Mengapa Ban Sepeda Motor Didesain Berulir?

Apakah kita pernah ikut dengan ayah pergi ke bengkel? Jika pernah, pasti ayah pernah mengganti ban motor yang bulir-bulir di permukaanya sudah habis. Kok bannya diganti ya, padahal kan masih bagus? Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa melepaskan diri dari ilmu fisika. Ketika mobil direm, maka mobil berhenti. Sepatu diberi sol yang bergerigi supaya tidak selip, begitu pula ban sepeda motor atau mobil. Kendaraan diberi oli supaya mesinnya tidak aus. 

Beberapa hal tersebut adalah konsep gaya yang sering kita temukan di kehidupan sehari-hari. Gaya itu apa sih? Secara sederhana, gaya adalah interaksi yang menimbulkan percepatan atau dalam bahasa lainnya merupakan dorongan atau tarikan. Ketika bermain kelereng, begitu kelereng disentil maka kelereng akan bergerak. Namun lama-kelamaan kelereng akan melambat dan pada akhirnya berhenti. Nah, di situ lah konsep gaya terjadi.

Ada beberapa jenis gaya yang dikenal dalam kehidupan kita. Di antaranya adalah gaya gravitasi, gaya maknet, gaya listrik, dan gaya gesekan. Gaya gesekan adalah interaksi antara permukaan satu atau dua zat yang bergerak. Gaya gesekan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas kita. Oleh karena itu kita mesti mempelajarinya supaya terhindar dari hal-hal yang merugikan.

Gaya gesekan (selanjutnya disebut gesekan saja) bisa terjadi antara (1) benda padat dengan benda padat, contohnya adalah gesekan antara ban mobil dengan jalan raya, (2) benda padat dengan benda cair, contohnya adalah gesekan antara lantai perahu dengan air sungai, (3) benda padat dengan udara, contohnya adalah gesekan antara pesawat dengan udara, dan (4) benda cair dengan benda cair, contohnya adalah ketika mencampur sirup ke dalam air.
Gesekan bisa memberi keuntungan, namun juga bisa mendatangkan kerugian.  Adapun contoh penerapan konsep gesekan di dalam kehidupan adalah sebagai berikut.

Pertama, supatu dilengkapi dengan alas yang berulir dan bergerigi. Pernah lihat alas sepatumu? Iya, alas sepatu selalu didesai berulir dan bergerigi. Bahkan untuk sepatu pemain bola, uliran dan geriginya dibuat lebih besar. Kok begitu ya? Ketika berjalan menggunakan sepatu, alasnya akan bergesekan dengan permukaan laintai. Dengan adanya uliran dan gerigi pada alas sepatu, maka kita tidak akan selip atau terpeleset. Pasti pernah berjalan dengan sandal yang alasnya sudah rata, pasti tidak enak bukan? Begitu pula dengan sepatu pemain bola. Pesepakbola bermain di lapangan yang beralaskan rumput. Lapangan itu kadang basah oleh air hujan. Jika pesepakbola menggunakan sepatu biasa, mereka akan mudah tergelincir dan tidak bisa menggiring bola dengan baik. Oleh sebab itulah produsen memberikan uliran yang cukup besar di alas sepatu pemain sepak bola.

Kedua, permukaan jalan beraspal bertekstur kasar. Coba perhatikan jalan raya yang dilewati tiap hari, permukaannya kasar bukan? Permukaan jalan raya didesain bertekstur kasar supaya kendaraan yang melintas di atasnya tidak selip atau tergelincir. Ketika mobil lewat, ban mobil yang membawa banyak beban bersentuhan dengan permukaan jalan. Mobil yang lewat pun mesti memerhatikan kendaraan lain juga, sehingga ada waktunya mobil bertambah laju, bertambah lambat, kadang ke kiri, maupun ke kanan. Nah, fungsi dari desain kasar pada permukaan aspal adalah agar kendaraan yang melintas di atasnya tetap bisa bergerak dengan stabil walaupun membawa beban yang banyak dan berkecepatan tinggi. Konsep desain pada tekstur jalan raya tentu berbeda dengan desain permukaan lantai di rumah. Orang Indonesia lebih suka melepas sandal ketika di rumah, oleh sebab itu permukaan lantai di rumah didesain dengan rapi dan berpermukaan halus. Jika tekstur lantai rumah kasar seperti tekstur aspal jalan raya, nanti kaki kita malah lecet dan melepuh.

Ketiga, ukiran pada ujung palu dan paku. Pasti pernah memukul paku dengan palu kan? Ketika memukulkan palu ke paku, tak jarang mesti dilakukan berkali-kali agar pakunya tembus. Bahkan, tak jarang palu justru mengenai tangan karena terpeleset. Kok begitu ya? Ketika palu dipukulkan, maka permukaan palu akan mengenai kepala paku dengan tumbukan yang kuat. Jika tidak betul-betul teliti, palu sangat mudah terpeleset dan memukul jari kita. Untuk mencegah hal tersebut, maka produsen  menambah ukiran di kepala paku dan di ujung palu. Dengan demikian, memaku jadi lebih mudah dan aman.

Konsep gesekan diterapkan di dalam tiga contoh di atas. Selain memiliki kelebihan, ternyata gesekan juga bisa menyebabkan kerugian ya. Apa saja sih?

Pertama, mesin kendaraan jadi cepat aus. Ketika dinyalakan, mesin kendaraan akan bergesek satu sama lain. Pergesekan terus menerus yang terjadi antarkomponen menyebabkan permukaannya cepat aus. Jika sudah aus, mesin tidak bisa bekerja dengan optimal.Oleh sebab itu, untuk mengurangi gesekan antarkomponen mesin, teknisi menambahkan oli. Oli pada mesin berfungsi untuk mengurangi efek gesekan sehingga mesin tidak cepat aus. Selain itu, oli juga bisa menjaga suhu kendaraan. Ketika gesekan di dalam mesin berkurang, maka suhu akan turun dan kendaraan akan terhindar dari keadaan overheat ( kelebihan panas).

Kedua, ban kendaraan mesti diganti karena aus. Kondisi ban mobil yang dipakai terus menerus akan berubah semakin buruk. Jika kita perhatikan ban mobil baru, maka akan menemukan ban tersebut berulir-ulir dengan pola yang unik. Namun lama-kelamaan, pola uliran itu semakin tampak buram dan tipis. Nah, di saat itulah ban mesti diganti. Uliran pada ban mobil berfungsi untuk menjaga kestabilan kendaraan ketika dijalankan. Ketika bergesekan dengan jalan raya yang bertekstur kasar, maka uliran pada ban semakin lama semakin tipis. Hal itu sungguh berbahaya. Apalagi di musim hujan, ban yang sudah aus bisa menyebabkan mobil tergelincir! Oleh sebab itu, ban mobil harus diperiksa dan mesti diganti jika sudah aus.


Berdasarkan pemaparan di atas, ternyata sains sangat akrab dengan kehidupan kita ya! Dari hal-hal kecil seperti sol sepatu, oli mobil, bahkan tekstur jalan raya kita bisa mempelajari konsep sederhana dari sains. Mempelajari sains, artinya mempelajari bagaimana sesuatu terjadi di sekeliling kita. Membuat kita lebih peka, sekaligus membuat kita lebih peduli pada lingkungan. Jika bukan kita yang peduli, siapa lagi? Jadi, masih malas untuk belajar sains? 

Foto: otomotif.babe.news

Comments