Mimbar


Hari ini cuaca Pontianak lumayan bagus. Pagi hari tanpa kabut, siangnya angin bertiup sepoi-sepoi, malamnya cerah tanpa bayang-bayang mendung. Saat ini saya sedang berada di rumah, mengerjakan sedikit pekerjaan yang akan membuat saya bertahan hidup seribu atau dua ribu tahun lagi.  O iya, saya mendengarkan alunan lirik Bagimu Negeri sambil menulis catatan singkat ini. Oh, syairnya, iramanya itu loh, menggetarkan dada saya yang suka sesak. Kok bisa ya manusia menggubah lagu seindah ini? Saya menduga-duga, pada waktu Bagimu Negeri ini lahir, penciptanya sedang memanaskan air hangat di tungku kaya untuk menyeduh seteko kopi hitam. Sungguh minuman yang pas untuk menelurkan beragam ide yang ada di kepala!

Kemarin siang saya berbincang-bincang dengan guru saya. Beliau sedikit menerangkan tentang mimbar. Sebagai gambaran, itu loh tempat yang dijadikan pendeta dan ulama untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam namun tak mudah dipahami maksud dan tujuannya. Berkaitan dengan mimbar, guru saya yang baru beberapa tahun ini menyelesaikan doktornya, menjelaskan bahwa setiap manusia harus berbicara di mimbar yang tepat. Tentu dalam situasi yang tepat pula.

Beberapa waktu ini, telah dipertontonkan pada khalayak perbuatan manusia yang tak sesuai dengan mimbarnya. Misalnya berupa tayangan sehari penuh pernikahan seorang selebritis, tayangan rapat-rapat anggota DPR RI yang ricuh, bahkan tayangan persenggamaan orang ternama yang dengan mudah bisa diperoleh. 

Guru saya melanjutkan, mimbar itu pada hakikatnya sangat susah untuk bisa dimiliki. Bahkan, untuk bisa berpendapat di mimbar yang tepat, seorang manusia perlu bersusah payah memahami hidup, bersusah payah memahami pengetahuan, bersusah payah berpikir, bersusah payah menghamba, dan sebagainya. Lalu, mengapa harus melalui mimbar? Tentu saja, dengan mimbar yang tepat, manusia akan mudah dan bebas menyampaikan kehendaknya. Termasuk kehendak akal pikirannya. Dengan mimbar yang tepat, manusia akan leluasa, tak tertekan, lega, dan tenang untuk berbuat semuanya. Mesti dipahami pula, dengan mimbar yang tepat, manusia-manusia lain akan lebih mudah percaya dan mengikuti sang pemilik mimbar.

Apakah ada hal lain di balik mimbar? Ada, tentu ada. Selain si pemilik mimbar, mimbar juga bisa menjadi tempat untuk menampilkan ajaran-ajaran si pemilik mimbar. Ajaran-ajaran Transenden. Pada saat ini, mimbar-mimbar tansenden begitu laku. Laris keras sehingga mudah mendapat tempat di hati manusia. Setiap aktivitas selalu menghadirkan mimbar transenden, seolah tak ada tempat bagi mimbar lain untuk berkembang. Namun sayang, mimbar transenden pun telah terbayangi oleh mimbar yang lain pula. Sehingga mimbar ini diperebutkan, dipertuankan, kalau tak mau dipertuhankan. Demi apa? Demi membela kepentingan sedikit pihak dengan mengorbankan kesejahteraan semua umat manusia.

Untunglah sekarang saya telah mengenal facebook. Sehingga saya bisa membuat mimbar sendiri tanpa bersusah payah membuktikan akuntabilitas kontennya. Senang kan? Tentu, senang luar biasa. Dengan facebook kita menjadi bisa sang bijak yang setiap hari menyampaikan nasihat, kita bisa menjadi fotografer andal dengan mengunggah foto-foto unik, kita bisa menjadi tukang marah dengan mengumpat sana-sini hingga memenuhi linimasa, bahkan kita bisa dengan mudah menjadi model fotografi hanya dengan memanfaatkan aplikasi saku yang tersedia di semua perangkat berbasis android. Ternyata, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat,  semakin mudah manusia untuk membuat mimbarnya sendiri tanpa perlu bersusah payah menunjukkan otoritas kemimbarannya di dunia nyata. Ya, seperti saya ini lah. 

Dengan sengaja memimbari akun facebook saya dengan kritik dan curahan hati tak penting. Padahal saya cuma petani biasa yang hari ini bekerja untuk makan dan besok saya harus bekerja lagi jika hendak makan. Selamat berakhir pekan, semoga hidupmu menyenangkan! J

Comments