Warung Kopi: Rahim Pemimpin Zaman Now

Warung kopi mulai ramai. Beberapa yang kukenal berdatangan, saling salam, menyapa, kemudian duduk di kursi-kursi kayu di sudut mana pun yang mereka mau. Warung kopi berkanopi hidup dari tumbuhan menjalar yang daunnya serupa daun sirih, dilapis paranet sungguh membuat suasananya sangat nyaman. Malam itu, penulis memesan kopi tubruk, sambil berbincang dengan kawan-kawan.

Sejak  tiba di Pontianak, tidak ada satu hari pun yang dilewati tanpa nongkrong di warung kopi. Baik itu untuk bertemu teman, membahas pekerjaan, atau sekadar ngopi: aktivitas yang sejak lulus kuliah menjadi darah daging. Kalau tidak ada teman, ya tetap saja ke warung kopi untuk menyelesaikan bahan bacaan dan sedikit demi sedikit membayar cicilan tulisan.

Rabu malam ini, penulis sengaja datang ke Warung Kopi Bang Edi di Jl. Sepakat 2, Pontianak. Sambil tangan tak henti membalas pesan masuk dari cewek-cewek yang kadang keranjingan pengen diajak ngopi. Jika beberapa dasawarsa lalu, ngopi di warung merupakan aktivitas khas laki-laki dewasa, tampaknya anggapan itu telah berubah.

Warung kopi di masa kini ternyata tidak sesederhana namanya. Jika pergi ke warung kopi, barangkali yang ada di pikiran adalah warung kecil dan sumpek, dengan menu terbatas dan tentu saja kopi tubruk sebagai satu-satunya menu andalan. Ditambah dengan kaum bapak-bapak yang tumpluk-tumpluk main gaplek dan catur disertai kelas-kelas asap rokok yang membuat plafon jadi cokelat: begitulah gambaran umum tentang warung kopi.  Namun kini tidak lagi seperti demikian. Bicara menu, kopi tubruk hanya satu di antara puluhan cara menyajikan kopi. Bahkan, untuk kota kecil seperti Pontianak, penyajian kopi ber-foamcream adalah pemandangan biasa. Dengan nama-nama yang agak tak biasa pula, sebut saja espresso, coffee Latte, cappucino, dan sebagainya. Tak hanya dari menu, desain meja dan kursi pun ditata dengan sangat apik. Lukisan dipajang, begitu pula dengan aksesoris lain yang kiranya bisa menambah estetika warung kopi. Jika pada mulanya warung hanya untuk bertemu teman dan berborak berbincang-bincang, jangan salah jika pada saat ini warung kopi sudah menjadi tempat kerja. Iya, tempat kerja alias kantor sudah menjadi fungsi warung kopi. Khususnya bagi pekerja kreatif, tersedianya layanan WiFi sangat membantu dalam mengerjakan proyek, ditambah kopi yang nikmat plus suasana yang teduh dan nyaman. Warung kopi telah meruntuhkan dinding-dinding kubikle, bahwa kerja mesti di kantor.

Satu hal lagi, yang pasti adalah warung kopi telah menjadi panci leleh semua elemen sosial. Pada hakikatnya, penikmat kopi tidak mengenal kelas kan? Di satu warung kopi, bahkan di satu meja tak jarang ditemukan orang dari segala latar belakang dan usia. Bisa saja anak SMA lalu duduk ngopi dengan kepala dinas, bisa saja mahasiswa dengan dosennya, dan kebetulan malam ini penulis bisa duduk semeja dengan Edi Kamtono, walikota Pontianak yang tampaknya masih ingin melanjutkan tugasnya yang belum kelar di tahun ini. Sedikit berbicara tentang pekerjaan sebagai wakil walikota, lebih banyak membahas hobi baru beliau dalam mengolah biji kopi. Sebagai anak muda, tentu cerita tentang kopi sangat menarik untuk disimak.

Warung kopi telah berubah. Nilai-nilai konservatif dan kaku telah mencair menjadi sesuatu yang baru dan luwes, tanpa menghilangkan filosofinya sebagai tempat untuk menjalin silaturahmi. Jika seorang nabi bisa lahir dari perbincangan di atas tempat tidur, barangkali seorang pemimpin baru bisa lahir dari keisengan dan senda gurau di warung kopi. Tentang bagaimana Tuhan bekerja, tidak ada yang tahu kan?


Pontianak, 25 Januari 2018
Haries Pribady
Dosen STKIP Singkawang

Comments