Membela Anies Baswedan

Kemarin, 13 November 2017, Anies Baswedan mengalami kejadian tak mengenakkan. Ketika tengah berbicara dalam peringatan 90 tahun kolase Kanisius, sebagian peserta reuni meninggalkan ruangan. Aksi walk out ini dimulai oleh Ananda Sukarlan, seorang pianis yang cukup memiliki nama di dunia musik internasional.
Dikutip dari BBC.com, “Saya bosan saja karena Pak Anies ngomong soal sama-sama membangun Jakarta. Saya tidak mau mendengarkan saya ke luar saja. Saya mikirnya kalau membangun Jakarta sama-sama itu, membolehkan sepeda motor di trotoar apa itu namanya membangun? Terus Tanah Abang yang sekarang sudah kacau lagi.”
Menengok pendapat dan aksi walkout Ananda, bisa ditarik simpulan bahwa yang bersangkutan memiliki sikap politik yang berseberangan paham dengan Anies. Tapi yang menjadi catatan penting adalah bahwa Anies datang ke agenda tersebut atas undangan panitia. Tindakan Ananda yang walk out dari ruangan ketika Anies tengah berbicara, tentu tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
Romo Magnis pun menyatakan sikap. Dikutip dari cnn.com, beliau menyatakan “Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walk out dapat dibenarkan. Tetapi walk out kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik,”
Masih dari laman yang sama, Romo Magnis menilai, sikap yang benar yang seyogyanya ditunjukkan adalah, “Beri dia kesempatan untuk membuktikan diri, kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup, 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies,” katanya. Ia bahkan mencontohkan, seandainya Habib Rizieq Syihab dipilih menjadi Gubernur, Kanisius juga harus dapat hidup dengannya.
Anies Baswedan baru dilantik beberapa bulan. Publik yang terbiasa dengan pola kerja gubernur sebelumnya pun masih tampak beradaptasi dengan kebijakan-kebijakan beliau. Tidak memperpanjang izin operasional gerai pijat dan spa di Hotel Alexis, membolehkan jalan Sudirman-Thamrin untuk kendaraan roda dua, membolehkan area Monumen Nasional untuk kegiatan keagamaan, pembuatan rumah lapis adalah contoh beberapa wacana yang dilontarkan oleh gubernur yang baru ini. Kebijakan tersebut memang dipandang begitu populis, dalam arti sesuai dengan janji-janji kampanyenya. Atas sebab itu, apapun yang dilakukan oleh Anies sebagai gubernur harus didukung sepenuhnya.
Tentu, terpilihnya Anies sebagai gubernur memang jauh dari harapan. Ya, sebenarnya selain karena beliau adalah seorang muslim, maka memilih Anies sebenarnya tidak beralasan sama sekali. Sederhananya adalah, tidak ada alasan memilih Anies Baswedan selain karena ia yang kebetulan seorang muslim. Kemenangan 58% tentu tidak sama sekali signifikan.
Ketika membicarakan Jakarta, maka yang dibutuhkan adalah tenaga pemerintahan profesional. Seorang praktisi yang mampu mengerjakan suatu perkara teknis lebih dibutuhkan untuk membangun Jakarta dibandingkan seorang akademisi teoretis.
Membenahi ibu kota, memang betul perlu perencanaan yang matang. Tapi perencanaan yang berhenti pada tataran wacana benar-benar tidak bermanfaat. Jakarta adalah ibukota negara dan pada saat ini Anies Baswedan adalah orang yang diamanahi untuk mengurusnya.
Maju kotanya, bahagia warganya kan?

Comments