Serunya Magang di Pos Konservasi Penyu, Kalimantan Barat (I)


Akhir tahun 2017 pekerjaan kantor agak santai. Sedang asik kletak-kletik di depan laptop, tina-tiba sebuah pesan singkat masuk dari Bang Agri.
"Besok abang mau ke Paloh, ikut?" Kontan saja, aku yang belum pernah pergi ke sana pun mengiyakan tanpa berpikir dua kali. Berangkat dari Kota Singkawang pada tanggal 29 November 2017, perjalanan menuju Desa Sebubus Kecamatan Paloh memakan waktu kurang lebih lima jam.

Jalan menuju Desa Sebubus sudah sangat baik. Sebagian besar sudah beraspal, sisa sedikit saja jalan  yang rusak. Berhubung ketika datang ke Sebubus cuaca agak mendung, maka perjalanan ke pos konservasi pun ditubda keeskoan harinya. Di desa ini aku dan Bang Agri serta Bang Hendro menginap di kantor perwakilan WWF. Sebuah rumah dua lantai yang disewa untuk dijadikan kantor, cukup lebar, berada di pinggir jalan raya. Ketika datang, kami disambut pleh Zul dan Rahman. Mereka adalah staf yang ditugaskan untuk mengedukasi warga untuk tidak menangkap hasil laut nonikan yang dilindungi oleh undang-undang. Malam itu Zul dan Rahman menyajikan ayam buset. Anjir, enak banget! Ayam buset, nama menu makanan yang diberikan oleh Bang Agri.

Ayam buset dibuat dari berbagai jenis rempah yang dicampur dengan hampir setengah kilogram cabai! Bayangkan saj apetapa pedasnya ayam itu. Setelah bumbu dan cabai diblender halus, bumbunya digoreng. Setelah harum, barulah beberapa kilogram ayam yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam wajan. Aduh, harumnya luar biasa! Tiba saatnya makan malam, tidak satu pun yang bebas dari tetesan keringat dan leleran ingus. Pedasnya luar biasa, tapi buat ketagihan.

Keesokan harinya, 30 November 2017, pukul 15.00 kami berangkat ke lokasi. Jalan menuju pos lumayan bagus, sebagian besar masih tanah kunging yang bakal becek parah ketika hujan. Setelah menempuh waktu 30 menit, kami tiba di penyeberangan Ceremai. Sebenarnya di Ceremai ada landasan untuk kapal feri, namun sayang sekali pada saat itu kapalnya tengah dock. Mau tidak mau, kami menyeberang menggunakan kapal tongkang kayu. Satu kapal tongkang bisa memuat hingga empat mobil! Menyeberang sungai menggunakan tongkang kayu sebenarnya sangat tidak aman. Tidak ada satu pun standar keselamatan yang digunakan di tongkang ini. Namun mau bagaimana lagi, itu adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk menyeberang.

Tongkang kayu ini beroperasi 24 jam, jadi sebenarnya sangat membantu mobilitas masyarakat walaupun keadaanya yang memprihatinkan. Setelah 30 menit menyeberangi sungai,  tim melanjutkan perjalanan ke pos. Daerah yang dilewati didominasi semak belukar. Tampak pohon-pohon meranggas di sisi kiri dan kanan jalan. Sesekali kita akan menemukan perkebunan sawit. Anehnya, di tempat yang sangat sepi dan akses jalan yang cukup buruk, ditemukan beberapa bangunan untuk sarang burung walet.

Tiga jam perjalanan dari kantor WWF, akhirnya tim tiba di pos konservasi. Dengan sebuah mobil kijang, perjalanan menuju pos memang agak berat, tetapi dengan luasnya pemandangan yang sungguh hijau, capainya jadi kurang terasa. Tepat pukul 17.30, tim tiba di pos. Nama lengkapnya adalah Pos Konservasi Penyu Sungai Belacan.  Pos ini diinisiasi oleh WWF Kalimantan Barat dan sekarang menggandeng kelompok sadar wisata untuk menjaga dan melestarikan habitat penyu. Pos (selanjutnya akan disebut camp) terdiri atas tiga bangunan. Bagian tengah adalah camp utama tempat rapat, istirahat tamu, tempat berkumpul, dan sebagainya. Camp utama merupakan bangunan kayu 6x7 meter dengan balai-balai di teras yang digunakan untuk bersantai. Di sebelah kanan ada pondok botol. Bangunan dengan atap seng, dengan luas 3x4 meter, berdindingkan botol-botol pelastik yang disusun rapi. Di sisi kiri camp utama adalah rumah bambu (lebih tepatnya berdinding bambu). Awalnya kupikir camp ini sangat sederhana, maklumlah jauh dari rumah penduduk, di pinggir pantai pula. Tapi anggapanku salah. Ketika datang, aku sudah mendengar suara genset. Setelah masuk ke dalam aku baru tahu, ternyata ada seperangkat radio, dapur lengkap dengan peralatan masak, di kamar mandi pun tersedia air tawar yang berasal dari sumur belakang camp. Aman!


bersambung...

Comments