Mendebat



Sore ini cuaca Pontianak agak mendung. Kalau sudah mendung seperti ini rasanya luar biasa adem loh, sangat mengenakkan. Aku yang baru saja bangun tidur pun tiba-tiba segar begitu saja, ya maklumlah, tidurnya hampir tiga jam!

Seharian ini aku tak keluar rumah, kecuali tadi pagi saat keluar sebentar untuk menjilid skripsi dan membeli sayuran untuk dimasak. Aku di kamar terus, leyeh-leyeh di kasur sambil memandang layar blackberry-ku yang kurang layak pakai atau kadang-kadang membuka laptop untuk menyalin beberapa data. Oh iya, kalau dalam waktu senggang seperti ini, aku senang sekali berselancar di facebook. Aku memperbarui status, mengunggah foto, membagikan tulisan, berkomentar di status orang lain, bahkan flirting kalau lagi iseng. Itu-itu terus sih, tapi tak juga buatku bosan. Sebab pernah kukatakan sebelumnya padamu kalau facebook adalah sesuatu yang memberikan kebaruan dan kuanggap itu adalah kabar gembira. Kuanalogikan begini, siapa lagi yang suka memberikan kabar gembira bagi orang yang suka membaca kecuali Tuhan Yang Berhak Berkata-Kata dan Facebook ini. Aku sayang Tuhanku, :*

Sudah menjadi kebiasaanku mungkin ya, untuk memperbarui status aku terlebih dulu memerhatikan tema status yang muncul di berandaku. Saat aku sudah menemukan temanya, aku pun menulis kalimat-kalimat singkat yang agak berbeda bahkan kadang agak nyinyir . Saking nyinyirnya itu hingga berkesan menyindir, memperolok, dsb. Aduh, susah ya. Mengapa sih aku mesti begitu? Sebabnya sederhana saja. Ciri manusia 2014 yang kudefinisikan sendiri adalah selalu memerhatikan perbedaan dibandingkan persamaan. Hal ini berkaitan pula dengan sesuatu yang kita posting di facebook dengan respon yang akan diberikan oleh pengguna facebook lainnya. Bukankah lucu jika hal-hal yang kita bagikan itu adalah yang sama? Jika hal itu menyebabkan ada pihak yang tersinggung, jujur, itu sama sekali bukan tanggung jawabku. Tapi kujelaskan saja, itulah risiko jika berhubungan dengan manusia lain dengan  bahasa verbal. Penafsiran bisa berbeda, pemahaman bisa berbeda pula, khususnya  untuk manusa yang berbeda kelas dalam cara berpikir. Tambahan, tak mungkin aku mesti memerhatikan perasaan dua ribu lebih teman Facebook ku kalau hanya untuk memposting sebuah status. Aduh, aku katakan ya, aku cuma manusia biasa.

Kebiasaanku yang perlu kusampaikan di sini, selain memerhatikan tema yang terlihat dari berandaku, yaitu aku hanya facebookan dalam keadaan paling bodoh. Ya, mengapa demikian? Sebab jika dalam masa produktif, aku tak akan menyempatkan diri untuk memperbarui status bahkan membukanya pun tidak. Aku mesti akui, aku hanya facebook-an saat aku sangat senggang, dan akhir-akhir ini aku memang tidak sibuk sama sekali! Lalu dalam kesenggangan itu ide-ide nakal suka terlintas, sebab tak ada teman diskusi maka aku post deh di facebook. Tentunya, aku tak mau konyol dong. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca terlebih dulu untuk sekadar membuat sebuah status. Hahaha, supaya lebih berkelas, walaupun tidak berkelas sama sekali (minimum aku bisa memberikan rujukan sumber ide dan menjelaskan cara berpikirku pada khalayak) dan justru itu malah sering buat aku stress. Nah, saat-saat beginilah aku sedang dalam keadaan bego, dalam keadaan bodoh. 

Tapi begini, yang membuat aku heran, saat aku memulai sebuah diskusi dengan post yang tak biasa (sebenarnya biasa saja ya, cuma terlalu banyak masyarakat facebook yang tak mau baca buku, ya jadinya luar biasa, padahal mah biasa bangeeeet), kadang beberapa orang waras mampir dan mencle-mencle sambil marah dan ngecap-ngecap kafir dan liberal waktu aku post tentang Tuhan, yang kekasihku sendiri. Dalam otakku berpikir, nih orang kok goblok amat ya? Beberapa kali orang yang mampir ini seolah ingin mendebatku, tapi kubiarkan saja lah. Beramai-ramai dengan manusia sejenis, mereka memberikan pernyataan yang seolah mematahkan pernyataan bodoh yang sering saya post di facebook ini.  Ah, curhatan ini makin tak jelas saja. Begini deh, aku beritahu sekali lagi, kalau kamu mau mendebat, pilihlah orang yang tepat dan kamu tahu betul latar belakangnya. Jangan mau dibodohi lawanmu walau cuma dalam hati.



Pontianak, 11 September 2014

Comments