Tjhai Chui Mie Gagas Progressive and Sustainable City Development (PSCD)?




Tadi malam saya bertemu dengan pengurus Pusat Studi Humaniora Indonesia (PSHI) di sebuah warung kopi di Singkawang.  Sebagian dari mereka memesan kopi tenggek (Vietnam Drip) sedangkan saya cukup dengan segelas kopi susu yang dihidangkan di gelas keramik. Gelas yang sudah ke sekian kalinya di satu hari yang sama. Tidak banyak hal yang saya dan teman-teman PSHI perbincangkan. Ya, sekadar hal remeh-temeh tentang sebuah kota yang sangat potensial namun niridentitas: Singkawang.

Pusat Studi Humaniora Indonesia adalah sebuah nama yang dicetuskan, bukan untuk melembaga seperti kelompok riset. Namun lebih ke arah forum diskusi yang diisi oleh sekelompok orang yang masih memegang nilai-nilai kemanusiaan dan moderat di dalamnya. Bertemu saban bulan, dengan topik pembicaraan yang tak banyak berubah.

Membicarakan Singkawang, berarti membicarakan sebuah kota kecil yang terkenal dengan pluralisme dan toleransinya. Sejak berubah status menjadi kota administrasi, Singkawang pun mem-branding dirinya sendiri. Lebih tepatnya berupaya mem-branding dirinya sendiri. Namun, sukses kah? Tampaknya belum.

Agri, pengurus PSHI sempat melontarkan celetukan bahwa Singkawang dalam beberapa periode akhir tidak dibangun dengan rancangan jangka panjang. Pegiat lingkungan hidup dan pemerhati sejarah itu juga menyatakan bahwa Singkawang tidak dikelola dengan sungguh-sungguh. Tidak menyeluruh, tidak dikelola dari hulu ke hilir.

Singkawang sempat di-branding sebagai kota pariwisata. Namun, pariwisata apa yang bisa dijual? Pantai? Pantai yang tak begitu indah. Objek sejarah? Bangunan yang tidak terdata dan tidak terurus dengan baik. Kuliner? Hmmmm, masih banyak turis yang antipati dengan makanan Chinese. Oleh-oleh? Ya, pusat oleh-oleh yang sepi pengunjung karena tidak ada produk di dalamnya.  Oke, masih ada satu, Imlek dan Cap Go Meh. Betul, orang datang untuk menghadiri Imlek dan Cap Go Meh. Tiga hari dalam setahun, maka 362 hari Singkawang kosong. Tidak dikunjungi. Hanya hiruk pikuk Pasar Hongkong yang buka dari pagi sampai pagi lagi. Itu pun karena harga makanannya murah, walaupun belum disertifikasi.

Tentang branding sebagai kota wisata, ada baiknya Singkawang dalam hal ini pemerintah kota fokus pada pembangunan SDM sekaligus insfratruktur. Dari hal paling sederhana, misalnya pendampingan UMKM secara intensif, menumbuhkan komunitas seni dan kriya, menggencarkan promosi, dan satu hal yang paling penting, memaksimalkan semua potensi yang ada di kota ini.

Singkawang kota yang kecil. Dengan demikian, pengaturan bisa dilakukan dengan serius, tanpa membutuhkan waktu yang panjang. Ide dan gagasan untuk membangun kota, bisa dilaksanakan dengan mudah tanpa banyak hambatan.

Habis satu gelas kopi, datang lagi kopi baru, datang lagi teman baru. Perbincangan pun makin hangat di tengah udara Singkawang yang terasa makin adem. Namun akhirnya obrolan tengah malam itu ditutup dengan beberapa gagasan yang masih perlu dielaborasi dengan banyak pihak.

Pertama, perkara branding. Dalam waktu dekat, Tjhai Chui Mie mesti bisa bersikap tegas tentang mau dibawa kemana kota ini. Branding berkaitan pula dengan rencana pembangunan, baik jangka menengah, maupun jangka panjang. Tentu, yang harus dipikirkan dengan matang adalah mengelaborasi program yang berkelanjutan. Bukan besar atau kecil, namun berkelanjutan.

Kedua, perkara pariwisata. Perlu upaya serius dalam menghidupkan sektor pariwisata. Dari hilir hingga ke hulu. Dari produk dan jasa, dari logistik dan akomodasi, dari pengembangan SDM ke pembangunan infrastruktur.

Ketiga, pemberdayaan potensi kota. Singkawang cukup beruntung karena banyak memiliki bangunan tua dan bersejarah. Pernah dengar istilah wisata kota? Yup, Singkawang sudah punya modal untuk itu. Meremajakan kawasan Pasar Hongkong dan Pekong Tua, dokumentasi bangunan bersejarah, penggunaan aksara Khek untuk nama toko di pasar-pasar, adalah hal sederhana untuk memberikan identitas kepada Singkawang. Sebagai referensi, Kuching dan Indian Street-nya bisa jadi contoh awal.


Esai singkat ini adalah hasil diskusi dan observasi saya selama tiga tahun tinggal di Singkawang. Serasa berada di lumbung padi, Singkawang menyediakan banyak hal untuk terus dikelola dan dikembangkan. Namun, jika tidak dikelola oleh tangan yang tepat, padinya busuk, lumbungnya hancur.


Singkawang, 26 Februari 2018
Haries Pribady

Foto: ptra.prtsyo

Comments