Moksa



           Dewi gelisah. Tangannya penuh darah. Padahal dia baru bangun dari tidur yang panjang. Matanya menatap langit-langit kamar, lambat-lambat. Bayang putih sekelebat melintas diikuti sorot pijar jingga. Dewi tak lagi sadar.  Subuh datang, TOA dekat rumah bersahutan. Dewi menggeliat, geli. Ada sesuatu bergerak di ujung kakinya, lalu naik perlahan hingga meliputi yoni. Sesuatu itu bergerak makin cepat, dari jari-jemari berubah menjadi lidah yang bergerak ke segala arah, meinggalkan basah dan bercak merah bagai darah. Dewi tak mau membuka mata, mengingat-ingat mimpi yang membuatnya gelisah dengan perasaan lidah membisu dan tangan penuh darah, sekarang lidah dan tangan itu berubah bentuk menjadi lingga. Merasuki bukan hanya tubuh perahimannya, namun hingga jiwa. Membuatnya moksa, moksa berkali-kali dalam satu subuh. Dewi pun masih tak mau membuka mata, hingga dia mendengar jeritan tangis jutaan bayi yang merangkak keluar pelan dari tubuhnya. Jutaan bayi yang terwujud dalam tetesan-tetesan, menyerap ke alas tidur biru. Bersatu dengan pekat darah. Subuh masih dingin, Dewi masih tak mau membuka mata.
              Bram duduk di pinggir tempat tidur. Matanya pejam. Tangannya dikepalkan erat sambil sesekali menggerem, ahhhh. Di samping terbaring seorang perempuan cantik, mengelus-ngelus punggung Bram. Lampu kamar sangat temaram, di luar terdengar suara gaduh orang-orang mabuk yang teriak kering menggoda-goda lonte. Lonte yang duduk di teras rumah, berharap seorang dua lelaki berkantong tebal mampir sebentar. Saling mencurahkan kasih dan rindu, berbagi liur dan peluh, berbagi rasa dengan desah kata, berbagi cinta sambil bercinta. Ahhhh, klimaks! Laki-laki pendiam ini, sebelumnya hanya asik dengan bacaan-bacaan porno. Begitu menggemari segala hal yang beraoma porno. Porno mengajari kesederhanaan, porno mengajari keperkasaan, porno mengajari kejujuran. Di atas semua itu, porno mengajarkan nikmat. Laki-laki pendiam ini menyitir lalu memutarbalikkan suatu pesan suci. “tunjukilah jalan yang lurus, yaitu jalan yang dianugerahkan nikmat. AH, begitulah Bram memahami kehidupannya. Buku berserakan di kamarnya, membantunya merangkai kata untuk menyampaikan rasa pada dunia. Rasa yang sungguh nikmat namun dibatasi dengan alasan-alasan tak masuk akal! Gara-gara bacaannya itu, Bram timbul keinginan hendak moksa, moksa bersama pacarnya, si Dewi, gadis cantik yang dulu perawan sebelum mengenalnya. Bram berbasa-basi, merayu, lalu terus terang menyampaikan hajatnya.  Namun hingga purnama tertutup awan dan hilang pun, Dewi tak berikan jawaban. Aku mesti moksa! Bram mengutuk dirinya. Segera Bram membuka laptop kemudian langsung berhubungan dengan suhu-suhu yang sering menjajakan daging mentah di dunia maya. Ada beberapa testimoni, Bram tertarik dengan yang paling bawah. HJ 85, BJ90, FJ 80, penampakan 80. Top cer! Begitulah testimoni yang dia temukan. DI bawahnya ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Bram sesegera mungkin hendak moksa. 900 all in one, ujar suhu. Bram mengiyakan. Malam itu Bram moksa berkali-kali, jutaan bayinya dibungkus dalam karet lalu dibuang ke tong sampah beraroma busuk, dan bayi-bayi itupun akan busuk tapa pernah meminta pertanggung jawaban dari ayahnya dan tanpa pernah mengisap darah dari rahim ibunya.  Bram moksa di saat Dewi, pacarnya, merasa gelisah dengan perasaan penuh darah. Padahal lingga semesta yang lain masih tertancap di tubuhnya.
            Kamar rapi, beraroma parfum murah. Di dinding tergantung dua dan  tiga lukisan bunga berbingkai kayu. Dinding bercat biru, kusen jendela juga biru, seprai yang dijadikan alas persetubuhan juga biru. Tampak hitam sebagian kecil, bernoda setetes dua tetes oleh persenggamaan. Dewi masih gelisah. Tangannya penuh darah.
Kampus tampak ramai. Cowok-cowok muda berpakaian rapi dengan rambut klimis duduk manis di kantin ujung depan. Tangan memegang puntungan rokok, menyala, ditiup tiupkan ke teman-temannya. Lalu terbahak-bahak. Abu rokok jatuh ke atas celana krem. Ah, sial! Bram mengumpat dalam hati.
Dewi memerhatikan saksama tugas-tugasnya. Akhir-akhir ini, menjelang akhir tahun banyak hal yang harus dilakukan. Kantornya tak begitu banyak menampung pegawai. Hah, Dewi berseru dengan jiwanya. Letih dikejar tenggat, letih dikejar target, namun ia tak pernah letih tiap pekan melayani lelakinya lewat isi dalam cawat. Hari itu Dewi menggunakan kemaja putih dengan rok pendek hitam. Rambutnya disanggul kecil, tanpa aksesoris. Terlihat jelas leher dan tengkuknya, indah, tempat Bram selalu menjatuhkan kecup-kecup hingga dewai mendesah lalu basah.
Desember, hujan turun tanpa kenal dengan jadwal. Carut-marut, semuanya basah! Matahari pun ikut-ikutan kurang ajar, malu untuk bersinar. Apakah perlu diberi satu atau dua tetek betina? Agar senyap dan bersinar bagai biasanya.
Bram tak bisa tidur. Lalu merapal mantra, kebiasaan yang tak pernah diungkapnya pada siapapun. Dia begitu gemar dengan sajak kesabaran, sajak binatang jalang, sajak aku ingin, karangan penyair tersohor di kampusnya. Aku tak bisa tidur, orang ngomong, anjing ngonggong, dunia jauh mengabur! Malam makin dingin, diulangnya beberapa kali mantra itu sambil berharap bisa tidur dengan nyenyak. Ah, tak bisa! Bram gelisah, makin lama makin bingung dengan kehidupannya yang susah diceritakan. Bram pelan-pelan menarik napas. Hape dipegangnya kembali, mengobok-obok lalu menemukan video porno yang memang sengaja disimpan. Sambil tangannya bergerilya, tubuh didempetkan ke dinding yang dingin. Bram berkonsentrasi, pelan dan pecah. Dinding dingin itu basah oleh tetesan bayi yang akan menimbulkan bercak saat kering. Bram terengah, dadanya basah.  
Hari makin gelap. Langit? Ya, sama seperti malam sebelumnya, hanya beberapa bintang yang muncul di balik mendung. Dewi dan Bram bertemu di kamar. Keduanya lelah sebab kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran. Mereka terbaring, berdampingan.  Keduanya terlampau letih. Kali ini tak ada desah tak ada basah. Satu persatu orang datang, melalui pintu lalu ke ruang tengah. Menunduk takzim dan meletakkan setangkai bunga merah darah di atas keranda keduanya. Lilin menyala.


Comments