksimal, bahkan hingga mendatangkan tenaga ahli penambang emas dari Tiongkok. Batas-batas wilayah diatur sedemikian rupa dengan perjanjian supaya tidak terjadi perselisihan. Kedaulatan betul-betul dijaga dengan menguasai jalur perdagangan.

Menengok sejarah masa lampau tentang kejayaan para sultan bukanlah sebuah tindakan utopis. Sebagai sekelompok masyarakat yang digadang-gadang berkebudayaan dan menghormati pesan "Nek Datok" seharusnya Sambas pada saat ini tengah berada di menara gading. Tidak lagi berhadapan dengan akses jalan yang terbatas, tidak lagi berhadapan dengan sumber daya manusia yang rendah, tidak lagi berhasil dengan krisis moral dan etika.
Catatan singkat ini adalah tamparan buat semuanya, termasuk kepada penulis sendiri. Lewat fakta-fakta sejarah, para sultan tengah berpesan bahwa kemajuan Sambas adalah dengan menghidupkan kembali nilai-nilai yang telah dijalankan oleh para sultan. Sehingga pada masa lampau, Sambas pernah mencapai puncak kejayaannya sebagai kesultanan terbesar di barat Kalimantan.

Sebagai penutup, mari kita hadiahkan doa kepada seluruh raja dan sultan yang pernah berdaulat di tanah Sambas. Untuk yang kami agungkan dan muliakan para raja dan sultan, serta untuk para imam dan maharaja imam, Alfatihah.

Comments