Pengertian



Liberty, Egality, Fraternity
“Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan”
Akhir-akhir ini banyak wacana mengenai kebebasan digulirkan, di antaranya yang paling termutakhir adalah tentang kebebasan menikah antargama.  Berkaitan dengan hal ini banyak pihak yang pro dan kontra. Berbagai lembaga yang beraliran humanis mendukung wacana ini berdasarkan pandangan bahwa sebuah hubungan pernikahan yang diawali dengan cinta telah menembus batas-batas universal, dalam hal ini adalah agama. Di lain pihak, sebagian kalangan teolog menolak wacana ini dengan alasan bahwa hal itu merupakan bentuk pendangkalan terhadap iman, bahkan lebih ekstrimnya lagi muncul sebuah anggapan bahwa pernikahan antargama telah meruntuhkan dogma yang selama ini susah payah dibangun oleh para teolog tersebut yang berbunyi, “Tidak ada jalan keselamatan di luar jalanku.

Tahun 2014 sepertinya geliat manusia untuk keluar dari batas-batas sepertinya mulai tampak dan sangat terasa. Sebenarnya hal ini telah pun dimulai dari beribu tahun lampau ketika ada sebagian manusia yang menolak sesuatu yang bersifat supreme being dikarenakan aturan-aturan yang diberikan oleh supreme being  itu tadi menahan keinginan manusia untuk berbuat sekehendaknya. Bagi manusia yang dianugerahi pedoman  dan teks hal itu juga terjadi. Sebab teks itu di luar dari Tuhan itu sendiri dan sangat multiinterpretasi.

Berkaitan dengan dua hal di atas, sebagai masyarakat awam apa hal yang mesti kita lakukan? Bagi saya, banyak hal yang bermasalah di bumi ini disebabkan adanya perbedaan dalam memandang suatu hal. Itu terjadi dalam hal apapun, dari hal remeh temeh hingga hal yang Mahatransenden, luar biasa, yakni tentang pengagungan Tuhan, who is he? Dengan tetap meyakini bahwa hanya ada satu penguasa semesta, enam milyar lebih manusia bumi memiliki kemampuan yang berbeda dalam memahami Tuhannya. Sehingga saat ini dikenal banyak sekali agama dan aliran kepercayaan hingga aliran kebatinan yang tumbuh subur, di samping semakin banyaknya pula manusia yang mulai meninggalkan ritual-ritual agama dan dogma-dogma di dalamnya.  Kemampuan manusia memahami Tuhan tentu dipengaruhi beberapa hal, namun yang terpenting bagi saya adalah pengetahuan tentang agama yang manusia anut. 

Oxford  mendefinisikan liberty sebagai right or freedom to do as you choose; do something without permission.  Merujuk pada defenisi tersebut kita bisa memahami bahwa liberty hak atau kebebasan untuk melakukan apapun yang kita pilih atau melakuka apapun tanpa perlu perizinan dari siapapun. Nah, kembali ke permasalahan yang saya sampaikan di paragraf pertama, bagaimana seharusnya sikap awam terhadap hal itu?  Saya pertegas dan persingkat saja,  dalam perkawinan antargama, satu-satunya yang menjadi penghambat adalah tentang sah dan tidaknya sebuah pernikahan menurut suatu agama. Jika sah, setiap tindakan yang dilakukan akan mendapat pahala sedangkan jika tidak sah maka akan mendapat dosa. Lalu, jika hal itu tetap dilaksanakan bagaimana? Anggap saja, jika kamu masih sebagai orang yang taat beragama, kamu sedang melakukan sebuah dosa. Namun dosa yang menenteramkan, dosa menurut teolog namun pahala bagi kamu yang menjalankannya. Untuk menikah tentu diperlukan komitmen untuk bertanggungjawab yang kuat kan? Bagi saya, bentuk pernikahan antaragama telah menunjukkan komitmen yang kuat. 
Memerhatikan hal ini, demi mewujudkan kebebasan sejati (yang bertanggung jawab) saya tak mempermasalahkan tentang wacana legalisasi pernikahan antaragama. Bagi kaum teolog yang masih menolaknya, tentu dipersilakan. Liberalis juga tak diperkenankan memaksakan pendapatnya bagi orang lain kan? Tapi yang perlu kita pahami bersama, umur manusia tak jauh lebih panjang daripada umur Tuhan Yang Mahaabadi, aturan-aturan yang Dia buat tentu saja untuk kebaikan manusia dan saya yakin dengan sepenuhnya bahwa Tuhan telah tahu hal ini akan terjadi, yakni perubahan manusia begitu cepat dan luar biasa. Saya yakin dengan sepenuhnya bahwa Tuhan akan memaklumi hal ini, walaupun banyak yang meninggalkan-Nya, dalam hati, tindakan, dan perbuatan. Mengulas sedikit saja, landasan para teolog  menolak pernikahan antaragama adalah teks yang diyakini diturunkan oleh Tuhan pada 14 abad lampau dan diyakini pula tak akan ada lagi teks-teks yang diturunkan oleh Tuhan sesudah itu. Lalu dengan perubahan dan tuntutan manusia yang luar biasa ini, pada siapa kah manusia hendak memperluas jangkauan berpikirnya? (sedangkan di lain pihak telah Tuhan katakan bahwa teks 14 abad lampau adalah yang terakhir) Tentu saja Tuhan telah mempersiapkan hal itu! Dengan apa? Ya, dengan akal pikiran manusia. Berterima kasihlah pada Tuhan yang telah menganugerahkan hal itu pada kita semua, sehingga pada akhirnya kita akan terpecah menajdi dua, rasionalis dan tekstualis.

Tiga semboyan yang disebutkan di awal merupakan sebuah cita-cita luhur. Cita-cita yang mesti diperjuangkan dengan serius dan penuh tanggung jawab. Bagi masyarakat modern, dengan mewujudkan ketiganya maka akan tercipta sebuah kehidupan yang kompleks namun tetap beraturan dan bertanggung jawab. Kekompleksan masyarakat inilah yang yang dapat dianalogikan sebagai bentuk masyarakat madani. Masyarakat yang tidak hanya melek dalam pelbagai hal namun memiliki sifat-sifat yang cocok untuk menjalankan kemodernan itu.

Modern dan madani, sebuah keadaan yang begitu diidam-damkan dalam pelaksanaan semboyan Liberty, Egality, Fraternity.  Kartanegara (2007: 80-94) seorang guru besar filsafat Islam mengemukakan beberapa hal yang menjadi ciri masyarakat modern dan madani.
Pertama, inklusivisme. Inklusivisme merupakan sebuah paham yang mengakui kebenaran-kebenaran yang berasal dari kepercayaan atau ideologi seseorang.  Hal yang ditekankan dalam inklusivisme ini adalah ilmu pengetahuan. Kartanegara mengemukakan bahwa Alkindi (filsuf abad 9) telah mempelajari telah mempelajari hampir semua cabang ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dengan penuh percaya diri. Alkindi meyakini bahwa ilmu bersifat akumulatif dan tidak akan mencapai tingkat setinggi ini kalau bukan karena sumbangan pendahulu kita. Sikap inklusivisme merupakan perwujudan persamaan dan kesetaraan masyarakat madani. Walau ada sebagian masyarakat yang menolak sikap ini dengan alasan teologi, inklusivisme yang proporsional masih sangat dibutuhkan untuk membentuk suatu masyarakat yang sedang berkembang.

Kedua, humanisme (egalitarianisme). Humanisme dalam pengertian yang sederhana adalah cara pandang yang  memperlakukan manusia semata-mata karena kemanusiaannya. Ciri kedua ini akan muncul dalam masyarakat yang memiliki rasa persaudaraan atas dasar persamaan. Sering diperhatikan di layar kaca dan muka koran, terjadi genoside dan perilaku melanggar hukum yang disebabkan alasan ras dan agama.  Masih sangat segar dalam ingatan kita bersama, terjadi pembunuhan terhadap karyawan Charlie Hebdoo di Paris, Perancis atas alasan pelecehan Muhammad. Dangkalnya pemahaman terhadap karya-karya satire telah membuat sebagaian orang lupa diri dana dengan semena-mena melegalkan perbuatan jahatnya atas nama pembelaan terhadap sebuah agama. Joel Kraemer mengemukakan dalam Philosophy in the Renaissance bahwa pada abad X filosof muslim yang bernama Abu Sulaiman Alsijistani memiliki sebuah majelis filsafat yang keanggotaannya tidak dibatasi pada sarjana muslim, tetapi juga untuk Kristen, Yahudi, bahkan Zoroaster. Ikatan yang mendasari keanggotaan majelis tersebut persahabatan universal yang dinamai “shadaqah” yang mengatasi ikatan kesukuan, etnik, warna kulit, dan agama. Persahabatan ini didasarkan pada pandangan humanis yang menilat manusia semata karena kemanusiaannya bukan karena yang lainnya (Kartanegara, 2007: 86).

Ketiga, toleransi. Toleransi merupakan sikap menghargai pandangan yang tak sesuai dengan pendirian sendiri.  Jika inklusivisme telah mencapai tahap pengakuan, toleransi baru sampai tahap penghargaan, apresiasi. Jamak diketahui bahwa masyarakat yang modern dan madani pasti plural dalam pelbagai hal. Pluralitas yang tinggi tentu saja akan memicu konflik kepentingan jika tidak diatur sedemikian rupa. Memiliki sikap toleransi merupakan langkah preventif untuk mencegah konflik kepentingan tersebut dan merupakan sebuah cara untuk mencapai kestabilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keempat, demokrasi. Demokrasi merupakan bentuk kedaulatan rakyat. Tentu harus kita pahami bersama, demokrasi yang baik adalah demokrasi yang proporsional. Maksudnya adalah dengan mempelajari esensi demokrasi sehingga bisa diimplementasikan dengan tepat (esensi demokrasi adalah egalitarian, kesetaraan). Berkaitan dengan carut-marut pelaksanaan demokrasi pada abad 21 ini, I Dewa Palguna seorang hakim di Mahkamah Konstitusi menyampaikan sebuah pernyataan yang sungguh menarik yaitu, “"Mungkin benar tanpa demokrasi suatu bangsa bisa menikmati kemakmuran, namun mungkin benar tanpa demokrasi masyarakat tak dapatkan keadilan."

Pengertian lahir dari sebuah kata dan pengertian terdiri atas kata-kata. Sutardji menyampaikan lewat kredonya yang fenomenal, Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Pengertian mengantarkan manusia ke dalam sebuah cara pikir dan cara pandangnya terhadap semesta. Jika melihat carut-marut yang terjadi akhir-akhir ini, barangkali kita telah sampai pada sebuah pengertian bahwa semesta sedang memperbaiki dirinya sendiri, dengan membawa pengertian-pengertian Liberty, Egality, Fraternity untuk disebarkan di seluruh penjurunya.







Comments