Menyajikan Makanan: Upaya Ibda Binafsihi



Akhir-akhir ini aku mulai gemar memasak. Tiap kali pulang ke rumah mama, aku selalu berusaha memasak, entah itu yang sederhana seperti sayur bening hingga yang agak rumit seperti gulai terong. Kadang juga aku belajar membuat kue. Kek kering, kek basah, hingga kek pejal pun pernah kubuat gara-gara tak patuh pada resep. Selain memang ingin belajar memasak, kedatangan om dan tante ke rumah pun membuatku berpikir tentang apa yang bisa kusajikan buat mereka.
Kemarin aku belajar membuat roti goreng. Orang Melayu pasti paham dengan makanan ini. Bahannya sangat sederhana, terigu dicampur margarin, telur, dan ragi roti. Diadon hingga pulen, lalu dibiarkan mengembang. Setelah itu diisi dengan selai sarikaya yang kubuat sendiri. Selai sarikaya yang kubuat pekan lalu pun bahannya sangat mudah didapat. Berbekal kanji, telur, terigu, gula, pandan, pewarna makanan, dan santan, selai sarikaya berwarna kuning cerah itu pun jadi setelah diaduk di atas api kecil selama dua jam. Adonan roti yang sudah diisi selai itu pun cukup digoreng, roti yang berbentuk bulat itu cukup jadi kudapan sore untuk om dan tante yang kebetulan datang berkunjung.

Nah, malam ini aku pun belajar menyeduh kopi di warkop favorit. Kusebut favorit karena memang aku banyak menghabiskan waktu di tempat ini, untuk bekerja  ataupun sekadar bertemu teman. Setelah ngobrol tentang rencana liburan ke riam-riam yang ada di Kalbar, diselingi ngestalk  akun cewek di Instagram  dengan brother  BinawanJati, di Warkop Atek 46  milik Om Bisma Skw (anyway, makasih banyak Om, lempuk duriannya enak) Om Hendra mengajariku bagaimana menyeduh kopi sehingga bisa tersaji kopi pahit yang sungguh segar dan lezat. Kuperhatikan betul bagaimana Om Hendra menakar kopi untuk porsi satu gelas. Lalu kuperhatikan pula bagaimana air yang menggelegak dituang ke dalam teko. Dibiarkan sesaat, kemudian disaring. Akhirnya kopi nan lezat dituang ke dalam kelas keramik dan siap disajikan ke pelanggan.


Belajar menyajikan makanan, entah itu masakan, kue, atau pun minuman adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus bikin was-was: takut kalau ada yang tidak suka dan komplain. Tapi hal itu, jujur, mengajarkan suatu hal. Bahwa hidup adalah untuk memberikan yang terbaik, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Oh iya, kalau belajar memasak, apapun itu, mesti siap menerima risiko kalau makanan yang dibuat tidak disukai orang dan itu artinya kita mesti belajar lebih banyak lagi.

Comments