Menuju Kursi Walikota (I)

Beberapa bulan lagi Pontianak akan punya walikota baru. Setelah dipimpin selama dua periode oleh Bapak Sutarmidji,  sekarang muncul nama-nama yang siap melanjutkan perjuangan beliau dalam menata dan mengembangkan kota. Dari beberapa nama itu, ada calon petahana, anggota DPRD, dan sebagainya. Perlu upaya serius bagi masyarakat untuk menentukan pasangan mana yang lebih tepat untuk membangun Pontianak selama lima tahun ke depan.

Tentu, bagi masyarakat awam, salah satu yang menjadi tolok ukur kesuksesan suatu pasangan calon adalah tingkat elektabilitas. Tetapi itu tidak akan dibahas sama sekali di dalam esai ini. Hal utama yang menjadi basis argumen penulis adalah apa saja mesti dibangun dan dilejitkan dari kota Pontianak dan berdasarkan pertimbangan itulah nanti konstituen bisa menentukan pilihannya.

Pontianak adalah ibu kota provinsi yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Sebagai kota yang berada di wilayah tropis dengan curah hujan dan sinar matahari berintensitas tinggi, perlu upaya serius dalam membangun daerah yang dikenal sebagai Kota Seribu Parit ini. Beberapa hal di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, kota yang bertumbuh dan berkarakter. Membangun kota, tidak bisa dilepaskan dari pembangunan infrastruktur. Baik itu berupa fasilitas umum maupun bisnis. Dibandingkan sepuluh tahun lampau, boleh dikatakan ada perubahan yang cukup signifikan di Kota Pontianak, khususnya dalam aspek ini. Namun, bagi masyarakat praurban, hal itu kurang lengkap. Perlu upaya-upaya serius dalam menciptakan kota yang berkarakter. Dalam hal apa? Banyak, dimulai dari identitas. Kota yang didominasi masyarakat Melayu ini mesti tumbuh dengan membawa serta nilai-nilai budaya. Bisa tampak melalui desain bangunan, agenda tahunan kota, kebijakan publik, dan sebagainya. Selanjutnya berkaitan dengan branding. Karakter tidak bisa dilepaskan dari branding. Jika pada saat ini slogan Kota Seribu Parit mulai diblowup, mesti ada tindak lanjut dari pengangkatan branding tersebut. Bisa dimulai dari normalisasi hingga menciptakan parit/ sungai sebagai objek ekowisata untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Kedua, kota yang inklusif dan progresif. Pemimpin Pontianak di masa depan mesti memahami betul bahwa pluralitas di Pontianak adalah hal yang sangat lumrah. Walaupun dikenal sebagai kota yang identik dengan Melayu, pelbagai kebudayaan di Pontianak juga tumbuh subur. Pertunjukan wayang, karapan sapi, hingga Cap Go Meh adalah bukti bahwa masyarakat Pontianak bersikap inklusi. Di tangan yang salah, hal ini justru sangat berbahaya. Oleh sebab itu diperlukan sosok pemimpin yang mampu mengakomodasi keadaan konstituennya yang dalam hal ini adalah masyarakat Pontianak. Selain itu, membangun Pontianak tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia yang cenderung ke arah digital. Semua serba digital demi mewujudkan efisiensi pelayanan. Sederhananya, Pontianak membutuhkan calon yang peka dan menerima perubahan arus teknologi dan kemudian bisa memaksimalkannya untuk masyarakat.

Dua hal di atas adalah basis argumen penulis dalam menentukan siapa yang nanti berhak memimpin Pontianak. Semua calon barangkali adalah figur terbaik, tetapi Pontianak butuh figur yang tepat.

Pontianak, 23 Januari 2018
Haries Pribady

Comments