Tina


Namaku Tina. Aku sungguh  tak tahu mengapa kudinamai Tina. Barangkali sebab aku adalah tisu serba guna, maka kudinamai Tina. Kau tau aku kan? Ya, tentu saja kau tau. Sejak lahir aku telah mamamu elapkan ke pantatmu yang berlumur tai dan kencing pesing. Ah, aku dibuang begitu saja. Membusuk bersama tai dan kencing yang aromanya bagai neraka!

Aku memang tak banyak bicara. Sebagai perempuan yang manut dan nurut pada laki, apa lah yang bisa kulakukan selain ikut setiap tetek bengek kebiadaban dunia? Hari ini aku masuk ke kamar seorang cowok. Ya Tuhan, sungguh cakep cowok ini. Tak rugi aku menyelinap masuk, menyempil di saku depan celananya sambil mengaroma kelelakiannya yang sungguh menggoda. O iya, perlu kukatakan padamu, cowok cakep berbulu dada itu namanya Bram.

Aku diletakkan di atas meja. Kulihat cowokku melepas baju. Kau tau. Dadanya bidang berbulu, putingnya tegang! Lalu dia buka celananya, oh Tuhan, tak layak kuceritakan padamu, sungguh! Aku pun waktu itu hanya bisa meleleh dan mendesah-basah.


Cowok cakep itu baring di kasurnya. Tanpa sehelai benangpun, aku bebas memandang setiap detail yang tampak dari dirinya. Aku mengelap liur yang meleleh. Aku mulai panas, ternyata cowok itu juga sama. Tergeletak dalam sampul plastik yang sudah lecek. Kuperhatikan dengan saksama, dia mulai mengotak-atik hape, lalu kudengar lamat ada suara desah kurang ajar dari benda kecil itu.  Tak lama cowok itu pun mengerang pelan. Tubuhnya basah, apalagi sumber kelelakiannya itu, tampak mengilat-ngilat dengan lendir yang meleleh-muncrat ke dadanya yang bidang berbulu. Kupikir aku hanya bisa memandang dari jauh. Ternyata tidak. Aku akhirnya ditemukan pada berjuta-juta calon bayi yang megap-megap. Aku jadi lengket, dihinggapi jutaan calon bayi yang menjijikkan bagai ingus!

Comments