Sabun



Akhir-akhir ini semesta ditumpahi hujan. Ah, kau yang tak tahu apa-apa tentangku jangan sewot saat kusebut semesta ditumpahi hujan. Tanah mulai basah, becek, berair, geli, dan licin. Persis sensasi ketika menyabun.  Aku sebenarnya ketar-ketir ketika menulis kegiatan harianku. Apalagi  yang berkaitan dengan hal-hal sensitif, seperti sabun. Entahlah. Kadang kudiperintahkan menulis karangan ilmiah tuk tugas kuliah, tapi kujengah. Itu-itu saja, aku tak bisa bebas, tak bisa meluap-luap bagai buih sabun. Selain itu, kujuga lelah. Setiap hari membaca koran yang kulanggan di facebook. Betapa banyak kaum terdidik dan berpendidikan yang berseliweran, membagikan gagasan dan cuitannya di berandaku. Tapi kumasih merasa gersang, sebab tak ada kutemukan sisi kemanusiaan yang seutuhnya. Semua dengan topeng kebaikan dan kesucian. Padahal bagi seorang kuli keyboard, membagikan sepatah kata dengan ketulusan adalah sebuah kewajiban.

Atas sebab kutak bisa mengatur apa yang terlintas dan tertulis dalam koran facebook langgananku, maka kucoba melanggani hasrat waham-impulsif  dengan pikiranku sendiri. Setelah menyelesaikan satu corat-coret kumerasa bahagia dan senang. Bukan sebab kutelah bekerja memanfaatkan otakku, namun kuhanya ingin mencari dan menyebarkan vibrasiku. Kumau temukan orang-orang yang sevibrasi denganku. Kalau tak kutemukan di semestaku, barangkali kan kutemukan di semesta yang berbeda. Kalau tak berbentuk manusia, barangkali kan kutemukan dalam bentuk gagasan dari peninggalan zaman lampau. Namun alangkah bahagia jika kusevibrasi dengan-Nya. Ah, khayalanku saja.   

Hujan luruh, kupandangi saja dari dalam rumah. Kubersandar pada daun pintu kayu yang mulai renggang di sisi atas dan bawah. Air hujan yang dingin kurasakan waktu mandi tadi siang, mengalir entah kemana saja. Ke lobang-lobang, ke parit-parit, ke selokan, ke tumpukan sampah daun, barangkali ada juga yang mengalir ke tubuh orang yang sedang mandi hujan, sambil menyabun.

Semesta berubah seketika saat aku dan beberapa kerabat membincangkan sabun.  Sabun, mengapa disebut sabun? Siapa yang memberikan nama sabun? Dari mana kata sabun itu berasal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, barangkali kumesti buka kembali buku Verhaar dan Bloomfield.  
Sabun apa? Sabun kunyatakan ada dimana-mana.  Ada sabun Shinzui, merk sabun kegemaranku,  ada pula sabun yang digunakan tuk sekadar hasilkan sekret.  Sabun Shinzui untuk buatku jadi tampak putih? Oh bukan,  walau gunakan Shinzui tubuhku sekarang tetap cakep dan kecokelatan. Lalu apa yang dimaksud dengan sekret, apakah sekretnya itu (you know more than me lah)? Lalu kujawab, sekret dihasilkan oleh kelenjar untuk digunakan kembali oleh tubuh. Sekret dikeluarkan dari kelenjar, yang ini dikeluarkan untuk dimasukkan. Dimasukkan ke tubuh orang lain. Bercocok tanam, kata kerabatku. Ah, ternyata kerabat baikku telah pandai bermain sabun, eh, bermain kata-kata maksudku.

Hujan di luar rumah makin lebat. Di dalam tetap hangat dan makin hangat, barangkali aku dan kerabat baikku membincangkan sabun. Padahal sabun itu mendinginkan kan? Tapi kok jadi hangat ya? Entahlah. Lalu kerabatku lanjutkan perbincangan. Kekerasan sabun memengaruhi sensasinya ketika digunakan. Semakin keras tekstur sabun, semakin tidak puas rasanya ketika digunakan. Begitu pula sebaliknya. Banyak buih  juga ikut memengaruhi. Semakin banyak buih, kepuasan ketika menggunakan sabun akan meningkat. Ahh, sabun. Lalu kusambung dengan beberapa patah kata. Memang betul, semakin keras sabun rasanya memang semakin tidak puas. Tetapi semakin keras benda yang disabuni, kok rasanya makin enak aja ya? Ooo, you’re getting crazy buddy! Kudibenarkan kerabatku, benda  yang disabuni semakin keras, semakin puas. Jika badan kita lunak, maka akan susah untuk menyabuninya. Memang, untuk menyabuni sesuatu, sesuatu itu mesti keras, keras dulu, atau dalam keadaan keras.  Akhirnya kusimpulkan, kekerasan objek yang disabuni berbanding lurus dengan kepuasan menyabun dan kekerasan sabun berbanding terbalik dengan kepuasan menyabun.


Akhirnya semestaku tak lagi ditumpahi hujan. Kopi hangat telah habis, tersisa ampas di dasar gelas keramik. Matahari  jatuh ke barat. Angin malam mulai berembus dingin. Sekret dan ekskret  telah keluar dari  tubuh, saat yang tepat tuk bersihkan sisa-sisa buih sabun. 

Comments