Melawan Hoax

Era millenium ketiga tampaknya merupakan masa ketika terjadi loncatan teknologi besar besaran dalam sejarah peradaban manusia. Teknologi informasi beredar begitu cepat, tanpa batas, tanpa celah. Setiap informasi yang dibutuhkan bisa diperoleh dengan satu klik saja. Bahkan you can control this entire world through your finger. Namun, kemudahan tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat pemahaman penggunanya. Begitu banyak foto foto palsu dibagikan, begitu banyak berita berita bohong diproduksi.Hal yang menjadi pertanyaan adalah, apa sih sebenarnya motivasi terbesar dalam menyebarkan konten provokatif tersebut? Tak habis pikir, memang. Tapi, jika dirunut sedikit demi sedikit, tingkah polah warganet seperti itu disebabkan oleh, salah satu sebabnya, kurangnya minat terhadap bahan bacaan. Sederhananya adalah kurangnya kebiasaan membaca. Ada sebuah dugaan bahwa makna yang diperoleh seorang pembaca di masa kini bergantung pada persepsi awal yang ia miliki. Persepsi itu sudah terbentuk bahkan sebelum bahan bacaan itu dikonsumsi. Kok bisa? Hal ini, balik lagi ke atas, warganet terbiasa membaca sebuah fenomena/peristiwa secara terfragmentasi. Akibatnya adalah akan tercipta missing link jika seluruh artikel tidak dibaca. Nah, warganet bukanlah sekelompok masyarakat yang jauh dari bacaan, melainkan masih kurang cerdas dalam memahami bacaannya secara utuh.
Menengok fenomena tersebut, anak-anak muda yang bergabung dalam Aliansi Pemuda Singkawang menyelenggarakan sebuah diskusi yang bertema Hoax dan Media Sosial. Ini adalah diskusi yang pertama bahkan dibilang satu-satunya yang dilaksanakan di ruang publik. Diskusi dilaksanakan di Warung Kopi Atek 46.
Panitia penyelenggara mengundang tiga orang pemateri. Pemateri pertama adalah Indra Dwi Prasetyo, anak muda Singkawang yang sangat berprestasi yang pada saat ini tengah menyelesaikan masternya di Monash University, Australia. Pemateri kedua adalah Eka Juniawan Gusnardi, M.A., seorang konsultan kebudayaan yang telah menyelesaikan magister antropologi di Universitas Gadjah Mada. Pemateri ketiga adalah Ahmad Sofian, seorang pemerhati sosial yang berkarier sebagai ketua di Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional. Diskusi dipandu oleh Haries Pribady, yakni seorang dosen yang juga gemar membahas isu-isu terkini.
Diskusi berjalan dengan sangat kondusif. Walau dilaksanakan pada malam Minggu, peserta yang datang cukup ramai. Ada delapan komunitas yang ikut berpartisipasi dalam agenda tersebut.
Secara umum, agenda diskusi membahas proses produksi Hoax, bagaimana Hoax dibagikan atau disebarkan, dan bagaimana dampak yang ditimbulkannya. Di akhir diskusi, narasumber memberikan tips-tips yang bisa dilakukan oleh warganet suoaya tidak menjadi pelaku penyebaran Hoax. Diantaranya adalah memahami sebuah informasi secara holistik dan kompresi, mengecek kebenaran atau validitas sebuah informasi sebelum dipercayai atau dibagikan, dan yang paling penting adalah tidak bersikap reaktif dan impulsif pada setiap informasi yang diperoleh.
Menurut Ahmad Maulana alias Bung Oland, Ketua IKBS ( Inspirasi Kreativitas Biak Singkawang) sekaligus penggagas Aliansi Pemuda Singkawang, agenda diskusi yang dilaksanakan oleh Aliansi Pemuda Singkawang ini akan dilaksanakan secara rutin. Tema tema diskusi pada sesi selanjutnya akan dipilih sesuai dengan keadaan terkini, artinya adalah diskusi pada sesi selanjutnya akan mengangkat tema yang kontekstual dan aktual bagi kehidupan anak muda masa kini.
Singkawang, 12 November 2017

Comments