Sutarmidji di Tengah Sentimen Etnis Perayaan Imlek




Imlek dan festival Cap Go Meh di Kota Singkawang baru saja berlalu. Keramaian kota yang diapit gunung dan laut perlahan mulai surut. Singkawang mulai sepi seperti semula, kembali ke denyut awalnya.

Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini tentu menyisakan banyak kenangan. Selain telah mengantarkan Singkawang memeroleh tiga rekor MURI, festival tahunan ini juga menjadi tonggak awal Tjhai Chui Mie dalam menata kota. Entah bagaimana ceritanya, pada saat festival, beliau malah menghadirkan para pakar dari Ikatan Arsitek Indonesia ke Singkawang. Dalam beberapa kegiatan, IAI  pun ikut serta, pada saat peletakan batu pertama pembangunan Singkawang Park misalnya. Selain itu, IAI juga hadir dalam agenda Singkawang Art and Design Week dan tidak kalah penting, IAI hadir mempresentasikan pembangunan Kota Singkawang yang futuristik dengan tetap mempertahankan orisinalitasnya dalam agenda diskusi Urban Accupunture. Diskusi untuk membedah rencana pembangunan Kota Singkawang yang sayangnya tidak dihadiri pihak yang berwenang. 



Imlek, selain sebagai sebuah wadah penyatuan semua entitas di Singkawang, barangkali merupakan sebuah tempat yang tepat untuk membentuk citra positif bagi tokoh publik. Pada mulanya Joko Widodo dijadwalkan hadir dalam rangkaian acara ini, namun beliau digantikan oleh Lukman Hakim, menteri agama. Lagi-lagi pesan yang disampaikan adalah betapa pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan umat di kota kecil ini. Tapi siapa sangka, salah satu calon gubernur Kalimantan Barat turut hadir. 

Pemilihan kepala daerah akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Tentu saja, setiap pasang calon sudah punya strategi masing-masing dan festival imlek sepertinya merupakan momen yang paling tepat untuk menciptakan sebuah branding calon tersebut. Membicarakan Kalimantan Barat, portofolio prestasi memang bagus, tapi tidak dibutuhkan dan barangkali keliru jika digunakan sebagai materi kampanye. Kalimantan Barat masih membutuhkan sosok yang mampu membangun "branding kemajemukan" dan dari ketiga pasang calon gubernur Kalimantan Barat, hal itu justru dibangun secara sistematis oleh Karolin Margaret. Satu-satunya calon perempuan dan satu-satunya calon gubernur yang hadir di Kota Singkawang dalam perayaan Cap Go Meh.

Barangkali saat ini yang berpotensi untuk menang cuma pasangan Sutarmidji dan Karolin. Namun sayang, festival imlek yang begitu merepresentasikan kebudayaan lokal dan keragaman masyarakat Kalimantan Barat, justru tidak dihadiri oleh Sutarmidji. Pemilih medioker barangkali telah mengenal Sutarmidji sebagai calon gubernur yang punya banyak prestasi, namun tentang bagaimana beliau merawat keberagaman dan bagaimana beliau bersikap terhadap kearifan lokal, masih abu-abu kelihatannya. 

Sebagai provinsi yang cukup luas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan siapa sosok yang bisa menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan. Hal pertama, seperti yang disampaikan di awal adalah bahwa pemimpin Kalimantan Barat mesti mengakui dan menghormati kemajemukan dan kearifan lokal yang sejak zaman lampau telah menjadi denyut nadi masyarakat. Kedua, kemampuan manajemen konflik adalah harga mati bagi orang yang siap pasang badan sebagai gubernur Kalimantan Barat. Penduduk yang tersebar sporadis ke empat belas kabupaten dan kota, dengan pelbagai latar belakang dan kepentingan maka hal itu sangat rentan bagi terciptanya konflik di masyarakat. Maka itu, manajemen konflik bukan sekedar materi kampanye belaka, melainkan sebuah keharusan. 

Singkawang, untuk pemilihan gubernur Kalimantan Barat, mungkin bukan tempat yang seksi  untuk dijadikan lumbung suara. Namun, siapa saja yang paling baik memperlakukan Singkawang dan mengangkat sisi kemajemukan dan kedamaian yang ada di dalamnya, maka ia lah yang barangkali paling tepat untuk menjadi pemimpin Kalimantan Barat lima tahun akan datang. 

Singkawang, 11 Maret 2018
Haries Pribady

Comments