Mampir


Bram menyulut ujung rokonya Marlborronya dengan pemantik. Cklik, dua tiga kali hingga ujungnya terbakar dan asap mengepul dari dalam kerongkongan, terembus lewat ujung bibir. Bram mengisapnya dalam-dalam, merenungkan perilaku manusia abad 21 begitu akrab dengan peribahasa “anjng menggonggong kafilah berlalu.” Begitu akrabnya sehingga selalu merasa dirinya adalah kafilah dan orang lain yang ada di sekelilingnya adalah anjing.  
Sebagai manusia-manusia yang menggemari kebebasan (bahkan kebebasan itu diagungkan oleh semua golongan, dari sekularis hingga agamis), Bram tentu tidak bisa melepaskan diri dari manusia lain. Hidup di bumi adalah sebuah kongsi, tidak ada lahan yang bisa dimonopoli sendiri.  Ketika berjalan ke depan, selalu ada manusia lain yang berada di samping kiri-kanan, belakang, bahkan depan. Dengan peribahasa di atas,   selalu merasa bahwa setiap tindak tanduk   diperhatikan dan dianggap penting oleh orang lain. Sehingga tanpa sadar, perilaku merasa diri menjadi berlebihan.
“Ah, gerah betul siang ini.” Bram membuka dua kancing bajunya, merapikan kembali kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Siang itu Bram tidak hadir di mata kuliah Kajian Prosa. Sejenak berhenti dari kelas yang pengap, Bram pulang ke kosnya. Duduk di kursi kayu satu-satunya, menatap jendela yang menghadap jejeran tali jemuran tempat mahasiswa-mahasiswa cowok penghuni kost tanpa segan-segan menggantung kolornya. Tangannya bergerak di atas tuts, meluangkan semua perkara yang sempat mampir di kepalanya.
Bagi Bram, semua yang dilakukan, diucapkan, bahkan dipikirkan oleh seseorang, selalu diukur dengan standar-standar yang dimiliki orang lain. Wah, itu sudah benar kah? Memang betul, dalam perkongsian ada nilai dan norma yang harus ditaati sebab pada awalnya telah disepakati sebagai norma. Misalnya tak layak berhubungan badan dengan perempuan yang sudah bersuami.  Namun ada hal yang perlu diingat, apakah   memang sedang diperhatikan dan dianggap penting oleh orang lain? Belum tentu! Merasa diperhatikan dan dianggap penting adalah penyakit paling berbahaya. Ada hal yang perlu diingat, orang yang tak pernah memerhatikan semesta tak akan semesta perhatikan. Orang yang tak pernah menganggap semesta adalah hal yang penting akan tak dianggap penting oleh semesta. Intinya adalah kepedulian pada lingkungan.
Memahami “anjing menggonggong kafilah berlalu” memerlukan pemikiran yang tidak sederhana. Jangan sampai  manusia abad 21, salah merasa. Atau jangan-jangan  memang tak pandai merasa? Guru alam semesta telah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang mesti diolah agar mencapai nirwana, kecerahan sejati. Tak perlu mengerjakan hal-hal yang berat di luar kemampuan manusia awam, cukuplah dengan melakukan triolah: olah rasa, olah daya pikir, dan olah karsa. Satu hal yang hendak aku soroti, menurut Bram, yakni olah rasa.  Sebelum berjalan lebih jauh dan memegang lebih erat, apa itu rasa? Para guru yang lain telah banyak mendefinisikan rasa, namun kuakan berikan sedikit yang berbeda. Bagiku, laki-laki muda yang berhasrat tinggi untuk kawin namun belum kesampaian hingga saat ini, rasa adalah soal perangsang, terangsang, dan rangsangan. Terdengar mesum dan aneh ya? Ya, tak masalah. Kehadiran manusia dengan jumlahnya yang mebludak di muka bumi, tak lain hanya sebab kemesuman manusia yang tak apik menahan nafsu birahinya untuk segera menautkan lingga pada setiap yoni yang ditemuinya.
Rasa berkaitan dengan perangsang, terangsang, dan rangsangan. Rasa ada di permukaan, bukan sesuatu yang ada dalam diri manusia. Rasa itu tampak, rasa itu terwujud, rasa itu terejawantah lewat perilaku, perkataan, dan pikiran. Perlu dipahami bersama, semesta yang mahaluas adalah perangsang yang sengaja diciptakan Sang Hyang Agung untuk mengajari manusia. Mengajari manusia bahwa ada sesuatu di luar dirinya, sesuatu yang intransenden dan transenden, sesuatu yang material dan immaterial. Perangsang itu diciptakan agar manusia bisa memahami hakikat keberadaannya di alam semesta, sebagai abdi dan raja sekaligus yang terdapat dalam satu jiwa dan raga. Abdi pada ketentuan semesta dan raja bagi dirinya sendiri.
Tuhan Yang Mahabaik, Yang Mahakudus yang penuh dengan kesucian dan keagungan, selain menciptakan perangsang yang luar biasa dan apik, juga menciptakan dan melekatkan indra-indra yang bisa digunakan untuk memahami perangsang tersebut. Dalam ungkapan yang lain, perangsang itu akan menjadi rangsangan dengan kehadiran indra-indra yang ada dalam diri setiap manusia. Perangsang yang masuk melalui indra akan berubah menjadi rangsangan yang diwujudkan melalui gejala terangsang. Rasa adalah ketiganya, kemampuan memahami dan memeroleh perangsang, rasa adalah kemampuan menimbulkan rangsangan, rasa adalah kemampuan menunjukkan gejala terangsang.
Agar pandai merasa dan bisa merasa dengan tepat, manusia perlu memahami ketiganya. Ya, memahami ketiganya. Tentu, kemampuan memahami ketiga hal tersebut  ikut dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki dan kebiasaan yang selalu dilakukan.  Benar kah   sudah cakap memahami “anjing menggonggong kafilah berlalu”  dengan rasa yang sesungguhnya? Ingat, dalam pembahasan ini tidak ada rasa strawberry, pisang, atau apel. 
Rokok Bram habis, puntungnya ditekan-tekan ke asbak logam hingga baranya padam.


Pontianak, 2 April 2015

Comments