MUSLIM KOTA: KELAS MENENGAH PRAURBAN YANG MAKIN KONSERVATIF


Tahun 2018 akan menjadi masa yang sangat berisik. Sepanjang tahun ini media sosial dan media massa mainstream akan diisi berita proses pilkada beserta berita persiapan pileg dan pilpres tahun 2019. Riuh rendah gelombang opini mengalir tiap hari, tanpa bisa diredam. Untuk awal Februari ini saja, dimulai dari protes Zaadit Taqwa ketua BEM UI pada Joko Widodo di hadapan Dewan Guru Besar, hingga kisruh Joko Widodo yang menjadi imam shalat ketika kunjungan kenegaraan ke Afghanistan. Ada yang aneh memang, hal yang menjadi perhatian warganet malah pada situasi ketika Joko Widodo menjadi imam, bukan tentang poin-poin negosiasi antara Indonesia dengan Afghanistan. Setelah ditelisik, barangkali reaksi warganet bisa dimaklumi, karena selama ini Joko Widodo dianggap sebagai kaum abangan. Ya, walaupun beliau kerap sowan ke kiyai-kiyai di pesantren, stigma abangan masih sesuatu yang bikin gatal di telinga kaum muslim perkotaan. 


Sebagai umat Islam, tentu Joko Widodo pun dituntut untuk menjadi seorang muslim sejati. Apalagi dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, seharusnya kebijakan beliau promuslim dong ya? Nah, di dalam agama Islam ada sebuah pandangan yang jamak diketahui oleh banyak orang, bahkan pandangan ini sukses besar mendongkrak nama Anies Baswedan dan Sandiaga Uno hingga mereka bisa duduk nyaman sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Pandangan ini bersumber dari QS Almaidah 51 yang poin penekanannya adalah agar umat memilih pemimpin yang seagama. Sebuah pandangan yang bagus sekali, namun jika digunakan secara letteral akan menciptakan dampak yang membahayakan. 

Memilih seorang kepala daerah, tentu bukan perkara sembarangan. Secara subjektif, penulis tentu akan melihat protofolio sang calon: hal apa yang sudah dilakukannya, serta bagaimana proses manajemennya dalam menata suatu daerah. Pemilih rasional pun pasti akan berpikir seperti itu. Namun, di saat ini ada perubahan yang cukup signifikan di kalngan muslim perkotaan. Entah bagaimana ceritanya, muslim perkotaan telah bertransformasi dari sekelompok muslim yang inklusif dan progresif, menjadi kelompok penganut agama yang eksklusif, konservatif, serta terbelakang dalam memadukan konsep agama dan konsep kemajuan zaman. 

Basis argumen yang menjadi poin penekanan penulis di dalam esai singkat ini adalah bagaimana caranya seupaya bisa menjadi manusia yang maju dan cerdas, serta mampu mewujudkan masyarakat yang madani dan melek sains-teknologi dan di sisi yang lain juga menjadi seorang muslim taat dan beraqidah yang lurus. 

Ada satu kasus yang perlu diperhatikan sebelum esai ini dilanjutkan. Kasus Ahok adalah murni kasus politik belaka, bukan semata-mata tentang akidah dan penulis menganggap Majelis Ulama Indonesia lah yang paling bersalah di dalam hal ini. Tersingkirya Ahok dari kursi gubernur mengakibatkan Jakarta sekarang dipimpin oleh orang yang tidak bisa menangani ibu kota. Semua yang dilakukan oleh Anis Baswedan dan Sandiaga Uno adalah untuk meng-counter semua kebijakan strategis yang sudah dilaksanakan di era Joko Widodo, Ahok, dan Djarot. Tidak hanya itu, penataan tanah abang yang semakin semrawut serta legalisasi pengendara roda dua dan PKL di ruas jalan ibu kota adalah beberapa hal yang menunjukkan bahwa untuk memilih pemimpin, konsep agama yang disebutkan di dalam QS Almaidah 51 perlu dikaji dan diinterpretasi kembali. 

Belum selesai dengan Ahok, muncul lagi kasus korupsi yang menggunakan simbol-simbol Islam di dalam tindakan bejatnya dan baru-baru ini mencuat nama Zumi Zola, Gubernur Jambi yang ditetapkan sebagai tersangka suap dan ternyata dulunya adalah orang yang begitu vokal menentang Ahok atas nama agama. Beberapa hal yang penulis sampaikan, adalah bukti betapa sulitnya mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan nyata. Jika salah langkah, bukan saja konstituen yang dirugikan, bahkan nama Islam pun dicoreng dengan tinta merah karena telah bisa digunakan sebagai tunggangan dan alat politik kotor oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

Tidak hanya perkara memilih pemimpin, kalangan muslim perkotaan telah menjadi sekelompok orang yang bias dan tidak memiliki alur pikir yang jelas. Di dalam tradisi Islam, mempelajari seluk beluk agama mesti dilakukan secara sistematis dan metodologis. Apakah cukup dengan datang ke suatu kajian lalu itu cukup? Tidak. Di zaman klasik, belajar agama dilakukan selama belasan tahun dan itu dilakukan secara intensif. Pada masa modern, sistem pendidikan Islam pun semakin lebih maju dengan didirikannya kampus-kampus yang fokus menggali nilai-nilai keislaman. Bahkan studi-studi Islam telah menjadi jenjang pendidikan formal dan menjadi kajian para sarjana hingga profesor. Namun celakanya, pengkaji Islam yang bahkan sudah sampai profesor itu pun tidak mendapat tempat di hati kaum muslim perkotaan. Sebut saja Prof. KH. Dr. Said Aqil Siradj dan Prof. Dr. Quraish Shihab, betapa banyak fitnah yang diberikan kepada mereka hanya karena bersifat lebih terbuka dan toleran kepada penganut agama dan pengikut ideologi arus bawah di Indonesia. 

Penyebaran dakwah Islam, dengan adanya teknologi berbasis video, sebut saja Youtube memudahkan para dai menyampaikan nasihatnya kepada umat. Namun celakanya, bisa dengan mudah warganet menemukan sebagian besar di antara mereka masih belum sepakat berkaitan dengan hukum-hukum. Ada dai yang membolehkan, ada dai yang melarang. Walaupun mereka punya basis argumen yang jelas, perbedaan antara dai adalah sebuah bencana bagi umat yang masih awam. Sampai di sini penulis melihat bahwa Majelis Ulama Indonesia sama sekali tidak bekerja dengan baik dalam mengnontrol konten keagamaan yang tersebar di dunia maya. Tentang MUI ini, selain kita dengar mereka melakukan sertefikasi halal yang ternyata lumayan fantastis hasilnya, juga  beberapa waktu lalu salah satu anggotanya terjerat kasus korupsi. Masih percaya penuh dengan lembaga ini?

Beberapa hal di atas adalah kegundahan yang penulis rasakan saat berinteraksi, terutama dengan golongan Islam perkotaan. Di dalam membangun umat, tentu banyak hal yang mesti dilakukan. Mesti banyak kritik, mesti banyak saran. Jika umat Islam di Indonesia makin modern dan progresif, maka Indonesia 20145 adalah masa kejayaan kita kan? 


Singkawang, 4 Februari 2018
Haries Pribady

Comments

Post a Comment