Optimalisasi Fungsi Parit Untuk Pencegahan Banjir di Pontianak

Sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak memiliki keunikan tersendiri. Ianya dilewati oleh garis khatulistiwa dan menjadi muara sungai Kapuas yang dikenal sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Posisi Pontianak yang berada di wilayah tropis dan daerah aliran sungai memberikan keuntungan sekaligus kekurangan. Matahari yang bersinar sepanjang tahun dan sungai yang bisa dijadikan sarana transportasi adalah keuntungan yang bisa diambil dengan keadaan yang demikian. Namun di sisi lain curah hujan yang tinggi dan pendangkalan sungai maupun parit sangat berpotensi untuk menyebabkan banjir.
Pontianak adalah sebuah kota yang memiliki banyak parit. Parit-parit ini tersebar hampir di semua kecamatan yang ada di Pontianak. Jalurnya panjang dan berkelok-kelok membelah kota hingga berakhir di sungai Kapuas. Namun sayangnya ujung parit yang menuju Kapuas semakin lama semakin kecil dan sempit. Sehingga ketika hujan turun dengan deras, air tidak bisa keluar menuju aliran sungai dengan leluasa. Akibatnya air meluap dan naik ke wilayah pemukiman menyebabkan banjir.
Oleh sebab itu diperlukan beberapa upaya untuk mencegah hal tersebut. Beberapa daerah yang kerap menjadi langganan banjir di Pontianak adalah di Kelurahan Kotabaru serta Kelurahan Bansir. Jika hujan turun selama beberapa jam, tak jarang air langsung menggenangi jalan. Aktivitas warga terhambat, struktur jalan raya pun jadi lekas rusak. Melihat hal demikian ada beberapa langkah kebijakan strategis yang dapat dilakukan untuk merevitalisasi fungsi parit Kota Pontianak.
Langkah pertama yang dilakukan adalah merelokasi bangunan-bangunan liar atau pun kios yang didirikan di atas atau berdekatan dengan parit. Hal ini bertujuan untuk penertiban wilayah dan menghindari penyempitan luas parit. Langkah kedua adalah memasang turap beton di sepanjang aliran parit. Pemasangan turap beton bertujuan agar parit memiliki fondasi yang kuat sehingga tanah yang ada di sisinya tidak mudah longsor. Pemasangan turap beton juga bertujuan untuk menstabilkan dan menjaga lebar parit agar tetap sama seperti semula. Bukan saja untuk fungsi lingkungan, turap beton bahkan dipasangi lampu led berwarna-warni oleh masyarakat di Kelurahan Sungai Jawi sehingga tampak sangat estetis di malam hari.
Langkah ketiga adalah memaksimalkan fungsi petugas kebersihan kota. Di Pontianak terdapat ‘pasukan kuning’ yang bertugas menjaga kebersihan daerah umum seperti jalan-jalan dan parit. Khusus untuk membersihkan parit mereka telah menyediakan jaring untuk menangkap sampah, baik sampah organik maupun nonorganik. Langkah keempat adalah melakukan pendidikan cinta lingkungan secara persuasif. Poster-poster yang bertuliskan pentingnya menjaga sungai dipajang di beberapa lokasi strategis. Poster dengan warna yang menarik dan menggunakan bahasa daerah akan menimbulkan rasa keterlibatan dan tanggung jawab masyarakat untuk bersama-sama memelihara fungsi parit. Selain itu cara persuasif ini bisa juga dilakukan dengan melakukan sosialisasi. Kota Pontianak memiliki pasukan Duta Lingkungan Hidup yang bisa diberdayakan dengan maksimal untuk kampanye lingkungan ini.
Empat langkah yang dikemukakan di atas adalah bentuk revitalisasi fungsi parit untuk mewujudkan Pontianak yang bebas banjir. Sebagai kota jasa dan industri, Pontianak harus selalu dalam kondisi yang kondusif sehingga kegiatan perekonomian bisa berjalan dengan lancar. Tentu saja langkah revitalisasi tersebut tidak bisa berjalan maksimal jika tidak ada kerjasama dari semua pihak. Pemerintah kota bertanggung jawab untuk melakukan kontrol dan pelaksana aturan, masyarakat dan kalangan industri dengan kesadaran tinggi memelihara kebersihan parit. Dengan demikian, parit yang bersih dan wilayah bebas banjir bukan lagi mimpi di siang bolong.

Comments