Manifesto Pancasila: Pengantar Awal



Indonesia betul-betul berubah pasca reformasi. Secara awam, perubahan yang ketara tampak pada kebebasan mengemukakan pendapat di muka publik, tambah banyaknya partai politik dengan masing-masing subordinat ideologinya, dan di tahun 2018 ini sudah begitu tampak bahwa media massa telah menemukan coraknya yang liberal dan progresif. Tidak ada batasan, media massa sejalan dengan arus informasi yang begitu cepat. Jika di masa orde baru pemerintah sedikit banyak menanamkan nilai-nilai melalui media, sekarang nilai-nilai itu justru dikonstruksi oleh media massa sebelum sampai ke masyarakat awam.

Membicarakan sebuah negara-bangsa, adalah betul bahwa Indonesia sangat majemuk dan unggul dalam kuantitas. Namun bagaimana dengan kualitas? Penduduk Indonesia melampaui seperempat milyar. Memang, sebagian besar di antaranya berada di pulau Jawa. Tetapi tidak sadarkah bahwa  seperempat milyar itu tersebar di belasan ribu pulau?  Kemajuan Amerika Serikat, China, dan India tidak bisa dilepaskan dari aspek geografis ini. Begitu pula Indonesia, negara dengan penduduk keempat terbesar di dunia yang saat ini tampak masih jalan di tempat.

Berada di satu daratan memberikan banyak kemudahan bagi Amerika Serikat, China, maupun India. Mengapa demikian? Dengan geografis seperti itu, manajemen dan mobilisasi massa lebih mudah. Distribusi bahan pokok dan hasil produksi maksimal dan efisien. Kebijakan bisa diterapkan secara merata. Dan yang paling penting adalah munculnya kesadaran untuk sentiasa berbangsa yang satu karena tinggal di tanah yang sama.

Dengan melihat banyaknya keuntungan yang diperoleh karena berada di satu daratan, mungkin timbul satu pertanyaan. Untuk apa jadi Indonesia? Perlu penarikan waktu yang cukup panjang agar bisa menjawab pertanyaan tersebut. Balik ke masa perjuangan kemerdekaan? Belum, terlalu prematur. Balik ke masa pergerakan nasional? Belum, terlalu awal. Untuk apa jadi Indonesia terjawab ketika sampai pada rahim bangsa ini. Di dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yakni kalimat Bhinneka Tunggal Ika.

Bapak pendiri bangsa telah mengetahui hal ini. Menjadikan ekskerajaan tradisional ke dalam sebuah negara-bangsa adalah tindakan penuh risiko, bahkan bisa jadi sia-sia. Setiap wilayah, beda budaya, beda suku, beda juga kepentingannya. Walaupun cuma dua daerah yang diberikan mandat sebagai Daerah Istimewa, daerah lain tetap terikat karena sebuah manifesto yang mendalam dan mengakar. Ber-Bhinneka Tunggal Ika tidak akan cuma jadi slogan.

Terikatnya bangsa-bangsa kecil yang mulanya berbentuk kerajaan ke dalam bingkai NKRI bukan semata-mata hasrat politik bapak pendiri bangsa. Bukan pula semata-mata meneruskan wilayah bekas koloni Netherland. Keterikatan itu adalah bukti tertanamnya nilai-nilai yang dijalin selama berabad-abad dan dengan kesadarannya masing-masing, bapak pendiri bangsa membingkai NKRI dengan sebuah gagasan yang mapan: Manifesto Pancasila.

Dicetuskan oleh Mpu Tantular sebagai peringatan kepada Mahapatih Gajahmada, Manifesto Pancasila yang sempat padam berabad-abad terpantik hidup kembali lewat kalangan pribumi terpelajar di awal abad 19. Dinyalakan terus oleh mereka hingga sampai pada momen pergerakan kebangkitan nasional. Manifesto Pancasila, dengan penuh perjuangan akhirnya mencapai bentuk pakemnya pada 18 Agustus 1945. Ketika Soekarno menetapkannya sebagai ideologi negara.

...

Singkawang, 21 Februari 2018
Haries Pribady 

Comments