Bela Anjing Bung?




Beberapa waktu lalu, seorang laki-laki asal Pontianak menulis tentang penggunaan hewan di dalam upacara tatung. Di dalam tulisan yang diunggah ke Facebook, laki-laki berinisial BS  menekankan bahwa penggunaan hewan di dalam upacara tatung adalah tindakan yang menjijikkan dan berlebihan. Sontak, tulisan tersebut memancing reaksi banyak orang. Apalagi tulisan tersebut diunggah hanya berselang beberapa jam setelah festival Cap Go Meh di Singkawang dilaksanakan.

Berbeda pendapat dalam memandang sebuah hal barangkali adalah hal yang wajar, namun jika hal tersebut dibawa ke ranah publik, akan terjadi suatu hal yang akan sulit dikontrol. Dilihat dari betapa banyaknya umpatan yang disampaikan kepada BS , walaupun tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan. Saya yakin, BS tahu betul dengan sasaran pembacanya di Facebook. Alih-alih mendapatkan tanggapan positif, reaksi warganet pun sudah bisa ditebak. Begitu impulsif! Ya, barangkali itu strategi beliau menjelang pilkada. Langkah awal menjadi konsultan politik. Mungkin.

Di dalam unggahannya, BS menyampaikan beberapa hal. Tapi yang jadi pokok argumentasi adalah penggunaan anjing di dalam upacara. Anjing dibunuh dengan cara digigit untuk diambil darahnya.  Hal itulah yang menjadi permasalahan yang diangkat BS.  Lalu dengan narasi yang lumayan panjang, pembaca pun digiring untuk mengambil sebuah sikap bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan menjijikkan dan tidak pantas dilakukan. Benarkah demikian?

Sebelum menjawab hal tersebut, barangkali BS mesti melihat (atau pura-pura tidak melihat?) bahwa Kalimantan Barat tidak hanya  ditinggali oleh masyarakat urban yang acuan berpikirnya tidak berdasarkan kearifan lokal. Ditambah dengan jumlah suku yang beragam, Kalimantan Barat memiliki aturan adat yang berbeda-beda. Bagi masyarakat adat, penggunaan hewan di dalam upacara adalah hal yang lumrah dan wajar. Semakin besar upacaranya, semakin besar hewan yang digunakan.

Barangkali BS telah mengglorifikasi anjing sebagai hewan peliharaan, sehingga tidak sepantasnya untuk digunakan dalam upacara. Nah, bagaimana umat Hindu bersikap terhadap orang yang memenggal sapi, bisa dijadikan contoh. Umat Hindu memuliakan sapi namun tidak memberikan pernyataan tendensius bagi umat Islam yang justru menjadikan sapi sebagai hewan kurban dan kemudian memakannya. Tepatnya adalah ada standar yang berlaku bagi diri sendiri, namun tidak untuk kelompok yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa jika ada nilai yang dianggap tidak tepat bagi seseorang, bukan berarti gagasan itu boleh dibawa ke muka publik. Perlu ada telaah lebih lanjut.

Selanjutnya adalah setiap orang perlu memandang bahwa keyakinan yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Barat, dalam bagaimanapun bentuknya, mesti dihormati dan diberi tempat. Tentu, konsep kerasukan sambil menusukkan benda tajam ke tubuh  tidak ada dalam setiap kepercayaan, lantas, jika masyarakat Tionghoa di Singkawang melakukannya, tidak berarti itu jadi salah kan?

Poin terakhir yang perlu dicermati bersama adalah pentingnya untuk menghormati kebudayaan dan kearifan lokal. Perlu diakui, berpindahnya masyarakat Indonesia menjadi pemeluk agama semit berdampak pada berubahnya pola pikir terhadap alam sekitarnya. Tentang dulu bagaimana alam sekitar dihormati karena menjadi tempat berinteraksi dengan leluhur, sekarang telah dianggap sebagai tindakan yang udik dan kurang beradab. Tentang bagaimana penggunaan anjing di dalam upacara, sekarang telah dianggap sebagai tindakan menjijikkan. Apakah nanti atraksi tatung akan dihilangkan dari kearifan lokal masyarakat Tionghoa karena dianggap sadis dan berbahaya?

Di dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu ditekankan. Pentingnya menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai lokal, adalah harga mati untuk tetap bisa hidup tenteram di Kalimantan Barat. Secara subjektif, saya betul-betul kecewa dengan munculnya tulisan ambisius yang disampaikan oleh BS. Namun, sebagai sesama teman, yang entah karena sebab apa beliau memblokir akun saya, saya merasa perlu untuk memberitahu dan mengingatkan.


Singkawang, 10 Maret 2018
Haries Pribady

*Foto: IG Capgomeh Singkawang

Comments