Menyenangkan Diri



Akhir pekan telah berakhir. Lalu apa yang akan dilakukan sejak sekarang hingga besok pagi kita memulai pekerjaan? Ada yang masih bertarik-ulur dengan agenda akhir pekannya, ada yang betul-betul kosong, ada yang masih di perjalanan, ada yang sedang memasak untuk keluarga, ada yang sedang menonton siaran kegemarannya, lalu laki-laki lajang seperti saya lakukan apa? Ah, tak perlu lah saya jawab dengan apa saya menyenangkan diri.

Menyenangkan diri, memberi makan jiwa-jiwa yang sungguh kelaparan sebab telah bekerja sepekan penuh. Kadang, berlibur pun memaksa jiwa untuk bekerja lebih keras, jika terjadi hal yang tak diinginkan. Seperti lupa membawa tabir surya saat berlibur ke pantai misalnya. Upaya-upaya menyenangkan diri begitu banyak, mulai dari hal yang sederhana dan murah hingga rumit dan mahal. Tentu sebanding dengan kepentingan yang dimiliki individu dalam menyenangkan dirinya.

Pekan ini tentu berbeda dari biasanya. Beberapa teman saya ada yang masih sibuk dengan pekerjaan kantornya, pekerjaan kampusnya, pekerjaan rumahnya, tentu pekerjaan pelayanannya. Setiap hari diisi dengan rutinitas yang sama. Bangun tidur pada pukul sekian, sarapan dan bersiap siap untuk berangkat kerja. Ketika matahari sudah di ubun-ubun dan tiba waktu makan siang, aktivitas pekerjaan berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkan lagi hingga matahari condong ke barat. Waktunya pulang ke rumah, masak untuk makan malam, kemudian beristirahat lagi. Walaupun ada pula yang rela untuk menambah porsi jam kerja malamnya dengan ber-jiggy jig di lantai atau pun di kedai-kedai. Ya, semacam kebiasaan laki-laki lajang yang susah dihilangkan. Dari Senin hingga Sabtu melakukan hal yang sama, setiap pekan sepanjang tahun. Bosan? Tentu! Tak ada satu pun manusia yang betah dengan keadaan hidupnya yang terlampau statis. Namun apa boleh buat, banyak yang tak mau mengubah jalur hidupnya sehingga mesti siap-siap mengalami kebosanan sepanjang masa produktifnya.

Lalu mesti bagaimana? Untunglah Tuhan ciptakan Minggu sebagai hari untuk beribadah dan beristirahat. Banyak manusia yang salah dalam memanfaatkan akhir pekannnya. Bukannya berefleksi dan meditasi atas semua pekerjaan yang dilakukannya selama sepekan, malah menambah jadwal janji temu dengan orang lain, menambah jadwal pekerjaan dan daftar tugas. Itu akan memberatkan jiwa, tentu saja. Namun lain halnya jika memang benar-benar butuh sehingga perlu mencari tambahan di akhir pekan.  Menyenangkan diri bukan sekadar menemukan tempat baru dan suasana baru di luar kediaman. Menyenangkan diri bukan sekadar melepas gelak-tawa dengan gelas dingin berisi jus jeruk. Menyenangkan diri bukan sekadar melemaskan otot tubuh yang tegang akbiat pekerjaan. Menyenangkan diri itu sederhana, menyenangkan diri itu kembali.
Bekerja sepanjang hari sepekan penuh, dari pagi hingga petang, itu untuk siapa? Nah, itu lah menyenagkan diri. Akhir pekan saat yang tepat untuk memenuhi kembali hasrat pada tujuan-tujuan yang telah kita tetapkan di awal, sehingga kita mau bekerja keras.  Akhir pekan saat yang tepat untuk menyenangkan diri, membangun dan memperbesar tujuan awal. Bagi yang sudah berkeluarga, menyenangkan diri adalah  memberikan perhatian penuh pada keluarganya. Bagi yang masih lajang, menyenangkan diri adalah  mengecek persiapan yang akan digunakan untuk masa depannya.

Banyak yang lupa menyenangkan diri sehingga memaksa manusia lain menyenangkan dirinya. Menyenangkan diri itu ada di dalam pribadi, ada di dalam jiwa. Kembali berfokus pada tujuan awal, merenung sejenak, kemudian bersenang-senanglah. Sebab kalau bukan diri sendiri yang merawat, siapa lagi yang akan bertanggung jawab jika suatu saat jiwa mudah sakit dan sekarat?



Comments