Perempuan di Era Digital

Gaung emansipasi perempuan yang dimulai oleh Raden Ajeng Kartini di akhir abad 19 mulai kelihatan. Jika pada mulanya perempuan tidak diberikan tempat khusus atau posisi vital, maka di masa sekarang kebiasaan tersebut sedikit demi sedikit mulai hilang. Perempuan masa kini mulai lepas dari stigma inferior yang menyatakan bahwa tugasnya berkisar di dapur, sumur, dan kasur.
Globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan pergerakan dunia menuju “digital age” membutuhkan peran dari banyak pihak. Perempuan dengan populasinya yang sebanding laki-laki mesti mengambil ikut serta. Tentu saja, untuk bisa berperan aktif dalam situasi ini perempuan mesti mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Menempuh jalur pendidikan formal hingga menjadi seorang pakar, ataupun meningkatkan kapasitas diri sesuai dengan passion masing-masing adalah beberapa cara yang bisa dilakukan.
Bicara tentang perempuan Indonesia, kita tak perlu berkecil hati. Ide dan gagasan Kartini yang sudah berjalan dalam kurun waktu satu abad telah menampakkan hasilnya. Di awal milenium ketiga, Indonesia untuk pertama kalinya dipimpin oleh seorang perempuan. Tak lama berselang beberapa menteri kabinet, baik itu dalam kabinet SBY ataupun Jokowi, muncul nama-nama yang tak hanya familiar di telinga masyarakat awam, namun juga diapresiasi masyarakat internasional. Sebut saja Retno Marsudi, seorang diplomat andal alumni Universitas Gadjah Mada ini ikut berperan aktif mewakili Indonesia dalam upaya penyelesaian konflik Myanmar. Sebelumnya Retno Adalah seorang staf di Kementerian Luar Negeri yang mengurus hubungan bilateral-mulitilateral dengan negara-negara di benua Eropa dan Amerika.
Selain itu, ada Sri MuIyani Indrawati, menteri keuangan yang juga berstatus sebagai dosen Universitas Indonesia ini pernah menjabat sebagai Managing Director World Bank. Bahkan beliau pernah dua kali menjabat sebagai menteri, yakni di era SBY dan era Jokowi. Satu lagi, perempuan yang dinilai kontroversial karena kebijakannya untuk menenggelamkan kapal asing pencuri ikan yakni Susi Pudjiastuti. Sebelum diangkat jadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2014, beliau adalah seorang pengusaha ekspor ikan dan memiliki belasan pesawat terbang perintis jenis Cesna yang melayani rute-rute marginal. Lebih menariknya lagi, baru-baru ini kantor berita BBC Inggris memasukkan beliau sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.
Berkaca dari empat tokoh tersebut, bisa disimpulkan bahwa perempuan itu perlu sekolah, jika perlu setinggi-tingginya. Belajar hidup, membekali diri dengan pengetahuan dan pengalaman. Mau bertanggung jawab dan bisa diberikan kepercayaan. Kalau pun belum berkesempatan mengenyam pendidikan selayaknya, perempuan mesti bisa mengatur dirinya sendiri, berkarier dan berkarya, tidak semata-mata menggantung hidup kepada laki-laki dengan menikah di bawah usia. Kalau pun akhirnya kembali ke dapur, paling tidak anak-anak kita nanti diasuh oleh seorang ibu yang banyak ilmunya dan luas wawasannya.

Comments