LALITAVISTARA (I)





SABTU PAGI. Rumput di halaman rumah makin tinggi, makin hijau, makin lebat, makin tak terurus, makin tak terawat. Biasanya pemilik rumah datang saban bulan untuk membersihkan rumah yang aku tempati. Tapi sudah tiga bulan ini, si janda pemilik rumah tak pernah muncul lagi. Barangkali sedang sakit atau apa lah, aku tak tahu.  Matahari tampak makin tinggi, menyinari bumi dengan gagah perkasa, dengan sombong.

Rumah dua lantai, tak bertetangga. Di situlah aku dan beberapa teman hidup berteduh selama menyelesaikan kuliah. Jauh dari kesan mewah, di rumah sederhana itulah  para laki-laki muda yang sedang bergelora dalam semua hal melepas letih, lelah, kesal, capai, hingga melepas benih-benih mereka. Di dinding kokoh milik perempuan yang sering berganti kasih atau pun di selembar tisu. Bahkan benih-benih itu kadang dielap  dengan baju bekas, lalu dilempar begitu saja ke pojok kamar hingga kering. Sebagian tumpah ke lantai, bersatu dengan debu dan abu, bersatu dengan jelaga dan ampas kopi yang tumpah namun tak pernah dibersihkan. Rumah yang tak pernah terkunci, sepanjang tahun, sering dimasuki laki-laki dan perempuan, sering pula dimasuki pencuri. Pencuri barang berharga hingga pencuri perhatian laki-laki muda yang selalu haus dengan perasan keringat mahkluk berbuah dada.

Aku mengisap rokok, entah puntung yang ke berapa. Hari ini rasanya begitu suntuk. Aku baring di kasur butut,  memandangi coretan di dinding yang kubuat sendiri. Lantai kamar kotor oleh debu dan abu, sebagian tampak bercak-bercak bening. Entah bekas apa, mungkin gara-gara perbuatan tadi pagi dengan orang yang baru kukenal.

Televisi  menyala, menyiarkan entah berita sampah yang tak jelas sumbernya. Akhir-akhir ini televisi mulai terpolarisasi. Aku mengganti-ganti kanal, tak ada yang menarik perhatian. Namun biar saja televisi menyala, di dalam kotak kaca  ada seorang pewarta perempuan muda sedang membacakan berita. Kuhirup napas panjang, rokok hampir padam. Berita yang disampaikan masih berkaitan dengan perseteruan presiden dengan DPR. Padahal sudah setahun, hawa-hawa panas dua kubu masih tetap terasa.

Sebagai mahasiswa jurusan sastra, aku tak begitu ambil pusing. Aku hanya memandang sederhana, semua yang terjadi di atas muka bumi adalah skenario Sang Kuasa. Aku telah menjadi pemuja nativisme sejati setelah memasuki semester akhir, semester yang seharusnya digunakan untuk skripsi, namun habis dengan pesta, buku bacaan, dan petualangan cinta.

“Bram, dimana?” Pesan singkat masuk yang baru kubaca setelah buang air. “Aku ke tempatmu ya!” Tak lama, orang yang mengirimiku pesan, datang. Kami berbicara singkat, sedikit saja. Pagi itu rumah sedang sepi, teman-teman kontrakan  belum ada yang bangun tidur. Ah, kontrakan culas! Orang itu masuk, langsung rebah di kasur butut. Pandanganku mengitar ke  sekeliling, gorden ditutup, begitu pula dengan pintu. Agar tak mencurigakan, alas kaki orang itu dibawa masuk ke kamar.  Kudekati tamuku, basa-basi sebentar. Ada peluk dan kecup, lalu berakhir dengan peluh, desah, dan bercak-bercak bening-lengket di lantai.

Aku kembali mengisap rokok. Rokok buatku gila dan ketagihan. Sehari tanpa rokok lebih buruk daripada sepekan tanpa makan! Aku baru ingat dengan jadwal diskusi sore ini, lalu segera berbenah, mandi, menggosok semua perkakas,  mengecek ulang apakah ada bekas merah di kulit leher dan tengkuk. Tak berganti pakaian, hanya menyemprotkan parfum murah-palsu isi ulang, aku pergi meninggalkan rumah kontrakan.

Aku menerawang jalan, mengingat-ingat kalimat yang diucapkan sang  tamu  ketika berselingga denganku, “Istri mas lagi mens.” Ah, tak peduli lagi, akhir-akhir ini semuanya jadi  liar.


Oleh Bagus Mantre

Comments