Melawan Hoax (II)

Melawan Hoax (Resume Diskusi bersama Staf Ahli Bappenas)

Sejak terungkapnya kasus Saracen, pemerintah secara serius turun tangan untuk meminimalisasi hoax. Kajian-kajian tentang itu pun digelar dimana-mana. Untuk turut ambil bagian, Forum Muda Progresif (FMP)  yang merupakan wadah bertukar pendapat   dari Alumni FKIP Untan mengadakan sebuah diskusi dengan tema Hoax: Penyebaran, Tujuan, dan Dampaknya. Diskusi ini dilakukan via aplikasi Whatsapp agar bisa mengakomodasi alumni yang sekarang telah tersebar ke pelbagai bagian dunia. Diskusi tentang hoax adalah diskusi pertama yang dilaksanakan oleh FMP dengan tujuan agar meningkatkan daya kritis dan kepekaan terhadap isu sosial yang tengah berkembang. Dipandu oleh Haries Pribady sebagai moderator, penggagas diskusi menghadirkan Sulaiman Sujono. Seorang staf dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Beliau adalah aktivis alumni Fakultas Hukum UI yang pernah mendapatkan Beasiswa Chevening ke Inggris. Berikut adalah ringkasan hasil diskusi tersbut.
“Hoax dalam pandangan saya tidak semata-mata berita bohong atau tidak akurat. Sebuah distorsi atas sebuah fakta akan saya asumsikan sebagai bagian dari hoax dan dengan demikian diasumsikan sebagai sebuah informasi dengan akurasi kebenaran yang rendah. Contohnya yang sering dijadikan lucu-lucuan mungkin terkait dengan fenomena bumi datar. Akan tetapi hoax dan distorsi informasi bisa berakibat jauh lebih besar dengan akibat yang tidak kalah dahsyat. Pada dasarnya, pembentukan hoax bisa terjadi karena ada nilai subjektif yang masuk ke dalam fakta. Selama masih ada manusia, hoax akan terus ada untuk memenuhi kepentingan tertentu.
Salah satu hoax terbesar adalah analisis intelejen mengenai adanya senjata pemusnah massal di Iraq. Bush menyatakan hal tersebut,  diakui Tony Blair dan pemerintah Inffris. Akan tetapi pada awalya laporan tersebut dibantah oleh dinas intelejen Inggris, MI6. Lalu mengapa tetap dianggap sebagai kebenaran?
Di sini hoax mendapatkan sebuah ruang sebagai alat politik, sebagai sebuah senjata. Sebuah laporan berisi plagiarisme sana-sini, copy paste, dengan rujukan yang tidak jelas dijadikan dasar untuk ‘war on terror’  melegitimasi rakyat Amerika untuk menyetujui perang.
Indonesia pun punya hoax. Hoax yang paling terkenal adalah perihal penyiksaan pahlawan revolusi, yang katanya dicungkil matanya, disayat sana-sini, padahal berdasarkan laporan resmi autopsi hal yang demikian tidak terjadi. Lalu, mengapa kita percaya? Hermann Goering menyatakan bahwa “Naturally, the common people don’t want war, but after all it is the leaders of a country who determine the policy, and it is always a simple matter to drag the people along, whether it is a democracy or a fascist dictatorship, or a parliement, or a communist dictatorship. Voice or no voice, the people can always be brought to the bidding of the leaders. That is easy. All you have to do is to tell them they are being attacked, and denounce the pacifists for lack of patriotism and exposting the country to danger. It worls the same in every country.  Terjemahan sederhanya adalah bahwa masyarakat dapat digerakkan dengan mudah, dengan cara mengatakan bahwa apa yang sedang mereka percayai sedang diserang, lalu tuduhlah mereka yang skeptis sebagai lemah, tidak memiliki keyakinan, dan lainnya. Maka dengan itu, masyarakat dapat digerakkan.
Setiap orang memiliki konstruksi kebenarannya sendiri. Konstruksi ini merupakan dasar pemikiran setiap orang. Tidak salah memiliki hal ini, akan tetapi menjadi masalah ketika konstruksi ini dipegang teguh membabi buta. Ketika dipegang dengan membabi buta, maka kita akan terbuka terhadap manipulasi dan hal ini sangat berbahaya. Mengapa? Karena logika akan ditinggalkan dan kebohongan apapun akan dianggap sebagao kebenaran yang valid. Dalam ranah hukum, pelaku hoax sebenarnya tidak berada dalam posisi aman. Penyebar hoax bisa dikenakan pasal 28 ayat 1 UU ITE atau pasal 390 KUHP.
Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melawan hoax adalah kritis terhadap semua berita, pertanyakan semua informasi yang ada. Lebih-lebih lagi jika informasi tersebut berasal dari sumber yang tidak bisa dilacak. Selanjutnya adalah tidak menyebarkan informasi apapun yang akurasinya rendah. Dalam hal ini, melakukan pesan siar (broadcasting)  tanpa mncantumkan nama penulisnya adalah hal yang keliru. Biaskaan mencantumkan nama dan darimana informasi itu diperoleh ketika meneruskan pesan siar.
 *Diskusi dilakukan pada 18 Oktober 2017

Comments