Tiga Warung Kopi yang Wajib Dikunjungi di Pontianak


Aroma kopi yang kuat, rasa yang kental, serta asap yang mengepul di atas cangkir keramik adalah candu. Entah bagaimana ceritanya, biji-bijian hangus yang dihaluskan itu bisa menjadi candu seluruh umat. Dengan harga yang beragam, mulai dari Rp2.000/ cangkir hingga Rp95.000/ cangkir. Tentu, walaupun efek candunya tidak separah halusinogen, banyak sekali hal yang bisa diceritakan sambil menenggak minuman kaum filsuf ini.

Membicarakan kopi, Kalimantan Barat khususnya di kota Pontianak adalah tempat yang dijejali warung kopi. Tapi di antara ratusan warung kopi yang ada di tiap jalan, bahkan gang-gang, ada tiga yang begitu melekat di hati warga Pontianak: Wk. Winni, Wk. Aming, dan Wk. Asiang.  Jika ada pendatang dari luar Kalimantan Barat, penulis selalu mereferensikan tiga warung kopi tersebut.

Pertama, Wk. Winni. Warung kopi ini terletak di Jl. Gadjah Mada Pontianak, tepat di depan Hotel Orchard dan Hotel Harris. Kopi yang disajikan di warung ini sangat enak. Tambahan lagi, pengunjung bisa memesan pisang goreng dengan selai sarikaya. Well, walaupun pisang goreng dengan selai sarikaya paling enak bisa diperoleh di Wk. Suka Hati di Jl. Tanjungpura, orang-orang tidak akan pernah meninggalkan warung ini diakibatkan lokasinya yang sangat strategis. Bahkan, tak jarang pengunjung dua hotel di seberang warung sengaja ke Wk. Winni untuk minum kopi dan memesan pisang goreng.
Masih di jalan yang sama, berjarak beberapa kilometer saja ada Wk. Aming. Warung kopi yang berada di deretan ruko ini terkenal dengan kepekatannya yang luar biasa. Ketika berkunjung ke sini, penulis jarang memesan kopi pahit, melainkan meminta pada pelayannya untuk menambah sedikit krimer agar pahitnya agak berkurang. Tidak cuma nikmatnya kopi yang bisa disesap di warung ini, pengunjung juga bisa membeli kopi bubuk berukuran beberapa ratus gram sebagai oleh-oleh. Kopi itu dikemas di depan warung, sehingga pengunjung bisa melihat prosesnya. Tidak tanggung-tanggung, kopi Aming adalah satu-satunya kopi dengan brand lokal yang bisa menembus pasar salah satu retail waralaba.

Dua warung kopi tadi, Winni dan Aming beroperasi dari pagi hingga malam. Nah, warung kopi yang terakhir ini agak unik, jam operasionalnya justru dari dini hari hingga sore. Ada satu hal lagi yang membuat  warung  kopi ini begitu mengemuka di antara pecinta kopi. Biasanya, penyeduh kopi berpakaian lengkap, berbaju, dan bercelana. Penyeduh kopi di Asiang justru tidak berbaju ketika bekerja! Mungkin sebagian orang akan merasa geli menengok pemandangan demikian, tapi malah hal itu lah yang menyebabkan warung kopi ini tidak pernah sepi dari kedatangan pengunjung.  O iya, satu lagi, jangan coba-coba minum kopi pada pagi hari di tempat ini jika belum sarapan. Penulis pernah mengalami sport jantung ringan ketika meminum kopi Asiang sebelum sarapan. Baru beberapa menit mencicip kopinya, jantung langsung berdetak kencang. Untunglah bisa segera diatasi dengan menenggak air mineral.

Tiga warung kopi tersebut hanya sedikit dari ratusan warung yang bisa diceritakan. Semakin lama, jumlah warung kopi di Pontianak semakin bertambah banyak. Hmmmm, apakah itu menunjukkan kalau orang-orang Pontianak cuma jago menghabiskan waktu sia-sia dengan nongkrong di warung kopi? Pertanyaan tersebut tampak sederhana, namun setelah ditelisik, justru obrolan di warung kopi lah yang menjadi kunci perbincangan tentang pembangunan wilayah Kalimantan Barat. Tentang bagaimana warung kopi menjadi representasi kelas, laboratorium sosial, dan wadah rekonstruksi intelektual, akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya. Salam seruput!



Comments