Merawat Kembali Pluralisme

Akhir-akhir ini wacana kebhinnekaan mencuat kembali. Puncanya adalah aksi bela bhinneka tunggal ika beberapa waktu lalu. Setelah sebelumnya ada aksi besar-besaran bertema bela Islam. Selain melalui aksi itu, wacana kebhinnekaan mulai terpapar ke permukaan melalui tangan dingin esais-esais di pelbagai media. Semuanya menyerukan hal yang sama, yakni betapa pentingnya merawat keutuhan bangsa dengan semangat bhinneka tunggal ika.
Indonesia, hingga 2016, tetaplah Indonesia yang sama-sama jamak seperti dulu. Ianya memiliki keragaman yang tidak main-main. Kepercayaannya terdiri atas enam agama yang terlembaga dan puluhan kepercayaan lokal serta beberapa agama-agama terlembaga lainnya namun belum diresmikan pemerintah seperti Yahudi, Sikh, atau Bahaai. Sukunya berjumlah ratusan dengan ratusan bahasa yang berbeda. Masyarakatnya berjumlah lebih dari 260 juta yang mendiami belasan ribu pulau namun lebih memilih tumplek-tumplek di pulau Jawa. Aliran politiknya pun sungguh beragam, apalagi sejak reformasi tahun 1998. Bahkan yang hebatnya lagi, dalam satu agama dari sekian banyak agama itu, terdapat banyak sekte yang kadang antarsekte itu memelihara konflik berkepanjangan. Apakah dengan kejamakan yang dimilikinya Indonesia akan semakin aman atau justru terjungkal di antara sekat-sekat kejamakannya?
Reformasi sudah berjalan selama delapan belas tahun. Selama itu pula hasrat untuk berserikat dan berkumpul tumbuh bagai jamur di musim hujan. Jika pada orde sebelumnya kesempatan berserikat dan gagasan yang diusung haruslah sejalan dan dalam kontrol penguasa, sekarang tidak lagi demikian. Setahun, dua tahun, tiga tahun, reformasi berdampak luar biasa bagi perkembangan demokrasi. Itu lah kesan yang didapatkan. Hingga pada beberapa tahun terakhir muncul beberapa gerakan yang cukup mencengangkan: menentang Pancasila sebagai ideologi negara atau bertindak anarkis serta melampaui batas dengan dalih menggunakan hak berdemokrasi kalangan mayoritas. Masyarakat yang baru bermain-main dengan bayi demokrasi ini tampaknya mulai lepas kendali. Masyarakat tidak bisa meredam bayi demokrasinya yang terus-menerus merengek membuat gaduh sepanjang malam.
Adalah angin segar jika kehidupan pascareformasi menerapkan demokrasi dengan baik. Hak-hak hidup terjamin , suara marginal diperhatikan, parlemen penuh warna dengan pelbagai latar belakang yang memiliki pelbagai sudut pandang. Namun ada kalanya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sekarang demokrasi telah dicederai oleh sekelompok orang yang berusaha memenuhi hasratnya dengan mengencingi demokrasi itu sendiri.
Demo penolakan terhadap Ahok, penurunan rupang Buddha, serta pembakaran masjid di Tolikara adalah sebagian kecil dari contoh bahwa demokrasi telah disalahgunakan. Adalah benar bahwa demokrasi menerapkan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Adalah benar bahwa demokrasi mengutamakan kesejahteraan umum yang tiap kebijakan di dalamnya telah disepakati bersama. Dua hal ciri demokrasi adalah cita-cita masyarakat modern yang equal. Namun, ianya ternyata bisa menimbulkan borok di sisi lain yaitu ketika ada sebagian masyarakat yang percaya dnegan sungguh-sungguh bahwa kelompok mayoritas di dalam demokrasi memeroleh privilege serta berandil besar dalam menentukan kebijakan publik.
Beberapa hal yang telah dikemukakan di atas merupakan percikan-percikan konflik kecil. Ianya masih belum berdampak besar, namun sangat menyengat dan bisa saja meledak di saat-saat tertentu. Oleh sebab itu, perlu upaya serius dari pelbagai pihak untuk meredam konflik atau pun meredam calon-calon konflik yang sewaktu-waktu bisa muncul. Dialog kebangsaan digalakkan, pendidikan karakter dimassifkan, forum kerukunan umat difungsikan kembali. Beberapa upaya tersebut, setelah dilihat lebih jauh, bermuara pada pernyataan bahwa Indonesia saat ini telah kehilangan pusakanya yang paling berharga: semangat pluralisme.
Ketika istilah pluralisme dilontarkan, kalangan mayoritas ganda akan mati-matian menolaknya. Pluralisme bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dimaknai sebagai paham relativitas agama: bahwa setiap agama memiliki jalan kebenaran masing-masing. Mengaitkan paham pluralisme dengan relativitas agama tampaknya mengacu pada fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bahwa pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Selanjutnya, fatwa yang disahkan pada 28 Juli 2005 tersebut memberikan ketentuan hukum berupa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Fatwa MUI di atas pada hakikatnya hanya mencakup pluralisme agama. Namun agama telah dianggap sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, sehingga segala yang berbau pluralisme pun dianggap salah dan mesti dihindari.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, pluralisme dan pluralisme adalah dua hal yang berbeda dalam penerapannya walaupun secara substantif adalah serupa. Kedua, substansi semangat pluralisme bisa direduksi dengan sembarangan akibat reduksi makna yang keliru. Seperti yang telah dikemukakan di muka, kejamakan atau pluralitas Indonesia bukanlah suatu hal yang sengaja diciptakan melainkan ianya terjadi secara alamiah. Pluralitas adalah sebuah corak yang tidak bisa dihilangkan sedangkan satu-satunya cara agar corak itu tetap terjaga adalah dengan memelihara semangat pluralisme. Bagaimanakah yang dimaksud dengan semangat pluralisme itu? Ya, ianya adalah semangat atau sebuah kesadaran bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang jamak. Tidak hanya sadar dengan kejamakan itu, melainkan juga memeliharanya, menjaganya, bahkan meningkatkan kualitas kejamakan agar tercapai cita-cita luhur dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara.
Judul yang diambil untuk esai ini Merawat Kebhinnekaan dengan Pluralisme pada hakikatnya bermakna sangat sederhana. Untuk menjaga kejamakan, satu-satunya yang perlu dilakukan adalah dengan kesadaran bahwa kejamakan adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Kesadaran bahwa Indonesia diisi oleh orang-orang yang beragam, kesadaran bahwa Indonesia diperjuangkan oleh pejuang yang beragam pula merupakan langkah kecil dalam merawat kebhinnekaan. Jika bukan semangat pluralisme yang bisa merawat kebhinnekaan, lantas dengan semangat apa lagi?
Singkawang, 23 November 2016
Haries Pribady

Comments